Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 15 Oktober 2012

Cara Mencegah Dan Menanggulangi Tawuran

Apa..? Hari gini masih ada yang tawuran? Jadul banget lah yaw. Hari gini masih ada yang rusuh dan main keroyokan? gak keren ah. Lah, lantas apa saya gak pernah ikut ikutan tawuran? Pernah dong ah, namanya aja pernah jadi coro hehe. Tapi, itu dulu banget. Jaman jahiliyah saya ketika  masih SMA. Masa dimana saya hanya mengandalkan dengkul ketimbang otak dan lebih mengutamakan emosi daripada nurani.

Ada yang bilang tawuran itu sebuah proses di usia remaja untuk mencari jati diri. Hmm. saya sepakat jika usia remaja adalah sebuah fase  untuk mengekspresikan darah muda mereka. Tapi, jika dilampiaskan dalam bentuk tawuran? Saya rasa ada yang salah dalam pola kehidupan masyarakat kita.

Lantas siapa yang harus disalahkan?. Hmm, saya rasa semua mungkin perlu melakukan sebuah koreksi diri atas fenomena tawuran yang masih sering terjadi. Sebab, segala sesuatu yang menjadi fenomena dalam masyarakat kita tentunya akibat dari pengaruh kanan kirinya. N`h, sebagai orang yang pernah ikut ikutan tawuran, saya mencoba untuk sedikit urun rembug tentang cara mencegah dan menanggulangi tawuran.

  • Figuritas
Ada istilah "kebo nyusu gudel", mungkin seperti itulah istilah bagi usia remaja. Sebuah proses bagi dia untuk meniru dari apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Para remaja itu sebenarnya butuh figur yang bisa mengarahkan aktifitas darah mudanya ke arah positif. Tapi, lihatlah yang terjadi sekarang? Para tokoh dan orang-orang pintar yang harusnya bisa menjadi kebo untuk diambil susu oleh gudelnya, justru malah memberikan sebuah contoh yang kurang baik pagi masyarakat akar rumput kita.

Lihat saja yang terjadi sekarang. Kisruh PSSI yang tak kunjung henti. Cicak V.s Buaya yang makin melegenda. Gontok-gontokan, sikut sana sikut sini dan banyak hal lagi perilaku para tokoh yang tak patut untuk ditiru. Secara fisik mungkin mereka tak nampak melakukan tawuran, tapi secara intelektual saya rasa mereka sudah bisa dikatakan tawuran. Belum lagi ulah oknum mahasiswa, eksponen masyarakat yang seharusnya bisa memberi tauladan dalam mengekspresikan aspirasinya. Ternyata kadang melakukan aksi anarki yang mengatasnamakan demokrasi.

Mungkin sudah waktunya pagi para tokoh itu untuk memberikan tontonan elegan dan santun buat masyarakat kita. Sudah waktunya pula bagi teman-teman mahasiswa untuk meracik sebuah aksi jalanan yang lebih simpatik. Jika pemerintah saja sikut-sikutan, so pasti rakyatnya hobby tawuran. Jika saja orang-orang pintar banyak bertingkah, apa salah jika akar rumput ikut berulah?

  • Media
Salah satu pengarah perilaku kehidupan masyarakat khususnya remaja adalah media. Ambil contoh sederhana saja Facebook, yang secara tidak langsung merubah perilaku remaja kita. Begitu halnya dengan media kita, terutama televisi dan industri perfilman. Disinilah fungsi lembaga sensor untuk bijak memilah mana tayangan yang layak dikonsumsi oleh masyarakat sesuai dengan budaya ketimuran kita. Bukan hanya sebatas konten porno saja, tapi tayangan yang sarat hedonis, kebarat-baratan dan penuh kekerasan untuk dikaji ulang ketika hendak dipertontonkan.

Demikian pula halnya dengan industri televisi, film dan sinteron. Tak hanya mengejar profit dan rating tinggi saja, tapi juga mau peduli dengan pendidikan moral bangsa. Membuat tayangan-tayangan yang bisa kembali "nguripi ati" sekaligus mengarahkan emosi penontonnya ke arah kebaikan. Jika saja dulu ada sinetron ACI atau Keluarga Cemara yang digandrungi masyarakat dan remaja, kenapa sekarang tidak? Ah, andai televisi dan industri film/sinetron tidak egois dan mau mengalah. Barang tiga bulan saja mau menayangkan tontonan-tontonan yang penuh teladan, saya rasa akan berefek positif bagi perilaku masyarakat kita.

  • Pendidikan
Salah satu kekurangan sistem UNAS dalam pendidikan kita adalah sebuah kecenderungan bagi sekolah untuk terus menggenjot IQ siswanya. Namun, di satu sisi ada sebuah kecerdasan yang sekarang sepertinya diabaikan atau malah dilupakan yaitu Emotional Quotient. Sebuah kecerdasan menggunakan perasaan untuk memadukan pikiran dan tindakan. Disinilah fungsi eskul untuk memberikan pelajaran EQ tersebut kepada siswa. Dengan harapan agar terjadi sebuah keseimbangan kecerdasan antara IQ dan EQ pada siswa. 

Saya melihat banyak sekolah yang sekarang sudah mengabaikan eskul siswanya. Kalau pun masih ada itu hanya sebatas dibiarkan hidup tanpa terlalu mempedulikannya. Kenapa sekolah melakukan hal itu? Alasannya klasik, biar siswa cuma fokus belajar dan sekolah bisa lulus 100% !

