Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 13 Oktober 2012

Pilih Hero atau Coro?


" Sekali secarik berwarna abu-abu ini melingkar di lehermu, pantang bagimu untuk menanggalkannya kembali. Sebab, sejak saat itu pencinta alam telah menjadi pilihan hidupmu, sampai mati."

Di setiap tahunnya saya selalu mendapat tugas kehormatan dari adik-adik saya. Sebuah tugas untuk menutup prosesi acara sakral mereka, yaitu diklat bagi para anggota baru organisasi kami. Biasanya kalimat itulah yang saya berikan ketika mengalungkan satu persatu scraf ke leher para anggota baru. Kalimat yang selalu saya ulang-ulang ketika mengucapkannya. Bukan hanya sekedar sebagai  ucapan selamat datang, tapi juga sebagai bekal semangat untuk langkah mereka ke depan.

Macam-macam ekspresi anggota baru selalu saya temui di pelaksanaan diklat setiap tahunnya. Ada yang biasa dan nampak datar-datar saja. Mungkin menganggap jika  diklat itu hanya semacam formalitas organisasi. Cuma permainan sandiwara para senior mereka. Namun, ada pula yang menangis terharu, seakan mereka baru saja  menemukan sebuah gerbang menuju kehidupan baru, menjadi seorang pencinta alam.

Seperti halnya blogsphere, di setiap waktu kita selalu lihat muncul bunga-bunga baru. Bunga-bunga itu lalu mekar, menebar wangi ke kanan kiri, tapi kadang ada pula yang dalam sekejap berguguran dan tak mekar kembali. Begitu halnya dengan kehidupan pencinta alam. Banyak muncul tunas-tunas baru pahlawan lingkungan. Namun, setelah itu mereka raib bak cendawan yang hanya tumbuh ketika musim penghujan.

Membuat blog baru! mungkin itu perumpaan bagi seseorang yang baru saja usai mengikuti diklat pencinta alam.  Baru tahap membuat dan masih belum banyak berbuat. Baru memulai dan belum banyak pula melakukan aksi. Semua tergantung dari konsistensi individu masing-masing. Bagi yang berniat istiqomah berjuang, sampai kapan pun tak akan henti meneriakkan "salam lestari" dengan lantang. Sebaliknya buat yang hanya sekedar main-main saja, bisa ditebak  saat diklat tlah usai, semangat mereka pun pasti turut berangsur-angsur usai. Seolah melupakan sebuah ikrar setia yang telah mereka ucap saat diklat sebelumnya.

Itulah pencinta alam. Sebuah dunia yang nyaris tak menyuguhkan remah-remah kesenangan yang digemari muda-mudi sekarang. Tapi, di satu sisi ada pula cerita penuh heroik dari para pelaku yang ada di dalamnya. Yah, cerita tentang orang-orang yang mau menanggalkan keegoisan jiwa mudanya untuk melakukan sesuatu bagi alam dan manusianya.

Beberapa belas tahun yang lalu saya merasa hanya menjadi seekor kecoak yang berserak bersama teman-teman di jalanan. Hanya mau memikirkan apa yang sudah saya dapatkan, tanpa pernah peduli dengan apa yang sudah saya lakukan. Asal saya senang, terserah apa kata orang. Itulah prinsip saya kala itu. Hingga akhirnya ada sebentuk kesadaran diantara saya dan teman-teman untuk segera bangun dari tidur panjang. Sebuah kesadaran dari posisi stagnan untuk bergerak menuju kebaikan. Sebuah keinginan untuk "move on" from zero to hero (menurut versi kami), dan tak ingin menjadi seekor coro lagi.

Membuat organisasi pencinta alam! Itulah yang saat itu kami lakukan. Tanpa latar belakang, pengalaman  dan status akademi tinggi, kita mencoba melakukan semuanya. Yah, hanya sekumpulan pemuda kampung yang ingin belajar dan terus belajar tentang sesuatu yang baru kita temukan. Meski seringkali ada semacam keraguan dengan kemampuan, tapi saya mencoba untuk terus bertahan dan setia dengan proses belajar yang saya lakukan. Di dalam hati saya yakin kelak pasti akan ada buah manis yang bisa dipetik dari apa yang ketika itu saya tanam.

Alhamdulillah, hingga sekarang ternyata saya masih setia dengan ikrar yang dulu saya ucapkan. Meski secarik berwarna ungu itu telah berganti abu-abu, tapi cap pencinta alam masih tertera jelas dalam hati saya. Saat ini saya masih berkarya semampunya bersama sebuah organisasi pencinta alam kecil bernama Wachana. Sebuah organisasi yang saya dirikan lebih dari enam tahun yang lalu, dan saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah keluarga.

Saya bahagia menjadi bagian dari keluarga kecil itu. Saya bangga bisa berproses dan berkarya bersama mereka. Adik-adik saya, para pahlawan lingkungan itu. Yah, bagaimana saya tak menyebut mereka bukan seorang pahlawan? Padahal mereka masih mau melakukan aksi disaat remaja kebanyakan tengah mengalami degradasi peduli?. Meski saya tahu tanpa saya dan Wachana dunia masih saja akan tetap ada perusakan lingkungan, setidaknya kita tidak menjadi generasi yang hanya bisa mengutuk saja tanpa berbuat apa-apa.

Dulur blogger, itulah sekilas perjalanan hidup yang telah mengantarkan saya bertemu dengan dunia ajaib bernama pencinta alam. Sebuah dunia yang telah mengajarkan saya banyak hal. Dan, mungkin saja saya tak akan pernah bisa menjadi seorang blogger jika sebelumnya saya tak menjadi seorang pencinta alam. Bisa jadi hingga sekarang ini saya masih tetap seperti dulu, seekor coro yang enggan bergerak menjadi seorang hero.

Secara pribadi saya tak begitu menyesali semua masa lalu itu. Masa lalu itu bagi saya adalah sebuah bekal perjalanan hidup saya selanjutnya tanpa harus mengulanginya. Setidaknya saya bisa mewanti-wanti adik-adik saya untuk tak menjadi coro pula. Kami harus bisa menjadi pribadi yang unik tapi positif, daripada menjadi bagian masyarakat yang seragam dan hanya latah bersuara tanpa bertindak nyata.

Semoga saja saya masih bisa terus istiqomah dan terus memutar otak saya untuk berkarya. Meskipun saya tak tahu apakah semua yang telah saya lakukan sudah layak dikategorikan aksi seorang hero. Meski pula saya tak pernah tahu angka berapa yang sekarang ada di pundak kanan saya, tapi saya akan terus berusaha semampunya untuk tidak kembali mendekati titik zero itu.  Mungkin hanya satu yang bisa saya lakukan, yaitu terus dan terus menambah nilai plus saya dalam kehidupan. Sebab saya yakin di akhirat nanti tak akan pernah ada remidi ulang atas semua yang kita lakukan di dunia.

Hidup hanya sekali. Hitam atau putih, kiri atau kanan, semua pilihan hanya kita sendiri yang bisa tentukan. Mau pilih hero atau menjadi coro? Saya rasa semua terserah anda. Jika masih bingung, Hmmm saya rasa biarkan nurani anda yang menjawabnya

Tulisan ini dipartisipasikan pada Lovely Little Garden's First Give Away