Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 07 Februari 2013

Habis Muntab Terbitlah Senang

Jika dirasa dinamika suasana hati itu bak cuaca yang sulit diprediksi akhir-akhir ini.  Wajah langit yang nampak  terang benderang bisa jadi mendadak berubah hitam kelam. Lalu, tanpa menunggu lama dia pun memuntahkan segala isi yang ada di dalam awan, tanpa sungkan. Sebaliknya kadang orang yakin hujan sebentar lagi akan menyapa mereka. Segala sesuatu  pun sudah dipersiapkan agar terhindar  ciprat air dari atas sana. Namun seringkali hujan malah terlihat malu-malu. Bisa jadi hujan tak ingin kembali disalahkan. Atau, mungkin saja dia sudah jenuh mendengar teriakan dari orang-orang di bawah sana yang ribut karena kebanjiran.

Pun demikian dengan grafik naik turunnya suasana hati. Tiada bisa diprediksi kapan datang dan kapan berlalu pergi. Selama kita hidup, fluktuasi hati akan terus saja terjadi. Suka atau duka kadang bisa muncul begitu saja. Seakan memberi sebuah kejutan pada hati ini, tanpa bisa kita dihindari.
--------

Bagi sebagian orang  Sabtu adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu. Ada yang bilang Sabtu itu adalah salah satu nikmat menjadi orang kantoran. Pada hari itu mereka bisa sedikit berleha-leha, karena hanya menghabiskan rutinitas kerja hanya dengan separuh masa. Namun, tidaklah demikian dengan seorang satpam dunia maya seperti saya. Rutinitas akhir pekan serasa panjang dan melelahkan untuk dilakukan, sebab di hari itu saya mendapat jatah giliran jaga siang.  Sebagai manusia nokturnal saya lebih menikmati rutinitas pekerjaan kala malam hari. Panas, lelah, lapar, ngantuk, selalu saja menemani ketika saya bertugas di siang hari.

Sabtu kemarin, di kira-kira tiga perempat rutinitas jaga siang yang saya jalani, terlihat sebuah mobil mewah berhenti di depan warnet. Muncul seorang nyonya separuh baya dari dalamnya, lalu dia nampak bergegas menuju meja kerja saya.

"bu haji ada mas?", tanya dia dengan sorot mata  tak bersahabat.

Sejenak saya berpikir tentang cara wanita itu bertanya pada saya. Kenapa harus nampak urat lehernya jika hanya ingin bertanya keberadaan nyonya majikan saya? Saya pun menjawab jika nyonya majikan sedang pergi ke pusat kota. Wanita itu nampak kesal karena mungkin saja merasa nyonya majikan meleset dari janjinya. Dia pun terlihat ingin melampiaskan semua rasa kesalnya kepada saya. Dengan menggerutu dia berondong saya dengan aneka pertanyaan. Tentang jam berapa nyonya majikan datang, kapan berangkat, dengan siapa, itulah pertanyaan yang dia ajukan dengan nada curiga.

Merasa tak ingin berlama-lama melayani kicauan sang nyonya,  saya mempersilakan dia untuk mencari langsung nyonya majikan ke rumahnya, dengan cara sehalus-halusnya. Sungguh saya tak menyangka jika  kali ini nyonya itu berbicara dengan nada setengah membentak

"Kamu itu bagaimana, tadi bilang enggak ada. Sekarang saya disuruh mencari ke rumahnya!".

Ah, serasa ada godam seratus kati yang menghantam batok kepala ini. Rasanya saya ingin bangkit dari kursi yang saya duduki. Terus terang saya paling tidak suka dibentak seseorang. Apalagi untuk sebuah kesalahan yang tak saya lakukan. Syukurlah saya masih bisa mengendalikan emosi, karena setelahnya si nyonya beranjak pergi dari hadapan saya.

Akhirnya saya lanjutkan kembali sisa jam piket sore itu. Tentunya dengan atmosfer hati yang tak cerah lagi. Apa karena saya  seorang tukang sapu, hingga dia memperlakukan saya seperti itu? Apa karena saya dianggap hanyalah bawahan temannya, hingga dia boleh melakukan apa saja sesukanya? Itulah kecamuk hati dan aneka pikiran mendramatisir yang saya rasakan. Sebenarnya saya bukanlah penganut teori anti-kemapanan. Tapi, saya tidak suka bahkan mungkin benci dengan seseorang yang merasa berlebih dalam hal materi, lalu memperlakukan orang lain  di bawahnya dengan sesuka hati.

