Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 31 Agustus 2012

Aksi Min Reaksi


Melanjutkan posting terdahulu yang berjudul "Living with Animal? Why not...?", sekarang saya akan kembali bercerita soal perikehidupan satwa yang ada di rumah saya.  Ceritanya setelah beberapa hari lalu usai saya menulis artikel untuk meramaikan ultah Maru Bunny, esoknya saya kedatangan  "tamu istimewa" di rumah. Seekor kucing kecil tiba-tiba saja datang meminta suaka kepada keluarga saya. Thomas, itulah nama yang kemudian saya berikan kepada kucing kecil lucu itu.

Dengan datangnya Thomas berarti  penghuni panti suaka kucing di rumah saya sekarang berjumlah 5 ekor. Setelah sebelumnya ada seekor kucing betina dewasa bernama Melly yang mempunyai dua ekor anak bernama Roy dan Rio. Dan satunya lagi adalah seeekor kucing yang doyan memamah plastik kresek yang dinamai Amira.

Hadirnya si mungil Thomas tentu saja memberikan sebuah warna keceriaan baru dalam keluarga saya. Namun tidak halnya dengan kucing-kucing saya yang lainnya. Dengan adanya Thomas di tengah mereka, nampak terjadi  sebuah perubahan sikap pada mereka. Seakan terjadi sebuah kesenjangan sosial pada kucing-kucing itu. Empat ekor kucing yang awalnya begitu manja, sekarang terlihat nampak acuh tak acuh dengan panggilan ibu saya. Demikian pula halnya saat jam makan, empat ekor kucing itu nampak tak berselera dan meninggalkan begitu saja jatah makannya apabila ada Thomas di tengah-tengah mereka. Hmm, seakan kucing-kucing saya tengah melakukan protes jika Thomas telah merenggut kasih sayang keluarga saya dari tangan mereka hehe.

Lain rumah lain pula cerita di tempat kerja saya. Di warnet saya mempunyai seorang pelanggan yang mempunyai sifat temperamental. Sedikit saja ada gangguan pada saat dia ngenet, berbagai macam "kosakata aduhai" pun muncul dari mulutnya. Saat komputer tiba-tiba ngadat, dia pun spontan meneriaki dengan kata-kata bangsat. Ketika bandwith tiba-tiba turun drastis, dia pun suka obral kata-kata kotor dengan bombastis.

Sebenarnya pelanggan tersebut adalah teman baik saya. Makanya saya maklum dan memilih diam manakala mendengar sumpah serapah mulai keluar dari mulutnya. Namun tak jarang pula saya menyahuti umpatan pelanggan tersebut dan menyarankan untuk membanting komputernya di luar warnet sekaligus menotal semua kerugiannya.

Solusi seringkali saya berikan kepada pelanggan tersebut dengan menyarankan agar dia pindah ke komputer lain yang saya anggap paling ciamik di warnet saya.  Tapi hal yang aneh justru terjadi  saat dia pindah ke komputer lainnya. Yah, komputer itu terlihat ngadat pula saat pelanggan itu memakainya. Seakan komputer yang masih gres itu melakukan aksi mogok kerja sebagai wujud solidaritas karena komputer-komputer lain yang diperlakukan dengan cara tak patut oleh pelanggan tersebut.

Dulur blogger, dalam kehidupan kita kenal sebuah hukum aksi min reaksi, sebuah hukum yang menyatakan jika dalam setiap aksi yang kita lakukan niscaya akan timbul pula sebuah reaksi yang akan kita dapatkan. Empat ekor kucing yang awalnya nampak begitu manja  sekarang nampak merajuk karena keluarga saya lebih memperhatikan kucing baru bernama Thomas. Demikan halnya dengan yang terjadi di warnet saya, sebuah benda mati bernama komputer pun seakan enggan pula bekerjasama ketika dipakai seorang pelanggan yang begitu kasar saat memakainya. Yah, benda mati dan satwa yang hanya mengandalkan naluri ternyata mengeluarkan reaksi pula saat kita melakukan aksi. Lantas bagaimana halnya jika aksi itu kita berikan kepada manusia?

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat kita pun mengenal sebuah prinsip memberi dan menerima. Jika kita baik, insya ALLAH hal baik  akan kembali pula terhadap diri kita. Sebaliknya, jangan penah mencubit jika tahu saat dicubit itu terasa sakit. Yah, jika hal buruk yang kita lakukan, niscaya keburukan pula yang kita dapatkan. Baik dan buruk itu semua tergantung pada diri kita sendiri sebagai pelakunya. Setiap reaksi yang kita terima semua tergantung pada saat kita melabeli setiap aksi kita. Cap baik atau buruk, semua terserah kita sebagai pemberi labelnya.

Lantas bagaimana halnya jika kita merasa selalu berbuat baik, tapi justru hal buruk yang acapkali kita terima?. Hmmm. saya rasa hidup kita hanya sekali. Jadi apa salahnya jika kita selalu berbuat baik dalam hidup yang sekejap ini?. Seorang dermawan tentu saja tak akan pernah peduli seberapa banyak laba duniawi yang dia terima ketika memberi. Bukan pula reaksi kebaikan balik atau sebuah pujian dari makhluk TUHAN bernama insan. Tapi hanya sebuah ucapan selamat datang yang ia dambakan. Yah, sebuah ucapan selamat datang dan senyum simpul menawan dari makhluk TUHAN lainnya yang bernama Ridwan.