Mungkin ada baiknya sekolah-sekolah menghidupkan kembali eskul mereka yang telah mati suri. Sebagai wadah ekspresi positif para siswanya sekaligus mengajarkan EQ yang mungkin kurang diberikan ketika di dalam kelas.

  • Fanatik Berlebihan
Sebagian besar tawuran diawali dengan hal-hal sepele akibat konflik individu. Akibat sebuah provokasi, kemudian yang lainnya ikut-ikutan tawuran. Dulu saya pernah mengalami menyerang sekolah  sendiri gara-gara membela teman genk beda sekolah yang terlibat masalah dengan salah satu siswa lain jurusan di sekolah saya.

Fanatik buta dan berlebihan itulah yang terjadi pada saya. Betapa tidak, karena rasa solidarisme fanatik pada kelompok, saya telah menyerang almamater sendiri. Padahal jika dipikir secara rasional sebenarnya itu bukan masalah saya dan mungkin pula bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Yah, sebuah fanatik  buta dan berlebihan pada kelompoknya ikut pula mendorong seseorang melakukan tawuran.

Fanatik pada kelompok mungkin sah-sah saja, tapi jika berlebihan itu akan berbahaya. Hanya akan menimbulkan kecintaan pada kelompok sendiri dan membenci sekaligus ingin mendominasi kelompok lainnya. Sudah waktunya bagi kita merubah pola pikir fanatik yang ada pada diri kita. Jika Islam mengenal konsep Rahmatan Lil Alamin, kenapa pada pribadi dan kelompok kita tak bisa pula mengaplikasikannya? Fanatik dengan jalan mendominasi dan berusaha selalu di depan dalam hal kebaikan. Coba bayangkan andai saja kampung anda terkenal fanatik dengan budaya menanam pohon. Atau SMA anda terkenal dengan siswa yang fanatik memungut sampah? Hmm. saya pikir itulah salah satu bentuk Fanatik Lil  Alamin.

  • Kurang Perhatian
Masa remaja adalah masa dimana eksistensi mereka ingin diperhatikan. Namun, kadang mereka menunjukkannya dengan jalan yang salah. Balapan liar dan genk mungkin itu salah satu contohnya. Saya rasa semua itu terjadi karena mereka mendapat kurang perhatian dalam keluarga mereka. Uang tak sepenuhnya bisa mengganti wujud kasih sayang. Demikian halnya fasilitas tak selamanya akan membuat anak-anak anda akan  puas. Perhatian penuh kasih sayang lah yang sebenarnya ingin mereka dapatkan.

Cobalah dampingi putera puteri anda. Jalin komunikasi yang hangat. Selalu kontrol perilaku mereka, tapi carilah strategi agar anda tak nampak melakukan sebuah bentuk pengekangan. Jika melihat anak anda mempunyai kelompok bermain, sekali-kali undang mereka. Bikin acara yang bernuansa hangat dan penuh kekeluargaan. Jika perlu cobalah menjadi layaknya sahabat tua bagi mereka. Tanamkan perasaan "sungkan", karena dengan itu anda akan lebih mudah mengarahkan mereka ke jalur sebenarnya.


  • Kurang Kerjaan
Ada istilah "tak kenal maka tak sayang", Jika anda sayang mungkin anda tak akan menyerang. Jika pernah melakukan sinergi tentu saja akan mudah memahami. Disinilah pentingnya sebuah organisasi kemasyarakatan agar mereka bisa saling bersinergi, memahami dan berkarya bersama ke arah positif. Yah, masyarakat harus punya wadah untuk berkegiatan. Sebab, tawuran itu adakalanya dilakukan oleh mereka yang kurang kerjaan.

Mungkin pemerintah perlu menggalakkan kembali organisasi kemasyarakatan macam Karang Taruna, Kerukunan Warga, Pengajian, kelompencapir atau mungkin Pencinta Alam agar mereka punya kerjaan dan gak sempat mikirin tawuran.

  • Hukum yang Jelas
Segala bentuk pelanggaran tentunya harus ada tindakan hukum yang tegas agar tidak kembali dilakukan. Disinilah peran aparat untuk bisa menegakkan hukum setinggi-tingginya. Tawuran mungkin bisa dianggap sebagai tindak kenakalan remaja, tapi jika sudah memakan korban jiwa saya rasa itu sudah masuk perkara kriminal. Berikan sebuah hukum yang jelas kepada pelaku tawuran. Tak cukup hanya sebatas peringatan, tapi harus ada hukuman yang bisa memberikan efek jera pada yang lainnya.

Satu hal lagi,  perlu juga mencari aktor intelektual dibalik semua aksi tawuran dan beri mereka hukum seberat-beratnya. Yah, merekalah sebenarnya provokator di balik semua tawuran itu. Oknum-oknum  pembawa virus tawuran di negeri ini.

Dulur blogger, mungkin itu sekilas urun rembug saya tentang cara mencegah dan menanggulangi tawuran. Namun, semua itu tergantung pada diri kita sendiri. Jika anda mengaku manusia modern, so pasti tak akan mengulangi lagi budaya jadul itu. Yuk, sudah waktunya bagi kita untuk bersama-sama tawuran dalam hal yang positif. Melakukan gerakan secara sporadis ke arah yang postif. Silakan fanatik kepada kelompok, tapi dengan cara yang unik dan simpatik. Sah-sah saja mempunyai keinginan mendominasi diri, tapi senantiasa jadilah yang terdepan dalam hal kebaikan.

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu: