Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 15 September 2012

Perkenalkan, Saya Mahasiswa Universitas Dunia Maya


Pagi itu menjadi hari yang penuh kehebohan bagi kelas 3M2. Kelas yang oleh para guru disebut-sebut sebagai sarangnya siswa-siswa nakal, tiba-tiba saja berubah menjadi sebuah kelas yang begitu fenomenal. Biang kehebohan itu datang dari sebuah pengumuman yang mengatakan jika dari kelas yang seluruhnya dihuni siswa lelaki itu muncul dua orang siswa yang berhasil masuk di daftar sepuluh besar peraih NEM terbaik di sekolah tersebut.

Sebuah kabar membanggakan tentunya bagi anak-anak kelas jurusan Mekanisasi Pertanian tersebut. Sebuah tekad dan kegigihan mereka untuk bangkit di catur wulan terakhir, ternyata sekarang telah membuahkan hasil. Kelas yang dulunya hanya dianggap sebagai kelasnya para pecundang, diluar dugaan ternyata sekarang justru bisa membalikkan keadaan lewat sebuah prestasi gemilang.

Seperti halnya teman-teman, saya pun merasa bangga dengan prestasi yang diraih kelas saya tersebut. Namun rasanya saya tidak percaya manakala melihat langsung pengumuman yang saat itu ditempel di mading siswa. Betapa tidak, rasanya baru beberapa bulan kemarin orang tua saya mendapat surat panggilan sekolah karena anaknya telah berulah. Sekarang justru tiba-tiba seolah ada sebuah keajaiban ketika saya memeriksa satu persatu nama yang ada kertas pengumuman itu. Yah, tanpa pernah diduga sebelumnya nama saya ternyata ada di urutan nomer dua paling atas dari ratusan siswa yang tercantum di dalamnya.

Menduduki posisi tiga besar itu berarti saya berhak memperoleh "jatah" spesial dari sekolah. Sebuah jatah semacam "surat sakti" yang diberikan sekolah untuk merekomendasikan murid-muridnya yang berprestasi apabila meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. IPB Bogor ! itulah peluang yang saat itu coba ditawarkan kepada saya. Sebuah peluang yang seketika itu juga saya muntahkan, karena saya sangat tahu dan paham dengan kondisi ekonomi keluarga saya kala itu. Ada sedikit kecewa yang saya rasakan. Sempat pula saya berangan jika  saja diri ini terlahir dari keluarga super mapan pastilah  peluang itu akan menjadi sebuah kenyataan. Tapi akhirnya saya pun sadar dan nrimo jika takdir hidup saya bukanlah menjadi seorang anak kuliahan.

4 tahun kemudian keinginan untuk kuliah tiba-tiba muncul kembali dalam hati saya. Semua bermula ketika saya mengenal sebuah dunia bernama pencinta alam. Masa-masa dimana saya  begitu getolnya belajar tentang pengetahuan keorganisasian dari teman-teman pencinta alam di kampus Universitas Jember. Salah satunya adalah Swapenka Fakultas Sastra Unej, organisasi pencinta alamnya Masbro dan Apikecil. Dari sekretariat-sekretariat pencinta alam itulah sedikit banyak saya cicipi aroma layaknya seorang anak kuliahan.  Kebiasaan berinteraksi dengan teman-teman kampus itulah yang akhirnya membuat saya kesengsem kembali dengan sebuah kata bernama "mahasiswa".  Yah, saat itu saya pun ingin kembali menjadi seorang anak kuliahan.

Komputer, itulah jurusan yang saat itu menjadi pilihan jika saya nanti jadi melanjutkan ke bangku kuliahan. Saat itu saya yakin jika kelak ada sesuatu yang bisa saya peroleh dari situ. Di suatu hari saya pun mencoba mengutarakan uneg-uneg tersebut kepada ibu. Namun, untuk kedua kali saya harus kembali  menerima kenyataan jika kuliah tak akan pernah ada dalam sejarah hidup. Ekonomi, lagi-lagi hal itu yang menjadi sumber masalahnya. Yah, saya harus mengalah kepada adik perempuan  yang saat itu juga butuh biaya untuk sekolah. Sejak saat itulah saya pun mengubur dalam-dalam keinginan  akan kuliah. Tidak akan ada yang berubah dalam status saya. Masih saja seperti kemarin dan hingga hari ini. Saya hanyalah seorang anak kampung, bukanlah anak kampus.

Gagal kuliah bukan berarti pula keinginan saya untuk belajar komputer kehilangan gairah. Saya bertekad dengan cara apapun untuk belajar memahami piranti canggih itu.  Apalagi sejak saya mengenal dunia internet, gairah belajar saya pun semakin menjadi-jadi. Seingat saya itulah masa yang penuh perjuangan bagi diri saya. Namun jika saya kenang saat sekarang ini, saat itulah saya tahu jika  ALLAH ternyata telah memberi sebuah penggalan cerita yang begitu indah dalam perjalanan hidup saya.

25 kilometer, itulah jarak yang harus ditempuh jika saya ingin mendapatkan paket sewa internet murah semalam penuh. Berpancal ria menuju warnet di pusat kota saat tengah malam menjelang tiba.Jika beruntung saya pun bisa belajar internet dengan cuma-cuma dari komputer teman-teman kampus yang mengandalkan wifi gratisan.  Satu setengah jam perjalanan itu biasa saya lakukan sembari berangan-angan untuk melupakan otot-otot betis yang mulai menegang.

"Andai saja saya punya komputer lengkap dengan internetnya, mungkin saya bisa lebih banyak belajar dan mengambil manfaat di dalamnya".

Itulah angan-angan yang dulu sering menjadi teman saya ketika mengayuh batang pedal sepeda secara perlahan-lahan. Angan-angan yang akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Doa itu ternyata kini telah menjadi sebuah realita. Sebuah pengalaman yang akhirnya membuat saya sadar jika ternyata kesulitan yang dulu saya dapatkan itu hanyalah sebatas ujian sebelum mengecap legitnya sebuah kebahagiaan.

Komputer dan internet yang dulu menjadi barang langka, sekarang justru seolah telah menjadi pacar bagi saya. Dunia maya tak ubahnya bak sisi kehidupan saya yang lain selain dunia nyata. Menjadi tempat saya untuk belajar, berkarya sekaligus mengais rejeki di dalamnya.

Saya akui jika saya masih belum bisa dikatakan sebagai seorang lelaki mapan. Saya hanyalah seorang kuli jaga di sebuah warnet pinggiran.  Namun Alhamdulillah saya sudah merasa cukup bahagia dengan kadar yang tak bisa saya uraikan. Bagaimana saya tidak merasa bahagia, jika ternyata banyak hal yang bisa saya lakukan lewat pekerjaan ini?. Tak hanya sebatas materi. Bukan pula soal sen demi sen dollar yang akhirnya bisa membuat kamar saya bisa terfasilitasi internet nonstop 24 jam. Namun lewat pekerjaan ini saya pun bisa sedikit memberikan sebuah urun karya  melalui tulisan di dunia maya.

Lantas apakah saya sudah melupakan keinginan saya menjadi seorang anak kuliahan?  Hehehe, saya pikir justru sekarang saya telah menjadi seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa luar biasa yang kuliah pada sebuah universitas bernama dunia maya. Tak perlu khawatir akan salah jurusan, karena saya bebas memilih mata kuliah yang pas dengan kadar kemampuan otak saya. Tak perlu gelisah diburu waktu karena deadline skripsi sudah diambang pintu. Tak harus  ribet dengan birokrasi dosen apabila kita memerlukannya. Yah, dosen saya adalah dosen yang paling canggih di dunia. Mr. Google yang selalu siaga 24 jam penuh apabila kita membutuhkannya. Bahkan jika mau saya pun bisa  memarahi dan memprotesnya apabila  materi yang dia berikan tak sejalan dengan apa yang saya inginkan. Tak perlu toga, ijasah ataupun gelar strata, karena ijasahnya cukup tersimpan di dalam memori kepala dan gelar itu berlaku selama usia dan internet masih ada di dunia. Itulah salah satu hikmah menjadi seorang satpam dunia maya. Bekerja, berkarya sekaligus belajar dari dunia maya.

Menurut saya masa lalu adalah sebuah memori usang yang harus saya buang ke dalam keranjang kenangan. Perang saya adalah hari ini dan seterusnya. Saya tak mau terjebak dalam lingkaran andai-andai seperti dulu lagi. Mencoba menyalahkan dan mengkambinghitamkan semua kenyataan pahit yang ALLAH ujikan. Andai saja saya terlahir sebagai anak orang mapan atau kuliahan, mungkin saja saya tak akan pernah bisa merasakan bahagia yang dirasa sekarang. Tak akan pernah mengenal dunia pencinta alam. Tak akan pernah menjadi seorang blogger. Tiada pernah pula merasakan betapa nikmatnya sen demi sen yang saya hasilkan. Semua itu adalah kehendak-NYA dan tak mungkin kita melakukan protes pada segala sesuatu yang sudah menjadi takdir kita. Ketetapan ALLAH itulah keputusan yang terbaik pada diri kita semua.

Dulur blogger, itulah sebuah cerita dari seorang mahasiswa abal-abal universitas dunia maya. Semoga saja bermanfaat bagi kita semua khususnya anda yang mungkin pernah mengalami sebuah kondisi tidak beruntung seperti halnya saya. Usah berkecil hati dan terus jalani hidup ini dengan sebuah semangat tinggi. Ibarat film,  sejatinya kita hanyalah seorang aktor yang sedang menjalani sebuah skenario yang telah diberikan Sang Sutradara untuk kita mainkan. Tak mungkin kiranya kita merubah pakem skenario yang sudah diberikan kepada kita. Yang bisa kita lakukan mungkin hanya sebuah improvisasi agar jalan cerita film yang kita jalani bisa menjadi lebih indah dan  nantinya akan menjadi sebuah Box Office saat kita menghadap-NYA.

 “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway"