Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 06 Oktober 2012

Harusnya Hatimu, Bukan Flashdisk Itu


Hari belum terlalu malam. Jam dinding masih berkisar di angka setengah sembilan. Masih terlalu dini rasanya jika sekarang aku sudah mengeluh lelah karena pekerjaan. Namun entah kenapa di rutinitas yang belum habis separuh ini, serasa hilang pula separuh semangatku untuk menjalani.

Sebenarnya sore tadi aku melangkah menuju warnet ini dengan penuh semangat tinggi . Sejak dari rumah segala sesuatu  memang telah kusiapkan. Berharap agar nanti  bisa berjalan sesuai keinginan. Sore tadi aku sempat membuat seisi rumah meneriakiku. Gara-gara aku menggunakan kamar mandi dengan durasi waktu tiga kali lipat dari biasanya.  Tak lupa kumengenakan kostum Barcelona. Kaos kesayangan, yang kudapatkan dari hibah seorang teman. Memakai sandal Crocs bermotif bendera,  yang juga hadiah  dari seorang teman wanita. Bahkan aku pun sudah melakukan sesuatu yang selama ini jarang kulakoni. "memakai parfum!". Meski sebenarnya kurang tepat jika zat cair yang kuoles itu adalah parfum. Ya, itu hanya semacam wangi-wangian yang biasa kupakai ketika sholat Jum'atan. Tapi, masa bodoh dengan semua itu. Bagiku semua sama saja. Sama-sama wangi. Sama-sama pula ampuh mengelabui bau tubuhku yang sepadan dengan aroma terasi.

Memang benar yang dikatakan orang, jika menunggu adalah sebuah pekerjaan yang menjemukan. Bak calon tenaga kerja yang telah menunggu lama jadwal keberangkatannya ke Korea, seperti itu pula yang kurasa sekarang. Tak sabar menunggu, terus menunggu dan terus saja menunggu.

Seharusnya aku patut bergembira hari ini, karena sang majikan baru saja mengunjungi meja kerjaku. Menyodorkan enam lembar bergambar Soekarno-Hatta. Untuk upahku selama sebulan, sebagai centeng usaha warnetnya.  Tapi, enam ratus ribu bagiku hanya mampu memberi senyum sesaat. Tak jua membuatku kembali bersemangat. Masih saja ku tak mempedulikan orang-orang yang keluar masuk warnet ini. Bahkan aku telah melupakan sedekah yang biasa kulakukan. Sedekah berupa senyuman, yang biasa kubagikan secara gratis untuk para pelanggan.

Sesekali mataku menatap sebuah benda yang tergolek di laci kasir mdja kerjaku. Mengambilnya, memainkan dengan memutar-mutarnya secara perlahan. Seakan benda itu mengajakku kembali untuk larut dalam sebuah dimensi bernama lamunan. Ya, benda inilah biang dari segala lamunanku beberapa hari ini. Sebuah flash disk berbentuk kelinci lucu, yang tanpa sengaja ditinggalkan pemiliknya. Di bilik nomer 9 itu, seminggu yang lalu.

"Assalamu'alaikum, masih ada yang kosong mas?"

Seseorang tiba-tiba bertanya padaku sore itu. Suara nan lembut dari seorang gadis, yang untuk sepersekian detik membuatku terpana, diam. Melupakan keasyikanku yang saat itu tengah memanen kebun virtual dalam permainan Facebook-ku.

"Waalaikumsalam"

Ya, hanya menjawab salam  saja yang bisa kuucapkan. Itu saja, selebihnya aku hanya mampu mengangguk perlahan. Memberi tanda jika masih ada bilik kosong yang tersedia bagi dia. Padahal, bisa saja saat itu aku menjawab jika hatiku juga masih kosong. Seperti halnya yang biasa kulakukan ketika bercanda dengan pelanggan warnet lainnya. Pada si Nona, gadis keturunan Pakistan, kalimat itu sangat gampang kuucapkan. Apalagi kepada Marpuah, puteri kesayangan mang Haris juragan buah. kalimat-kalimat gombal seringkali kupraktekkan dengan begitu mudah. Tapi, untuk gadis berjilbab merah saga, yang memiliki mata jelita itu? Hmm.. sepertinya aku tak kuasa melakukan apa-apa. Serasa ada berlapis-lapis plester yang menempel di mulutku. Seakan ada sebuah balok kayu tak kasat mata yang menyumbat tenggorokanku. Bahkan untuk menatap mata jelitanya, aku hanya mampu bertahan selama dua detik saja.

Gadis itu kemudian menuju bilik warnet pilihannya. Duduk di bilik nomer 9, yang letaknya berhadapan dengan meja kerjaku. Segera kugeser tempat dudukku agak ke kiri. mencari angle yang pas, agar bisa menatapnya secara diam-diam. Sedetik kemudian, warna hijau muncul di billing warnetku. Tepat di nomer 9, bilik tempat gadis itu internetan.

"EL"

Hmm.. kenapa dia memakai username itu? Apakah namanya Ely, atau mungkin Ela? Atau bisa jadi namanya Elvi, Elsa, Elma atau Elga? Ah sudahlah, yang pasti tak mungkin dia bernama Elfarizi, sebab dia bukan laki-laki. Yang jelas dia gadis yang begitu santun, sebab saat masuk warnet pun dia tak lupa dengan uluk salamnya. Dan, satu hal lagi dia memiliki sorot mata yang begitu menawan, tapi cukup mematikan. Sorot mata yang bisa membuat lelaki manapun akan gentar ketika memandangnya.

Lima belas menit berlalu, tiba-tiba saja muncul pikiran licik dalam benakku.  

"Aku ingin komputer nomer 9 itu ngadat!"

Sebenarnya bukan maksudku untuk berbuat macam-macam kepada gadis itu. Tujuanku cuma satu, jika saja komputer itu ngadat, pastilah gadis itu akan memanggilku. Menyuruhku untuk mengatasi masalah yang terjadi dengan komputernya. Dan, tentu saja aku bisa lebih leluasa memandang mata jelitanya lebih dekat, dan lebih dekat lagi.

Ah, kenapa  komputer itu seakan tak mau kompromi dengan akal licikku? Padahal hampir setiap hari komputer itu melakukan pembangkangan kepada diriku? Ya, komputer tua itu seringkali membuatku bersitegang dengan orang-orang yang komplain secara berlebihan. Bukan, bukan berarti aku tak mau untuk disuruh-suruh. Aku tahu kewajibanku disini untuk melayani. Jujur, aku kurang begitu senang dengan orang yang berbuat sewenang-wenang karena alasan mereka punya uang. Boleh saja mereka berkata, jika mereka adalah raja.  Tapi, jika raja semena-mena, jangan salahkan rakyat jelata meneriaki raja agar segera turun tahta!. Namun, untuk gadis itu rasanya aku rela melakukan banyak hal. Berpuisi bak sastrawan, menyanyi laksana biduan, atau mungkin melakukan gerakan salto fantastik layaknya pemain akrobatik, semua itu pasti akan kulakukan jika dia menginginkan.

Dua puluh tujuh menit berlalu. Komputer itu masih nampak baik-baik saja. Begitu pula dengan gadis itu, masih anteng-anteng saja di tempat duduknya. Seakan tak menyadari jika di ujung meja server ada seorang lelaki yang kisruh dengan tingkahnya sendiri. Tiba-tiba warna merah muncul di radar intai bilingku. Persis di baris nomer 9 itu.

Argggh..kenapa harus secepat itu? Kenapa cuma 27 menit saja? Padahal aku belum merasa puas menatap mata jelita itu. Sebenarnya aku sudah merasa nyaman dengan posisi dudukku. Bahkan aku pun tengah mempersiapkan lagu-lagi mellow, untuk kuputar agar suasana warnet ini semakin syahdu. Tapi sekarang.....?

Gadis itu kemudian menghampiri meja kerjaku. Berdiri tepat di hadapanku, sama tepatnya saat aku baru saja menggeser tempat dudukku ke posisi semula. Menyodorkan tiga keping koin lima ratusan. Sambil berterima kasih, dia pun kembali mengucap salam. Ya, sebuah salam perpisahan yang mengakhiri drama 27 menit itu. Dua puluh tujuh menit yang membuat aku bak Jaka Tarub yang sedang mengintai seorang bidadari dari balik rumpun bambu.

Sekarang bidadari itu telah pergi. Berlalu meninggalkan aku yang masih saja tak mampu berkata apa-apa. Hanya salam. Yah, sekali lagi hanya bisa menjawab salam itu saja. Sisanya, aku hanya bisa memandang punggungnya pergi menjauh dan terus menjauhiku bersama scooter putihnya. Meninggalkan segumpal rasa yang tak biasa dan sebuah flashdisk berbentuk kelinci lucu yang sekarang ada di tanganku.

"Mas tolong! komputernya macet" pinta seseorang dari bilik warnet nomer 9.

Asem, ora ngenaki wong ngelamun wae!. Segera kumenuju bilik nomer 9 itu. Menghampiri seorang bocah yang sepertinya mendapat masalah dengan komputernya. Yah, kenapa baru sekarang kau mau membangkang hai komputer tua!. Kenapa tidak kau tunjukkan sikap mokongmu padaku seminggu yang lalu? Tapi sudahlah, kurasa gadis itu mungkin telah lupa dengan flashdisknya. Atau bisa saja dia sedang memberi aku waktu, untuk lebih menguatkan mentalku sekaligus melatih mataku. Yah, setidaknya jika ada tatap pandang untuk kedua kalinya, aku akan lebih kuat  bertahan saat menatap matanya. Bukan hanya untuk dua detik saja.  Merindu, mungkin itu adalah cara yang paling sederhana untuk mengenang gadis itu. Sambil tetap menanti kedatangannya kapan saja.  Dan, jika saja takdir menghendaki flashdisk ini kembali kepada empunya, mungkin saat itulah aku akan memberanikan diri untuk berkata....

"Harusnya hatimu yang kau tinggalkan disini EL, bukan flashdisk itu"


Tulisan ini untuk meramaikan Elf4rizi 4th Aniversary


note : cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama itu memang disengaja. Mengambil inspirasi dari sebuah lagu berjudul "Yang Indah",  milik Bebeh Keluarga Tamasya. Jika berkenan silakan unduh lagu nya DISINI.