Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 11 September 2012

Jangan Nunggu The Power of Kepepet


Belakangan ini Indonesia seringkali digoyang oleh gempa. Seperti halnya seminggu kemarin sebuah gempa berskala 6,5 richter telah mengguncang ujung paling timur  pulau Jawa. Tepatnya di 301 kilometer barat daya dari kota Banyuwangi. 

Jember yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Banyuwangi juga ikut merasakan betapa lumayannya goyangan si Nona Richter kala itu. Gempa itu terjadi kira-kira jam setengah dua dini hari.  Ketika saya baru saja usai melakukan aktifitas dari kantor satpam dunia maya.  Seingat saya saat itu  baru saja saya masuk ke dalam rumah.  Beberapa menit setelah menghidupkan laptop di dalam kamar, tiba-tiba saja saya mendengar sebuah suara khas muncul dari atap rumah. Semacam bunyi gemeretak yang menandakan ada sebuah goncangan  yang terjadi dari dalam perut bumi ini alias gempa.

Awalnya saya bersikap  tenang dengan gempa tersebut. Namun tak seberapa lama kemudian terjadi sebuah gempa susulan yang goncangannya dua kali lebih besar dari gempa pertama. Seketika saya bangkit dan keluar dari kamar. Suasana serasa semakin mencekam sebab sepersekian detik kemudian aliran listrik tiba-tiba menjadi padam. Sayup-sayup saya pun mendengar suara beberapa  tetangga yang berteriak dari luar sana. Yah, seperti halnya saya, mereka mungkin merasakan kondisi panik pula akibat gempa yang terjadi di saat mereka tengah asyik melenakan mata. Namun tidak halnya dengan anggota keluarga saya.  Mereka nyaris tak bergeming dari peraduannya dan seakan tidak merasakan jika saat itu sedang terjadi sebuah akrobatik dari sang alam.

Akhirnya malam itu saya putuskan untuk berjaga dan waspada sebab saya khawatir  gempa susulan  akan terjadi kembali. Maklum, selain khawatir dengan keselamatan orang rumah,  jam dua dini hari adalah waktu yang masih sore tentunya bagi seorang manusia nokturnal seperti saya. Alhamdulillah, gempa susulan ternyata tak muncul lagi. Meski semua itu harus dibayar dengan meleknya mata saya hingga bablas sore hari. Namun saya bersyukur setidaknya hingga sekarang ini masih diberi kesempatan untuk ngeblog dan bisa menceritakan perihal gempa bumi yang seminggu kemarin saya alami.

Peristiwa gempa dini hari itu ternyata memberi sedikit efek trauma bagi diri saya. Cerita ini terjadi tiga hari yang lalu. Saat saya tengah asyiknya melukis ulas bantal kesayangan  dengan  gugusan zamrud khatulistiwa yang indah menawan. Tiba-tiba saya terjaga karena merasakan ada sesuatu yang mengoyang kasur yang saya tiduri.  Gempa ! itulah yang ada dalam pikiran saya. Satu file yang seakan langsung terscan kedalam memori yang saat itu masih dalam proses loading awal usai terjaga dari tidurnya.

Seketika saya pun bangkit dari tempat tidur, lalu lari dan meloncati sebuah papan seukuran dada yang menghalang pintu kamar saya. Yah, sebuah papan yang biasa saya pasang  sebagai penghalang agar kucing-kucing saya tak masuk ke dalam kamar. Meski sempat menyenggol dan membuat amburadul seperangkat komputer di kamar, tapi saya akhirnya sukses meloncat melewati papan penutup pintu kamar itu. Lalu berlari menuju dapur yang saya anggap sebagai zona aman dan paling dekat menuju pintu keluar.

Sampai di dapur saya mendapati ibu yang nampak asyik mengaduk secangkir kopi. Beliau terkejut dan heran melihat saya yang nampak kesetanan.

"Ono opo?", tanya beliau keheranan.

"Lindu", jawab saya singkat.

"Endi ono lindu?", sahut ibu saya.

Akhirnya saya pun sadar jika saat itu saya sedang menggigau alias ngelindur. Sebuah kejadian unik yang akhirnya mengundang sorak sorai seisi rumah dan tentu saja membuat saya tak berselera lagi untuk melanjutkan tidur pagi itu.

Dari kejadian itu saya menarik kesimpulan jika pada dasarnya masing-masing orang memiliki sebuah potensi terpendam yang tak ia sadari. Sebuah kekuatan yang tiba-tiba muncul pada saat dia terdesak alias kepepet. Seperti halnya yang terjadi pada kejadian saya tadi. Yah, mungkin saja dalam kondisi normal dan sadar saya merasa tak akan pernah mampu meloncati papan penutup pintu kamar itu. Tapi lihatlah saat kondisi kepepet. Wow, ternyata saya dengan mudah meloncatinya bak atlet.

Lantas bagaimana halnya dengan anda?. Hmmm saya rasa masing-masing dari diri kita tentunya memiliki sebuah potensi yang selama ini masih belum kita sadari. Sebuah potensi yang mungkin karena alasan belum kepepet kita pun merasa enggan dan malas untuk menggali. Karena merasa tak berbakat kita lantas enggan berbuat. Merasa tidak fasih kita pun malas untuk berlatih. Padahal jika kita mau belajar dan berusaha barulah akan kentara semua potensi yang ada pada diri kita.

Dulur Blogger, Yuk kita sama-sama menggali semua potensi yang ada pada diri kita tanpa harus menunggu kondisi kepepet. Sebab segala sesuatu yang dikerjakan dengan tergesa-gesa mungkin saja hasilnya tak akan sesempurna sebuah pekerjaan yang dilakukan melalui  proses belajar dan latihan.


sumber gambar : godissues.org