Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 28 Februari 2013

Jakarta, Kelak Aku Akan Kembali


Banyak yang bilang  orang tua kandung saya adalah seorang perantau sejati. Jauh sebelum orang-orang di kampung berduyun-duyun mengadu nasib di Jakarta seperti sekarang, bapak  sudah terlebih dulu merasakan pahit legitnya ibukota. Mereka bilang jika bapak dulu merantau ke Jakarta dengan menumpang kereta barang. Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari almarhum bapak, sebab bertemu beliau saja bisa dikatakan kurang dari jumlah jari  tangan. Hingga akhir hayatnya dikabarkan jika bapak menyambung hidupnya di ibukota dengan menjadi penjual ikan hias di kawasan Jalan Pramuka.

Pun demikan dengan almarhumah Mamak saya. Dulu mamak pernah bercerita jika beliau memulai kehidupan rantaunya sejak usia belia. Menyabung nasib dengan menjadi pembantu dari satu rumah ke rumah lainnya. Hingga perjuangan beliau membuahkan hasil. Yah, mamak pernah mempunyai usaha sendiri. Sebuah kantin kecil yang juga pernah saya dolani. Kantin kecil itu terletak di pinggir sebuah gedung megah, belakang Museum Gajah. Saya tak tahu nama gedung itu apa. Yang saya tahu artis Primus dan binaragawan Ade Rai nampak sering keluar masuk di dalamnya, itu saja.

Itulah sedikit cerita tentang kedua orang tua kandung saya. Keduanya perantau sejati dan sama-sama menghabiskan lebih dari separuh usia jauh dari kampung halamannya.

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya", ungkapan itu sepertinya tak berlaku pada diri saya. Meski dialiri darah perantau sejati,  jiwa itu sepertinya tak ada dalam diri saya. Namun, setidaknya ada sedikit pengalaman yang bisa saya dapatkan saat kurang lebih dua tahun menjadi kaum urban. Merantau pada sebuah kota yang menjadi magnetnya para pengejar mimpi. Di kota tempat berdiri sebuah "Tembok Pembatas" yang pernah saya ceritakan pada Vania. Kota yang telah memberikan udaranya untuk saya hirup pertama kali dengan merdeka. Yah, saya mencoba mengejar mimpi itu di tanah kelahiran saya sendiri, Jakarta !

Saya mulai perjalanan itu seperti halnya bapak. Sama-sama menumpang kereta api. Sama-sama pula menggenggam sebuah mimpi. Tapi, saya lebih beruntung dari bapak. Kereta api saya lebih mewah dari yang bapak tumpangi. Kelas ekonomi berbandrol tiga puluh delapan ribu. Kereta itu difasilitasi tempat tidur di bawah jok kursi. Beralas koran agar baju kita tak bercampur sampah dan kotoran.

Di Jakarta saya bekerja pada sebuah mega proyek salah satu perumahan terbesar di Indonesia. Berkumpul dengan orang-orang yang bekerja bak mesin yang terus berputar, agar proyek itu segera kelar. Meski saya bekerja sebagai asisten paman. Seorang seniman patung yang lumayan ternama. Tapi, semua itu sama saja. Sedikit beda kasta, tapi pekerjaannya sama seperti mereka. Sama-sama menjadi kuli, yang menjadikan pasir dan semen sebagai teman mesra sehari-hari.
Merantau itu menurut saya adalah seni mengatur pendapatan yang telah kita kantongi. Tentang cara kita menyeimbangkan jumlah penghasilan dengan biaya hidup di kampung orang. Tentang bagaimana kita bisa menyisihkan duit tanpa harus mengencangkan sabuk perut dengan begitu melilit. Merantau itu bukan semata mencari pengalaman di negeri orang. Tapi, juga mencari modal materi yang bisa kita jadikan sayap usaha saat kembali ke kampung kita sendiri. Hal itulah yang saya lupakan. Mungkin karena euforia gemerlap ibukota membuat terlupa dengan tujuan awal saya. Sekarang dapat hari ini sikat! Hingga saat pulang baru tersadar jika tiada sepeserpun hasil kerja yang bisa dibanggakan.

Merantau itu juga tentang mental kita untuk senantiasa hidup betah jauh dari rumah. Inilah yang tak saya punyai. Saya adalah pribadi yang sulit melupakan hal-hal yang telah menjadi kebiaasaan. Keluarga di rumah, teman-teman dan kehidupan kampung halaman, itulah yang sulit saya lupakan. Mungkin terdengar cengeng dan tak lelaki banget. Tapi, ini soal balas budi pada keluarga yang telah membesarkan saya seperti sekarang ini. Tentang rasa cinta saya tanpa harus menjauh dari mereka.

Pernah di suatu ketika saya putuskan tak mudik saat lebaran tiba. Alasannya sederhana, saya menunggu upah kerja yang tak kunjung tiba. Saat itulah saya merasa betapa berharga arti keluarga di kampung sana. Benar adanya jika Jakarta adalah tanah kelahiran. Tapi, bagi saya Jember adalah nafas kehidupan.

Saat lebaran memasuki hari kedua, akhirnya saya putuskan pulang. Tanpa  peduli lagi dengan gaji yang tak kunjung datang. Meninggalkan nuansa lebaran megapolitan yang sepi bak kuburan. Yah, kembali menuju kota kecil itu lagi. Berkumpul bersama keluarga yang saya cintai. Sejak itulah saya merasa kapok untuk merantau lagi.

Maafkan aku Jakarta jika  tak bisa lagi berkarya bersamamu. Maaf jika sekarang kupilih kota kecil ini menjadi labuhan  berkarya hingga menutup mata nanti. Jangan khawatir kelak aku akan kembali melakukan reuni denganmu. Tapi bukan, bukan kembali menjadi seorang perantau seperti dulu. Mungkin hanya menjadi seorang pemantau. Yah, hanya sekedar memantau saja, apakah kamu masih mengenaliku seperti awal mula?

Artikel ini untuk menyemarakkan giveaway Gendu-gendu rasa perantau

Sumber gambar DISINI