Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 15 April 2013

Gardu Kecil itu Rumah Kedua Saya

Andai saja saya lahir di tahun 60-an, mungkin saya masih bisa mencicipi suasana kereta api hilir mudik di depan rumah. Ya, rumah saya didirikan berdampingan dengan lahan milik PJKA. Bahkan pekarangan rumah saya merupakan tanah sewa dari jawatan ular besi milik negara. Makanya tak heran jika posisi rumah saya nampak berbeda dengan rumah-rumah lainnya. Posisinya terlihat miring menghadap arah barat daya, karena mungkin dulu dibangun menyesuaikan dengan tata letak rel kereta yang ada di depannya. Unik, sekaligus sebagai tanda jika rumah saya usianya jauh lebih tua dari rumah di sekitarnya.


Banyak diantara rumah-rumah yang berdiri di pinggir bekas rel itu difungsikan sebagai rumah kontrakan saja. Mungkin  saja para pemiliknya  berpikir secara ekonomis dengan tak membangun rumah mereka secara megah. Sebagai antisipasi tentunya agar mereka tak terlalu merugi manakala  pihak PJKA kelak meminta kembali lahannya. Kondisi inilah yang juga membuat unik  kampung saya. Sebab bisa dipastikan hampir setiap tahunnya kampung saya kedatangan warga baru. Bahkan saat mengambil gambar sekitar rumah sore tadi, saya baru sadar jika tetangga pas samping kanan adalah seorang bidan. Padahal bisa dikatakan tetangga tersebut sudah menghuni rumah itu seminggu yang lalu. Entahlah, kok bisa tetangga itu tak terdeteksi radar saya?. Apa jadinya ya andai teroris yang menjadi tetangga saya saudara-saudara? hahaha.


Satu hal lagi yang membuat unik adalah jalan paving yang membelah kampung saya. Ya, baru saja jalan kecil itu dihiasi dengan paving baru. Melanjutkan proyek beberapa tahun sebelumnya yang hanya melakukan pemavingan  kurang dari separuh panjang jalan yang ada.

Saya bilang unik, bahkan lucu mengenai proyek paving jalan satu ini. Betapa tidak, proyek paving yang pertama dikerjakan mulai dari ujung jalan selatan dan berhenti beberapa meter sebelum depan rumah saya. Di proyek kemarin, giliran ujung jalan sebelah utara yang menjadi titik awal pengerjaannya. Jika dipikir proyek tersebut harusnya sudah rampung, dengan hasil pavingan yang tersambung dengan proyek sebelumnya. Justru sesuatu yang aneh terjadi. Lagi-lagi pemavingan berhenti kira-kira beberapa meter sebelum depan rumah.Unik kan?

Apa saya curiga? Jelas saya curiga. Sebagai warga saya juga merasa iri melihat kondisi yang terjadi. Tapi sudahlah,  wong cilik tentunya hanya bisa menjadi penonton saja di negeri para pesulap ini. Nikmati saja segala pertunjukan simsalabim yang ada. Yah, setidaknya jalan tak berpaving itu bisa menjadi penanda jika nanti dulur-dulur dari Makassar bingung mencari rumah saya hehe.


Satu  lagi yang menjadi penanda rumah saya adalah sebuah bangunan kecil mirip poskamling. Letaknya di depan rumah saya dan dulu menjadi semacam tempat jagongan para warga. Awalnya bentuk bangunan ini sederhana. Hanya berupa balai bambu tanpa bilik sekat dengan atap genteng seadanya. Karena lama tak difungsikan dan terawat dengan baik, akhirnya saya dan teman-teman merenovasi bangunan itu. Memperluas ukurannya, memberi bilik sekat dari bambu dan melantainya dengan semen. Sekret arek P.A ! begitulah orang-orang sekitar biasa menyebutnya.


Di tempat itulah saya dan adik-adik saya belajar tentang sebuah dunia bernama pencinta alam. Bekas gardu warga itu sekarang menjadi naungan kami untuk berkarya. Begitu sederhana, tapi bagi kami sarat akan makna. Bangunan kecil itu sudah menjadi semacam rumah kedua dari masing-masing kami. Tempat kami saling berbagi suka, duka dan sekaligus berkarya melalui sebuah media bernama sampah.

Banyak yang bilang sekretariat kami begitu nyaman digunakan sebagai tempat untuk melepas lelah karena pekerjaan. Bahkan banyak diantara mereka yang sengaja datang ke tempat ini untuk sekedar menumpang tidur saat jam istirahat kerja tiba. Mereka bilang suasana sejuknya begitu ampuh untuk membujuk mata segera terpejam.

Saat sore hari biasanya kami  sering  nongkrong bareng di sekretariat tercinta. Secangkir kopi untuk bersama, sambil menanti pemandangan yang selalu dinanti saat malam menjelang tiba. Bukan..bukan sunset menawan yang kita nantikan, tapi cuma kelelawar yang kita tunggu untuk keluar. Yah, ribuan kelelawar yang nampak keluar dari sebuah gedung tinggi, itulah yang menjadi kesukaan kami saat sore hari.

Gedung tinggi itu dimiliki oleh seorang pengusaha sarang burung walet. Terlihat jauh lebih tinggi dari gedung-gedung di sekitarnya dan pernah menjadi kontroversi di kampung saya. Sebuah rumor yang beritanya sampai  pula muncul di headlines Metro TV. Berita tentang sebuah wabah penyakit yang dicurigai datang dari virus walet. Sempat sedikit memanas dan hampir saja warga mencoba menutup paksa gedung kala itu. Hingga muncul pernyataan dari pihak dinas kesehatan, jika penyakit yang menyerang warga itu ditimbulkan oleh virus Chikungunya.


Dulur blogger, itulah sedikit cerita tentang sekitar rumah saya. Bagaimana dengan sekitar rumah anda?