Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Kirim Email

Minggu, 28 April 2013

Emak....



Emak, Ning kemarin jatuh lagi....
Ya Mak, tensi darah Ning turun lagi dan sudah diwanti-wanti untuk banyak istirahat, tapi Ning masih saja seperti emak. Masih saja tak mau menjadi beban, meski sekujur tubuh terasa kesakitan. Padahal sudah berkali-kali kukatakan, saat Ning sakit, sekecil apapun urusan biar  aku saja yang cukupkan. Tapi, Ning masih bandel saja. Seakan tak mau membuat repot anak-anaknya.

Mak, melihat Ning sore itu membuatku teringat saat-saat bersamamu dulu. Ya, kejadian malam itu. Saat Emak mengalami hal yang sama seperti Ning kemarin. Sama-sama jatuh dan juga mengaduh. Malam yang menjadi firasat jika sua kita di dunia hanya tinggal sesaat. Tapi Mak, justru sejak saat itulah aku merasa menjadi seorang lelaki terhormat. Yah, merasa terhormat karena bisa menemani juga  melayani hingga akhir hayatmu.

Sejak malam itu aku benar-benar merasa menjadi sesuatu. Aku bangga menjadi seorang pelayanmu. Menjaga kedua kelopak mata agar selalu siaga dan tak terlalu lelap dalam tidur malamku. Menjadi seorang pengawal pribadi, agar kau tak terjatuh untuk kedua kali. Menuangkan segelas air saat kau merasa dahaga. Memijat lembut pundak dan punggungmu yang sudah semakin renta. Ah Emak, aku kangen suasana itu. Bahkan aku merasa kurang dan masih kurang saja melayanimu. Sebab, aku tahu apa yang kulakukan sangatlah tak setimpal dengan kasih sayang yang kau berikan.

Mak,  tak sekalipun pernah kukecap lezatnya air kehidupan yang telah kau susukan. Tapi bagiku kaulah yang telah memberi aku kehidupan. Lelaki kecil terbuang yang kau rawat dengan limpahan kasih sayang. Tanpa pernah kau pedulikan tentang siapa aku dan darimana asal-usulku. Tidak seperti mereka Mak, yang masih saja mempertanyakan tentang status itu.

Mak, aku tahu kau adalah perempuan yang tak bergelimang perhiasan bernama ilmu pengetahuan. Kau tak pernah mengenal tulis dan baca, tapi petuah bijakmu hingga kini selalu aku baca. "Asal Jadi Daging", prinsip hidupku yang kini telah mendarah daging. Tentang arti sebuah keberkahan hidup. Tentang bagaimana tubuh kita ditegakkan dengan tulang-tulang yang penuh halalan. Ah Mak, teori mencari rejekimu itu begitu sederhana, tapi mampu mengalahkan bertebal-tebal buku teori motivasi yang telah kubaca.

Mak, maaf jika hingga akhir hayatmu aku masih belum mampu mempersembahkan matahari untukmu. Bukan Mak, bukan berarti aku tak sungguh-sungguh mengejar matahari itu. Aku hanya ingin memegang teguh amanahmu malam itu. Menjadi lelaki yang menemani Ning hingga kapan saja. Menjaganya agar tak kembali jatuh untuk kesekian kalinya.

Biarlah Mak, biarlah untuk sementara aku sendiri yang menjadi matahari itu. Biarlah aku menjadi matahari yang menyinari sekelilingnya, semampu yang aku bisa. Setidaknya aku bisa menjadi matahari bagi diriku sendiri, atau siapa saja yang mau kusinari.  Hingga nanti ada matahari yang benar-benar mau menyinari rumah ini.

Mak, ini aku lelaki kecilmu dulu. Malam ini hanya ingin mengatakan padamu.. Mak...Aku rindu..


* Ning : Panggilan untuk ibu Jember saya
* Untuk bunga, jika saja ada yang bertanya tentang siapa aku. Bilang saja aku anak Ning dan Emakku, itu saja


Sekilas Pariwara...

