Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 02 Agustus 2012

Ada Penampakan di Tungku Dapur Itu


Hari ini saya mau ikutan giveaway lagi ah. Mau ikutan meramaikan hajatan emak Winda Krisnadefa yang katanya sih tanggal 4 Agustus ini mau ultah yang ke 25 tahun. Caranya mudah kok, hanya menulis cerita tentang kenangan masa kecil kita. Nah berhubung yang lain banyak bercerita tentang pengalaman masa kecil mereka yang lucu dan penuh keceriaan. Sekarang saya mau cerita kenangan masa kecil yang menyeramkan aja ah.

Sebelum saya bercerita tentang pengalaman horor tersebut, saya akan bertanya dulu kepada anda, khususnya emak-emak yang sudah mempunyai anak. Apa kira-kira jawaban anak anda ketika mereka anda larang bermain di sungai dengan alasan sungai tersebut ada siluman buayanya?. Atau apa yang terjadi jika anda melarang mereka berkeliaran di luar rumah saat menjelang maghrib tiba dan berdalih jika itu adalah jam beroperasinya Wewe Gombel saat mencari mangsa?. Hmm. saya kira jika anda nekat melakukan hal itu pada anak anda, bukan ketakutan yang nantinya akan mereka dapatkan, tapi sebaliknya mereka akan salto ngakak guling-guling menertawakan larangan anda. Yah, di jaman modern seperti ini mana ada anak kecil yang percaya klenik dan sebangsanya. Lah wong hantunya saja sekarang sudah banyak yang jadi bintang di film-film nasional hahaha.

Saat kecil dulu ada sebuah mitos yang beredar jika barangsiapa berani tidur di depan tungku dapur sambil berbantalkan sapu lidi, besar kemungkinan setelah dia bangun akan menjumpai sebuah penampakan di tungku dapur tersebut. Nah mitos itulah yang dulu saya alami ketika masih kecil. Sebuah pengalaman yang hingga detik ini saya masih mengingat secara detail dalam otak saya.

Saya tak ingat tahun berapa tepatnya saat pengalaman itu terjadi. Seingat saya ketika itu adalah masa-masa awal saya memasuki bangku sekolah dasar. Ceritanya saat itu saya baru saja pulang dari sekolah. Karena merasa kepayahan saya  mencoba tidur-tiduran di sebuah balai bambu yang terletak di depan tungku dapur. Tanpa melepaskan seragam sekolah saya pun mulai memejamkan mata di balai bambu itu. Agar nyaman kemudian saya sandarkan kepala ke sebuah sapu ijuk kecil yang biasanya digunakan untuk membersihkan debu balai bambu itu. Lumayan empuk, begitulah pikiran saya saat itu. Balai bambu dan bantal sapu ijuk itupun akhirnya sukses membujuk saya menuju alam pikiran bawah sadar.

Tak seberapa lama kemudian saya pun terjaga dari tidur saya karena mendengar sebuah panggilan dari ruang tamu di depan.

 "Le, tolong mrene'o diluk", kata suara tersebut.

Saya pun menyahut dengan berteriak "dalem" dan menuju ruang tamu asal panggilan itu.

"Tolong njupukno penebah nang pawon yo", pinta embah kepada saya.

Saya tak menjawab dan hanya mengangguk mengiyakan perintah wanita yang akrab saya panggil Emak itu. Segera saya pun bergegas kembali menuju balai bambu tempat saya tidur tadi. Pada awalnya saya masih merasa wajar-wajar saja kondisi dapur yang tadi telah saya tiduri itu. Namun saat selang beberapa detik saya mengambil sapu lidi dan membalikkan tubuh saya ke arah tungku dapur itu, akhirnya saya tahu ada sesuatu yang  saat itu tengah memperhatikan saya.

Sejenak jantung saya terhentak dengan begitu kuat. Nyaris saat itu saya tak bisa bersuara. Hanya bisa terpaku menatap sebuah penampakan yang ada di depan saya. Sebuah mahluk yang hingga detik ini baru sekali itu saya jumpai. Jika saya deskripsikan mahluk itu lebih mirip dengan muka leak yang sering kita lihat di kaos-kaos Bali. Muka merah, berambut panjang, lengkap dengan sepasang taring dan mata yang melotot ke arah saya. Bentuk tubuh mahluk itu jika diamati tak ubahnya seperti sublukan. Tanpa tangan kaki dan nangkring bak sublukan di atas sebuah tungku dapur.

Setelah sekian detik lamanya saya beradu pandang dengan mahluk itu, akhirnya saya pun sadar jika itu adalah nyata, bukan halusinasi semata. LARI, itulah yang ada dalam pikiran saya selanjutnya. Yah, saya harus segera kabur dari dapur itu. Melupakan sapu lidi, pergi dari mahluk itu, lari dan terus berlari menuju ruang tamu tempat Emak saya tadi.

Sampai di ruang tamu saya masih tak bisa berkata-kata. Yang bisa saya lakukan hanya mengeluarkan sebuah kalimat tak jelas sambil menunjuk ke arah dapur.


"Buuu..Buuu..Buuu", itulah ucapan tak jelas yang bisa saya keluarkan sesampai di depan Emak.

Emak pun akhirnya memberi sebuah pukulan ringan di punggung saya. Hingga akhirnya saya pun bisa berteriak lepas.

"Buthoooooo...!"

Sebuah teriakan lepas yang akhirnya disusul pula tangisan saya di pelukan Emak. Emak kemudian menuju dapur dan mengambil air minum untuk diberikan kepada saya. Beliau pun kemudian membujuk saya untuk kembali ke dapur dan menunjukkan tempat mahluk tadi. Awalnya saya ngotot tak mau, tapi karena diantar emak akhirnya saya pun menyanggupi untuk kembali menuju dapur itu. Lantas apa yang terjadi disana? Hmm aneh bin ajaib. Tiada satu pun mahluk menyeramkan di dapur itu. Yang ada hanya sebuah balai bambu di depan tungku dapur yang masih nampak hembusan asapnya Seakan mereka tengah menertawakan diri saya yang baru saja berlarian bak pelari juara dunia.

Itulah pengalaman horor yang pernah saya alami ketika masih kecil dulu. Sebuah peristiwa yang sempat membuat saya selama beberapa tahun kemtdian trauma saat di dapur sendirian. Dan lucunya  justru tungku dapur tempat penampakan itu sekarang telah berubah menjadi kamar yang saya tiduri setiap hari.. Hiiiiii....




Note Translate Boso Jowo : arahkan mouse untuk melihat terjemahannya

Le, tolong mrene'o diluk
Boy, tolong kesini sebentar

Tolong njupukno penebah nang pawon yo
Tolong ambilkan sapu lidi kecil di dapur ya

Sublukan
Dandang tempat memasak nasi

Butho
Raksasa menyeramkan