Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 24 Maret 2013

Di Titik Angka Tiga-tiga

"Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga"
Pernahkan anda mendengar kalimat di atas? Sebuah ungkapan yang sering kali diperbincangkan muda mudi kita. Tiga konsep hidup manusia yang begitu ideal menurut saya.

Dunyo kathut, surgo iso nunut
Dunia dipegang, surga bisa numpang

Begitu menggiurkan bukan? Sangat manusiawi tentunya jika saya atau anda pun mengingini.

Muda, tua dan mati,  itulah tiga hal yang harus saya perhatikan dalam hidup ini. TIGA, bisa jadi akan menjadi TItik GAwat jika menyiakan modal yang ada. Atau sebaliknya menjadi TItik GAyeng alias menggembirakan jika modal itu sebaik-baiknya dimanfaatkan. Modal itu adalah modal paling berharga yang dipunya setiap manusia. Modal itu bernama usia.

Ada yang bilang jika rata-rata usia hidup manusia jaman sekarang tak jauh dengan usia Rasul. Di kisaran enam puluhan. Kalau pun ada yang lebih, mungkin itu semacam bonus dari langit. Jika berpatokan dengan usia hidup Rasul, itu artinya separuh jatah pulsa hidup di dunia sudah saya lewati. Kini saya sedang berada di titik angka yang begitu istimewa, angka tiga-tiga.

Di titik angka tiga-tiga itu berarti saya sedang ada di medium kehidupan saya di dunia. Jika saja si Pemilik Jiwa menghendaki usia saya sepanjang usia Rasul-Nya, itu berarti masih ada jatah beberapa tahun lagi yang harus saya tuntaskan. Jika disiakan itu berarti saya harus bersiap berada di TItik GAwat. Sebuah titik dimana saya harus berhadapan dengan aneka gugatan pidana dari hakim akhirat. Sebaliknya, jika mampu memanfaatkan kredit tambahan usia dari Tuhan, mungkin kelak saya bisa di posisi Titik GAyeng itu. Gayeng karena bisa sedul-sedul kretek di istana langit sana dengan begitu anteng.

Lantas apa yang harus dilakukan agar bisa berada di zona aman yang di damba manusia itu? Mungkin dengan terus berusaha menjadi seseorang dengan kondisi tiga hal seperti kalimat di atas. "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga".

  • Muda foya-foya
Salah satu hal yang saya syukuri dalam hidup ini adalah saat terlahir menjadi orang yang tak terlalu bergelimang materi. Sebab, andai saja saya terlahir dari keluarga yang bergelimang harta, itu akan membuat saya menjadi pribadi lupa diri yang suka berfoya-foya dalam urusan duniawi.

Hidup sederhana secara tak langsung mengajarkan pada diri saya untuk lebih prihatin dan peduli kondisi kanan kiri. Yah, menjadi seorang muda yang berfoya-foya untuk terus berkarya. Itu yang saya ingini hingga kreditan usia saya lunas nanti. Berfoya dengan menghambur-hamburkan segenap potensi yang saya punyai untuk terus berbagi. Semampunya saya ingin terus berkarya hingga usia senja.

Syukurlah saya berkenalan dengan dua hal yang mendukung niatan saya tadi. Pencinta alam dan menjadi Blogger, itulah media saya untuk berfoya-foya.

  • Tua kaya raya
Menikmati masa tua dengan hidup bercukupan, tentu menjadi dambaan setia insan. Apalagi bisa melihat anak cucu kita bisa hidup mapan. Ah, semuanya tentu pula menginginkan. Pun demikian halnya dengan saya.

Menjadi seorang tua yang kaya raya, bukan berarti harus bergelimang harta. Kaya menurut saya adalah sebuah kondisi dimana kita merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita punyai. Merasa cukup pangan, papan, sandang, tabungan, keturunan atau internetan. Itulah versi kaya menurut saya.

Bekerja, itulah yang harus dilakoni jika ingin menjadi tua kaya raya nanti. Tentu saja bekerja dengan senantiasa mengharap ridhonya. Selalu menjaga agar jalan dalam mencari rejeki itu tidak melenceng ke jalur kiri. Jangan sampai harta itu malah menjadi semacam penyakit saat tua nanti, gara-gara saya mengabaikan keberkahan saat mencari rejeki.

Itulah kaya raya menurut versi saya, dan saat ini saya sedang berproses meraihnya. Yah, gak harus memiliki deposito yang bernilai jutaan, tapi setidaknya saya tak bingung jika Marpuah nanti meminta mahar sapi sejodoh beserta kandangnya hahaha.

  • Mati masuk surga
Mati, sebuah perkara yang tak  bisa dihindari barang sedetikpun. Sebuah teka-teki yang tiada pernah kita duga datangnya. Demikan halnya dengan saya, tak pernah tahu di angka berapa kredit hidup saya terlunasi. Yang saya tahu banyak hal di perjalanan menuju angka tiga-tiga yang telah saya siakan. Tentang interaksi saya dengan Sang Pencipta. Tentang berapa rakaat saya yang terlewat. Juga tentang berapa nafsu dunia yang membuat saya lena.

Yang saya tahu sekarang saya juga tengah berproses mengejar ketertinggalan yang ada. Menjaga agar kaki saya tak kembali terperosok ke lobang kesalahan yang sama. Menjadikan hitam masa lalu sebagai pelajaran untuk menatap masa depan yang lebih terang benderang.

Jika saja jutaan umat mendamba janji Tuhan bernama surga. Impian saya sederhana saja. Tak terlalu mengharap surga itu. Tapi, mencoba memanfaatkan perpanjangan usia yang Tuhan berikan dengan melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan. Yah, kebaikan yang mungkin bisa menyelamatkan saya untuk tak berlama-lama di neraka.

Dulur blogger, mungkin itu tiga keinginan dan impian saya di titik angka tiga-tiga. Berkarya, bekerja tanpa lupa mengagungkan Asma-Nya hingga tutup usia. Bagaimana dengan anda?


POSTINGAN PENUH RASA SYUKUR INI UNTUK MEMERIAHKAN SYUKURAN RAME RAME MAMA CAL-VINLITTLE DIJA, DAN ACACICU.