Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 20 April 2013

Bukan Jember, Moyen-Chari, Chad


Ada semacam kejanggalan yang seringkali saya temui di jejaring sosial Facebook. Saat melihat profil Facebooker yang kebetulan sekota dengan saya, disitu biasanya kejanggalan itu saya temukan. Sebuah kesalahan saat menyantumkan info kota asal di profil akun FB mereka. Jember, Moyen-Chari, Chad atau Djember, Moyen-Chari, Chad.

Pada awalnya saya anggap itu adalah hal yang biasa saja.  Kesimpulan saya  mereka benar-benar tak tahu atau tak mau tahu menahu dengan kejanggalan yang ada di profil FB-nya. Atau, bisa saja mereka sengaja mencantumkan sebuah informasi yang salah, agar jejaring pribadi mereka nampak lebih keren dari lainnya. Namun, setelah berulangkali saya lihat kejanggalan itu ada di banyak akun para Facebooker Jember, membuat saya penasaran untuk mencari info lebih lanjut perihal daerah tersebut.

Dari info yang saya dapat melalui Google suport center dunia maya, Djember atau Jember yang tercantum di Facebook itu bukanlah nama kota kecil yang saya cintai ini. Keduanya memiliki nama yang sama, tapi Jember saya jauh-jauh lebih keren dan hebat dari Jember di Facebook itu. Betapa tidak, kota saya terletak di negeri yang dikatakan sebagai "tanah surga", bukanlah Jember yang ada di negeri kering yang dikurung gurun Sahara. Yah, Jember di Facebook itu terletak di  Chad. Negara yang dijuluki sebagai "jantung mati Afrika". Nah loh kenapa masih ada yang ngeyel saja mencantumkan Jember, Moyen-Chari, Chad di profil Facebooknya? Sekedar koreksi saja deh buat teman-teman Facebooker Jember. Pilih Indonesia atau Chad di Afrika? hehehe.

Sedikit sekali informasi yang saya dapat tentang daerah bernama Jember ini. Hanya posisi letak geografisnya di peta satelit. Selebihnya hanya berupa info jika Jember, Moyen-Chari, Chad, adalah sebuah daerah perbukitan di distrik  Moyen-Chari dengan populasi penduduk yang rendah sekali. Lantas apa hubungan Jember Indonesia dengan Jember Afrika? Hohoho, bukan seorang blogger dong ah jika tak bisa menghubung-hubungkan apa saja.

Jika Jember, Moyen-Chari, Chad dikatakan memiliki kondisi geografis berupa perbukitan. Pun demikian halnya dengan Jember saya. Disini banyak sekali ditemui bukit-bukit kecil atau biasa di sebut gumuk. Bahkan saking banyaknya, kota kecil ini dijuluki dengan "Kota Seribu Gumuk". Sebuah maha karya Illahi yang begitu unik di negeri ini, karena hanya Jember dan Tasikmalaya saja yang memilikinya.

Menurut penelitian, bentang alam unik merupakan bekas lelehan lava dan lahar dari letusan gunung Raung beberapa ribu tahun silam.  Karena teori itulah gumuk-gumuk besar terlihat lebih banyak dijumpai di kecamatan yang relatif dekat dengan gunung Raung. Sedang wilayah jember yang lebih jauh dari Raung macam kecamatan tempat saya, memiliki gumuk-gumuk yang relatif lebih kecil. Salah satu diantara gumuk-gumuk itulah yang menjadi tempat dolan favorit saya dan pernah saya singgung dalam tulisan berjudul "Sukmo Ilang, Andai Saja Kau Mampu Kubeli"


Fungsi gumuk-gumuk itu tak hanya sebatas sebagai pemanis kontur Jember saja, tapi lebih dari itu. Sebagai tandon hujan sekaligus  filter air bersih yang saat kemarau sangat dibutuhkan. Sebagai paru-paru kota,  juga berfungsi sebagai lahan konservasi bagi sekawanan satwa kecil macam burung, kera dan mamalia kecil lainnya.

Jember bisa dikatakan sebagai daerah lembah, karena terletak diantara dua perbukitan besar yaitu Argopuro dan Kumitir. Kondisi geografis inilah yang membuat Jember berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa angin puting beliung, yang beritanya beberapa waktu yang lalu bisa kita lihat di layar kaca. Disinilah fungsi dari gumuk-gumuk kecil itu, sebagai pemecah konsentrasi laju angin agar bisa sedikit terkurangi.

Tapi sayang, seiring perkembangan jaman tameng angin alami itu satu persatu mulai dibeslah dari muka bumi. Ini soal urusan perut ! itu kata mereka. Lagi-lagi sisi ekonomi dijadikan dalih untuk membabi buta mengeksploitasi gumuk-gumuk itu. Ya..ya orang-orang pintar itu menjadikan gumuk sebagai makanan empuk agar pundi-pundi uangnya semakin gemuk.

Sumber gambar
Dulur blogger, itulah sekilas cerita tentang sisi unik dari kota saya. Jember, Jawa Timur Indonesia, bukan Jember, Moyen-Chari, Chad di Afrika. Kota kecil yang tak hanya berisi cerita ngunduh mantu Anang-Ashanty saja. Tak jua isinya Jember Fashion Carnaval yang gemanya telah mendunia. Namun adapula sisi sunyi penuh ironi berupa gumuk-gumuk tereksploitasi. Jember hingga  detik ini tengah berjuang mempertahankan julukannya. Kota kecil itu saat ini hanya menunggu jawaban saja. Yah, sebuah jawaban tentang seribu gumuk yang tetap lestari, atau justru sebaliknya berangsur hilang lalu punah dari muka bumi.

Semoga saja kau masih mampu mempertahankan wajah manismu itu, hai kota kecilku?