Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 13 Agustus 2012

Living with Animal? Why not...?


Andai saja rumah saya diibaratkan sebagai negara, mungkin saya akan menyebutnya Australia. Sebuah negara yang begitu empuk dijadikan sasaran pelarian bagi para pencari suaka. Pencari suaka yang saya maksud di sini bukanlah pencari suaka layaknya imigran asal Afghanistan, tapi hanya sekumpulan kucing kampung yang mencoba mencari suaka di rumah saya karena alasan kelaparan.

Tak pernah ada niatan dari keluarga saya untuk memelihara kucing -kucing itu dari kecil. Kucing-kucing yang ada sekarang sebenarnya adalah kucing liar kelaparan yang oleh ibu saya selalu dijatah makan. Atau kucing tetangga yang kurang mendapat perhatian empunya, hingga akhirnya mereka pun betah dan beranak pinak di rumah saya.

Seperti lazimnya pecinta satwa, kucing-kucing itu pun kemudian diberi nama. Betty, Ajay, Chatrine, Gembhul, itulah sederet nama dari beberapa kucing yang pernah menjadi bagian dari keluarga saya. Berbagai tingkah polah lucu coba mereka tawarkan tuk mengisi hari-hari kami. Ada seekor kucing bernama Roy yang doyan memanjat pohon tinggi layaknya kera. Ada pula Amira, seekor kucing betina yang doyan memamah plastik kresek. Hmm benar-benar kucingnya pencinta alam, begitu pikir saya hahaha. Yah, mereka datang entah dari mana, beranak pinak lalu mati dan mengisi tempat pemakaman umum khusus kucing di pekarangan kami. Itulah yang terus terjadi dalam setiap tahunnya. Ada yang datang ada pula yang pergi.


Ibu saya adalah seorang yang begitu menyayangi dan protektif terhadap satwa yang satu ini. Jika dalam sehari saja ada salah satu kucingnya yang tak pulang ke rumah itu berarti status siaga satu buat adik-adik pencinta alam saya. Yah, layaknya anggota tim SAR adik-adik saya harus segera bergerak mencari ke setiap penjuru kampung dan menemukan kucing itu dalam secepatnya. Bahkan saya sempat berpikir andai saja saya yang hilang, apakah adik-adik saya akan kebingungan mencari saya seperti halnya ketika kucing itu hilang hehehe.

Sama halnya seperti ibu, bapak pun terlihat begitu protektif terhadap kucingnya. Pernah di suatu hari ketika bapak saya istirahat tidur di siang hari. Tiba-tiba saja dia terbangun karena mendengar teriakan ibu dari samphng rumah.

"Pak..pak Ajay digeluti Fuad..!", teriak ibu.

Spontan bapak pun bangkit dari tidur sembari membawa sapu lidi kecil. Seperti kesetanan, bapak kemudian mengejar Fuad yang telah berani mengganggu kucing kami yang bernama Ajay tadi. Fuad kalap, dia pun lalu kabur menuju pemukiman di belakang rumah. Bapak pun terus mengejar si Fuad, hingga akhirnya ada seorang tetangga yang bertanya pada bapak saya.

"Lagi mencari siapa nak", kata pak Amin, tetangga yang kebetulan dulu adalah guru ngaji saya.

"Ini saya lagi nyari Fuad pak", jawab bapak saya dan masih tak menyadari jika tangannya masih memegang sapu lidi.

"Loh itu Fuad ada di kamar lagi tidur", sahut pak Amin.

Sejenak bapak pun berpikir jika ada sesuatu yang tak beres dengan jawaban pak Amin tersebut. Akhirnya bapak pun pulang. Pulang dengan membawa misi gagal, karena buronan bernama Fuad tak bisa beliau temukan. Sesampai di rumah bapak pun menceritakan percakapannya dengan pak Amin tadi kepada ibu. Sebuah cerita yang spontan membuat riuh gelak tawa seisi rumah. Betapa tidak, ternyata nama cucu lelaki pak Amin memiliki kesamaan dengan kucing yang sedang diburu bapak. FUAD..! Yah sebuah nama yang andai saja bapak nekat menerobos ke kamar itu, mungkin yang terjadi selanjutnya adalah jerit kesakitan manusia yang terdengar di dalamnya hahaha.

Itulah beberapa cerita penuh gelak tawa yang terjadi dalam keluarga saya. Sebuah cerita  akibat polah dari satwa-satwa lucu itu. Satwa-satwa yang tak hanya sekedar memberikan kita sebuah nuansa keceriaan, tapi juga mengajarkan kita kasih sayang dengan sesama makhluk TUHAN.

Kucing-kucing itu  juga mengajari kita tentang arti dari hidup berbagi. Seakan mereka mengganggu kita yang tengah asyik makan, tapi sejatinya mereka tengah memberi pesan moral pada kita semua. Yah, seolah mereka mengingatkan kita semua jika saat perut kita kekenyangan, masih ada orang lain yang saat itu kelaparan.

Dulur blogger, jika saja mbak Sarry sekeluarga menjadikan satwa sebagai bagian dari hari-harinya, saya rasa itu sebagai salah satu bukti jika manusia dan satwa bisa saling hidup berdampingan. Semoga saja kita bisa pula memberikan sebuah wujud kecintaan kita terhadap satwa seperti keluarga Maru Bunny. Tak harus menjadi seperti keluarga Maru Bunny, tapi cobalah berikan kasih sayangmu agar kelak satwa tak hanya sebatas menjadi sebuah sketsa bagi anak cucumu.

Heppy Birthday Mary Bunny..!