Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 15 Maret 2013

Untuk Roy Suryo


Sedianya sejak dini hari tadi saya berniat untuk belajar menulis puisi. Maklum, empunya hati sedang dilanda gairah yang tak biasa. Suasana yang tepat pula untuk menulis sesuatu yang tak biasa. Meski saya tahu  hasilnya mungkin  tiada seindah  buah karya sastrawan. Tapi saya sudah bertekad setidaknya hari ini  bisa membuat sesuatu yang selama ini sulit dilakukan. Yah, sebuah puisi nyastra ala jalanan.

Segala sesuatu sudah dipersiapkan. Segelas kopi hangat disandingkan sebagai teman penyemangat. Anggaran linting sugesti pun sengaja saya naikkan dari bandrol biasanya. Tujuannya hanya satu, mungkin dengan semakin nikmat rasa asap yang dihisap, akan semakin encer pula inspirasi untuk menulis sesuatu yang mendayu-dayu.

Tapi sayang, percuma saja pernak-pernik pendukung itu disediakan. Sebab selanjutnya bukan kenyamanan yang didapat, tapi rasa mangkel yang terasa sangat. Niatan membuat tulisan yang puitis meski berakhir dengan dramatis. Gara-gara laju koneksi menurun begitu drastis. Saya melihat ada deretan garis-garis yang nampak tak sedap dipandang mata. Dan satuatu hal yang paling saya benci, sedikit sekali warna merah yang yang saya jumpai. Yah, warna merah yang menjadi denyut nadi aktifitas saya di dunia maya.  Seolah menegaskan jika saat itu saya di larang keras  internetan !

Jika dirasa ini bukanlah kejadian sekali ini. Mungkin  sudah berhari-hari saya  mengalami. Padahal kewajiban udah ditunaikan dengan membayar upeti bulanan. Sayang, semua malah  berbalas rasa tak nyaman. Ingin rasanya saya membuat semacam laporan keluhan. Tapi, saya coba menahan diri. Saya takut di ujung telpon sana nanti akan terdengar suara nan sexy lalu menghipnotis saya dengan kalimat saktinya.
"Harap bersabar ya pak, masih ada pembenahan pada provider kami"
Arrrgh.. pasti kalimat sakti itu yang dijadikan tameng mereka. Kalimat yang begitu ampuh meredam semua keluhan. Menjawab semua keluhan pelanggan dengan dalih pembenahan. Ingin rasanya saya lapor kantor Menkominfo saja. Tapi, oh no.no, rasanya saya sudah jera wadul ke kementrian Si Jenggot Naga yang sekarang menjadi penguasanya. Tapi bentar dulu.. sepertinya saya teringat seseorang yang mungkin bisa menyelesaikan masalah saya. Yah, salah satu ahli internet nomer wahid di negeri ini. Si brengos flamboyan yang nampak selalu di depan saat mencuat skandal buka-bukaan. Roy Suryo ! yah itu dia orang yang saya maksudkan.

Untuk mas Roy Suryo, sebelumnya saya ucapkan selamat atas rujuknya kembali timnas kita. Sebuah acungan jempol  buat anda, karena di saat sebagian orang menganggap anda sebagai dagelan, justru anda menjawabnya dengan kejutan menggembirakan.

Mas Suryo kita sama-sama tahu jika negeri ini tempatnya netter-netter hebat. Situs sekelas Facebook saja mungkin akan menjadi jejaring sosial kacangan, jika para netter kita enggan untuk memainkan. Masih ingatkah anda dengan heboh hacker yang terjadi kemarin? Tentang seorang pemuda yang meretas situs kepala negara? Ya, pemuda itu adalah tetangga kampung saya. Seorang pemuda yang tak mempunyai latar belakang pendidikan TI, tapi sanggup membuat coretan di situs orang nomer satu negeri ini.