29 komentar:

  1. keren ceritax bung, dr hati ya... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak.. menulis saja apa yang dirasa

      Hapus
    2. ia mas, soalnya kalau maksain nulis sesuatu yang tidak dirasa maka hasilnya juga gitu :)

      Hapus
  2. Aaaa...... (ngaca pada diri sendiri dulu)

    [TOS] Ayoo.. kita jadi matahari untuk ibu yang mengasuh kita.

    BalasHapus
  3. Giamana kabar Emak dan Ning sekarang Uncle, apa sudah lebih oke ?

    Trus, mulai kapan Marpuah ganti Matahari hehehe

    Sukses ngontese Uncle :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah itu malah kuganti Bunga sekarang kang hahaha

      Hapus
  4. asal jadi daging itu klop dengan mangan ora mangan asal wareg kali ya, om..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh... kumpul-kumpul tapi tetep mangan aja Kang

      Hapus
  5. Esih, untuk bunga jare :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. begh meneng rah sam.. rahasia itu :P

      Hapus
  6. wah ... jadi inget ibuku mas

    BalasHapus
  7. Menyambungkan tulisan ini dengan kisah yang pernah "dituturkan" mas Lozz. Makin memahami kondisinya.
    Buat bunga? Apakah ini bunga yang akan dipetik? Berarti dia mmg membutuhkan matahari utk selalu mekar.

    BalasHapus
  8. salam buat ning dan bunga... biarlah mereka terus mekar dan uncle sbg mataharinya :)

    BalasHapus
  9. iyaaaah, untuk emak...aku kangen ibuku. Aku kangen terlalu mengabaikan kesehatan ibuku *tapi itu dulu, sekarang ketika jauh *aku selalu tanya "gimana kabarnya bu" aku juga enggak mau melihat ibuku jatuh lagi, huaaaa sedih pedih

    BalasHapus
  10. wew...
    dalem banget. segala sesuatu yang dituliskan dari hati memang akan selalu dahsyat hasilnya. tulisanmu ini cak, terasa banget di hati. sekarang aku juga lagi jauh dari ibu. terpisah jarak yang tak bisa aku tempuh dalam hitungan menit. ah, segala tentang ibu memang juga tentang hati....

    BalasHapus
  11. mak nyess ...
    Bunga lagi dimana ini uncle ... :D

    BalasHapus
  12. nangis,,, titip salam hormat untuk emak n ning mu,,, doa selalu terpanjat untuk beliau2 :)

    BalasHapus
  13. Diawal tadi saya pikir 'Ning' itu adik... membacanya malah semakin menambah tanya ^^ .,

    BalasHapus
  14. Aku baru tahu kalau disana panggilan Ning itu untuk ibu

    BalasHapus
  15. Dalam banget tulisannya kali ini Kang?
    Membayangkan betapa bahagianya hati setiap Ibu saat di hari tuanya anaknya mau merawat dengan penuh kasih.
    Ibu tak butuh apa-apa... selain cinta dari anaknya. :)

    BalasHapus
  16. Aih.... ada Bunga yang disebut-sebut disini, dan sepertinya banyak yang penasaran dg munculnya nama ini hehehe #kepo

    BalasHapus
  17. Oalah kirain ning geulis gitu... ternyata panggilan untuk emak ya.... Berati uncle punya 2 emak ya....

    Marpuah berganti bunga ya uncle....

    BalasHapus
  18. Ya Ampuun, tak kira Ning itu nama perempuan lho, Kanda. :)

    Darah rendah? Sama dengaku. . .
    Sekarang sudah sehat, kan?

    BalasHapus
  19. melayani ning dan mak melebihi ibu kandung sendiri...luarbiasa, cerita yang sungguh indah :-)

    BalasHapus
  20. Baru mampir lagi ke rumah dulur ku ini. Surprise banget bacanya. aduh. baru pertama kali baca tulisanmu yg seperti ini :)

    BalasHapus
  21. Hiks.. Terharu....

    Kirim do'a saja buat Emak... Dan buat Ning, semoga sehat selalu yaaa..

    Cemunguuuudh Uncle, matahari akan selalu bersinar :-D

    BalasHapus