Selang beberapa menit kemudian seorang Diskotik (gadis toko cantik) menghampiri meja kerja  "Wew Marpuah!", teriak saya dalam hati. Gadis itu lalu menyodorkan selembar kertas dan menjelaskan satu persatu tentang produk yang ada di dalamnya. Promosi produk yang sama sekali tidak saya perhatikan, karena saya lebih peduli dengan senyum yang dia sodorkan. Yah, senyuman itu serasa ampuh membuat saya lupa akan insiden dengan sang nyonya. Meski sesaat, tapi begitu efektif membuat asap kemarahan yang mengepul di telinga saya menjadi tersumbat.

Diskotik itu berlalu pergi, berganti majikan besar yang kemudian menghampiri.  Dia sodorkan beberapa lembar rupiah sebagai tanda upah. Kali ini giliran Soekarno-Hatta  yang nampak memberi senyum manisnya hanya untuk saya. Begitu sepadan dan sama-sama manis dengan senyum yang tadi disodorkan si gadis. Sebuah nikmat yang nilainya lebih dan jauh melebihi empuknya kursi mobil mewah sang nyonya tadi.

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa pulang melangkah ringan dengan dipayungi suasana hati yang riang. Sembari membawa oleh-oleh berupa satu senyum gadis yang penuh pesona dan enam lembar Soekarno-Hatta yang ada di saku celana. Bukan itu saja, sesampai di rumah ada sebuah bingkisan yang sedari pagi  terlihat sudah menanti. Setelah dibuka isinya adalah  tali asih buat Uncle Lozz  karena beruntung mendapat bronze medal di pagelaran ISBA. Lagi-lagi  saya harus mengucap puji hamdalah kali ini. Awalnya muntab, tapi kini justru saya rasakan aneka nikmat yang terasa mantab. Datang secara tak terduga. Seakan memberi sebuah kejutan dalam pernak-pernik kehidupan.

Dulur blogger, menurut saya hidup ini hanya tinggal melakoni skenario dari Sang Sutradara. Sebagai aktor tugas kita mungkin hanya bisa melakukan sebuah improvisasi. Melakukan sedikit editing agar lakon hidup ini berakhir dengan happy ending. Syukur-syukur jika saat diputar ulang di akhirat nanti, film kita bisa menggapai puncak "box office" tertinggi.

Kadang Sang Sutradara menyisipkan script ujian pula dalam lakon kehidupan kita. Tujuannya satu, agar kita semakin lihai saja menjadi pemerannya. Namun sayang, kita atau mungkin saya kadang tak mau sabar saat melakoni script ujian itu. Bahkan kadangkala lupa jika script ujian itu hanya sepersekian kecil dari script-script lain  dalam kehidupan ini. Script itu bernama nikmat ! Yah, nikmat bernapas, makan, tertawa, atau mungkin nikmat ngupil, serta nikmat-nikmat lain yang jumlahnya tiada tara.

Semoga saja kita selalu sabar dalam menjalani script ujian yang ada di tangan masing-masing. Sabar saat bertemu dengan gesekan-gesekan kecil macam yang terjadi antara saya dengan sang nyonya. Ikhlas nrimo pula manakala kita dapati benturan hebat dalam kehidupan ini. Jangan sampai kita menjadi seorang hamba yang berprasangka jika Sang Sutradara melakukan ketidakadilan pada peran kita. Semoga kita selalu ingat, jika ALLAH itu Sang Maha Pemberi Kejutan. Yah. kejutan-kejutan yang diberikan saat kita usai menjalani ujian.

Dulur blogger, yuk kita sama-sama belajar menikmati script ujian dalam peran kita masing-masing. Melakoninya dengan senyuman, dan selalu yakin jika setelahnya akan turun bingkisan dari langit sebagai kejutan bagi kita semua.


"Artikel ini turut menyemarakkan Give Away Perdana Dellafirayama, seorang ibu labil yang tidak suka warna hitam dan hijau"