Yah, untuk menguasai teknologi internet, saya rasa tak mesti memiliki ijasah tinggi. Sebab, internet itu sebenarnya cuma soal kemauan untuk belajar. Juga soal kebiasaan untuk menggunakan. Tapi, bagaimana bangsa kita bisa belajar tenang jika medianya tak memberi kenyamanan? Saya rasa regenerasi untuk menjadi ahli semacam Roy Suryo pun  turut tersendat jika didukung koneksi internet yang lambat. Sebenarnya saya pun ingin menjadi seperti anda. Menjadi seorang yang ahli di bidang dunia maya, tapi bagaimana saya bisa berproses untuk menjadi ahli, jika saat hendak belajar saja hanya warna putih  yang muncul di layar mini ini?
Gundulmu iku, emang dipikir gampang menangani masalah koneksi internet di negeri ini? Kok kamu neko-neko aja mintanya
Entahlah mas Roy,  mungkin masyarakat akar rumput macam saya terkesan tak pernah puas menuntut orang-orang seperti anda. Tapi, sejatinya kami hanya butuh sesuatu yang sederhana saja. Hanya butuh sebuah rasa nyaman berkegiatan di negeri yang dikatakan sudah lama menghirup udara kemerdekaan. Seorang petani hanya butuh pupuk tersedia kapan saja dan harga gabah tak dinilai begitu murah. Ibu rumah tangga mungkin berharap harga BBM tak melambung tinggi, agar kepul asap dapurnya bisa stabil sesuai yang diingini. Pun demikan dengan netter seperti saya, hanya butuh koneksi yang memadai, itu saja.

Kalau boleh jujur laju internet kita tak jua hanya mengendus, tapi juga mahal untuk ditebus. Mungkin karena kepandaian para marketing provider itu mengkamulufasekan masalah koneksi internet kita seakan wajar-wajar saja. Mengaburkan lemotnya internetan dengan memberi paket gratis bermain Facebookan. Padahal kita semua tahu jika internet itu bukan hanya Facebook saja.

Mungkin itulah yang menjadi PR bagi orang-orang yang mempunyai skill berlebih seperti anda di negeri ini. Tak harus muluk-muluk membuat program internet yang hentak menggelegar ke angkasa. Tapi cukup berikan kami akses internet yang memadai layaknya negara-negara tetangga kami. Murah, meriah dan saat digunakan juga tak membuat kami marah-marah. Tapi eits, jangan lakukan dulu membuat progam internet gratis dalam waktu dekat ini, sebab saya masih butuh warnet untuk mengais rejeki.
Hoi Roy Suryo itu kan Menpora, bukan Menkominfo ndul ! Enggak salah tuh laporannya?
Loh status saya kan masih lajang, apa saya tak pantas untuk disebut lagi sebagai pemuda hahaha. Saya kan juga pemuda yang ingin eksis berkarya di dunia maya? Lagipula  Roy Suryo kan juga ahli TI,  tentu juga tahu letak masalah lemotnya internet di negeri ini. Jika saya salah mungkin ada baiknya kita berkaca pada mereka yang kemarin menganggap anda dagelan. Roy Suryo seorang  ahli internetan mana bisa  menangani masalah bal-balan? itu kata mereka.  Tapi lihat ! ternyata pihak yang bersitegang di PSSI  sekarang bisa saling bergandeng tangan. Jadi apa saya salah jika sambat ke Roy Suryo tentang lemotnya koneksi internet kita? Ah saya rasa kadangkala kita terlalu terburu  mengatakan segala sesuatu itu salah, padahal mungkin saja sesuatu yang menurut kita salah itulah solusi buat masalah.

Yo wis lah, mungkin saya akhiri saja tulisan bernada mangkel ini hahaha. Saya takut nanti akan semakin mblarah kesana-sini. Sebab hari ini saya berpotensi membuat tulisan dengan nada emosi. Setidaknya saya lega karena bisa melampiaskan rasa mangkel ini dengan sesuatu yang positif. Daripada saya melakukan aksi  anarki dengan membanting modem ini. Atau melakukan tindakan tak terpuji dengan menyumpahi sang pemilik provider di status jejaring pribadi. Jangan sampai nanti ada kehebohan di dunia maya. Yah, berita heboh tentang pemilik provider yang menuntut seorang netter stres yang memakai koneksi internetnya yang tak kunjung beres.

Hidup internet Indonesia.. Jangan lemot lagi !

sumber gambar : http://beritajogja.co.id/