Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 13 Januari 2013

Apa Itu Salah?


Untuk kamu yang baru saja mengecup mesra secarik kain itu. Juga untuk kamu yang menjadikan abu-abu sebagai warna kebanggaanmu. Tanpa terasa kita kembali ke titik awal putaran masa yang baru. Tak terasa pula hampir tujuh tahun kisah perjalanan kita. Bersama, bersaudara dan berkarya di bawah naungan atap yang sama.

Masihkah kalian ingat  saat dulu sama-sama kita letakkan pondasi cinta itu.  Tak semua bibir mau memberi senyum indahnya. Bahkan beberapa mata nampak memandang penuh curiga. Ada pula diantaranya yang berkata, jika untuk mempertahankan tiangnya saja kita tak akan kuasa. Tapi, lihat sekarang sayang ! Tiang persaudaraan itu masih kokoh terpancang. Rumah karya kita masih berdiri seperti semula. Salam lestari sayup pula masih terdengar dari dalamnya. Kadang terdengar lantang. Kadang pula terdengar lirih sumbang. Meski tak bisa kita pungkiri, ada pula diantara kita yang berlalu pergi. Berlari, tanpa alasan tinggalkan gelanggang kita berjuang. Mencari kehidupan baru yang menurut mereka lebih menawarkan kelezatan.

Aku tahu ada resah ketika  kalian mendengar kata "sampah". Aku merasa ada ragu saat berkali-kali masih saja kubisikkan kalimat itu ditelingamu. Tapi,  bendera sudah dikibarkan sayang. Pantang bagi kita untuk turunkan. Lagipula aku sudah terlanjur cinta dengan dunia pencinta alam ini. Jadi, sampai kapanpun aku tiada pernah jera untuk menggandeng tanganmu bersamaku. Biar bagaimanapun kalian adalah adik-adikku. Amanat Tuhan buat aku.

Orang bilang dunia kita berdamping begitu mesra dengan petualangan. Kurasa perjalanan hidup ini itulah sebenar-benarnya petualangan. Tentang cara kita mempergunakan kredit usia  yang singkat untuk sesuatu yang manfaat. Tentang  menjadi seorang khalifah alam raya yang tak sebatas menikmati isinya, tapi juga mau berkarya di dalamnya. Jika  memiliki kepandaian,  pergunakan anugerah itu semata untuk kebaikan. Jika kaya, cobalah berkarya dengan harta yang dipunya. Lantas, bagaimana halnya jika kita terlahir dari keluarga yang tak bergelimang harta? Hmm, jangan berkecil hati sayang. Kurasa kita masih punya harta yang lain. Sesuatu yang nilai bandingannya melebihi harta apapun di dunia. Harta itu bernama akal. Ya, itulah modal berharga kita untuk beramal.

Kurasa aku belum bukanlah bagian dari orang-orang mapan itu. Tapi, bukan berarti pula aku harus menjadi seorang yang papa dalam hal berkarya. Aku hanya pencari rejeki yang mengais sen demi sen  lewat sebuah layar mini. Jadi apa salah jika kulakukan hal yang sama di dunia nyata? Mengais sampah-sampah itu sebagai bagian dari karya kita. Apa ada yang salah jika kita  pilih berkarya diantara tetumpukan sampah? Jika saja "kotoran" yang menjadi alasan bagi kita untuk enggan, cobalah untuk menelaah kalam sebaik-baiknya insan. Bukankah telah disebutkan bahwa di dalam kebersihan itu ada separuh iman?

Menjadi seorang pencinta alam handal tak harus hafal teori survival. Survival kita adalah tentang bagaimana cara bertahan tanpa harus memberi beban. Sebuah teori sederhana agar kita tetap tumbuh, mempunyai tunas yang baru  tanpa harus menjadi benalu. Aku sama sekali tak bermufakat, jika kita menjadi generasi yang suka menyodor-nyodorkan proposal dana ke meja pejabat. Justru aku merasa bangga, karena hingga detik ini kita masih belum terkontaminasi pernak-pernik iklan apalagi bendera partisan. Apapun yang terjadi aku tak akan  mau, jika kalian dijadikan sayap kepentingan bagi siapa saja. Itulah teori survival menurutku. Bertahan hidup mandiri, mencukupi diri sendiri tanpa harus membebani, sekaligus memanfaatkan semua potensi untuk semampunya memberi.

Tak piawai ilmu navigasi darat, bukan berarti pula kita tak bisa menjadi hebat. Bukan..bukan berarti aku menganggap remeh teori hebat nan njlimet itu. Terus terang aku pernah mempelajarinya, tapi kemudian sengaja  melupakannya. Alasanku sederhana saja, tak mungkin kiranya seumur hidup aku akan mempergunakannya. Navigasi itu menurutku adalah hati nurani. Tentang bagaimana menjaga setiap langkah kita agar senantiasa lurus di jalurnya, itu saja.

Usah gelisah meski kita tak megah. Usah lara meski kita tak sama dengan mereka. Tutup saja telinga kalian dari teriakan yang nyata-nyata melemahkan. Biar saja kita berkarya di atas tetumpukan sampah, daripada hanya menjadi "sampah", yang hanya tergolek diam dan pasrah.

Sayang,  kalian masih ingat kan sebuah senandung yang tiap hari kita dendangkan. Perihal seorang bidadari kecil yang masing-masing kita punyai. Bidadari penyelamat yang senantiasa menuntun kaki-kaki kita.  Jadi, kenapa kita enggan melangkah, jika bidadari kecil di hatimu berbisik itu tidak salah?