Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 05 April 2013

Jadilah Ikan yang Pintar


Hingga hari ini memancing masih menjadi salah satu hiburan favorit saya. Ketika penat mulai melanda saat itulah biasanya  kesenangan yang satu ini saya lakukan. Maklum, saya bukanlah orang kantoran. Tentunya sulit sekali jika ingin menikmati week end layaknya mereka.  Melancong ke aneka tempat wisata. Plesiran ke luar kota yang tentunya membutuhkan banyak dana. Dan, memancing inilah solusi yang ramah buat isi kantong saya. Murah, meriah dan yang paling penting adalah sama-sama memberikan sensasi yang wah.

Makin hari memancing sepertinya sudah menjadi hiburan yang tak murah lagi. Betapa tidak, dulu seingat saya memancing itu adalah perkara yang gampang dilakukan. Tinggal lari ke kali sebelah, atau menuju saluran irigasi tengah sawah, beberapa jam saja kita bisa pulang melangkah gagah. Itulah sensasi dari memancing. Pulang bak pahlawan dari medan laga. Tersenyum bangga dengan harta rampasan berupa ikan-ikan hasil tangkapan. Sayang, semua itu sekarang hanya menjadi nostalgia masa kecil saja. Sungai-sungai itu tak lagi berisi ikan yang melimpah ruah. Yang ada hanya genangan comberan saja, tempat lalu lalang karnaval sampah.

Ada alternatif lain untuk mengail ikan, tapi yang ini butuh dana tambahan. Menuju kolam pemancingan, mencari peruntungan dengan ikan-ikan yang telah disediakan. Namun jangan salah, kolam pemancingan bukanlah jaminan jika ikan-ikan itu mudah kita dapatkan.

Ikan sekarang itu jauh lebih pintar. Tak lagi mudah terbujuk aneka macam umpan yang disuguhkan. Lumut, cacing, tempe, jelas itu makanan ndeso bagi mereka. Sebab, makanan modern macam roti dan biskuit saja mereka indahkan. Membuat saya curiga jangan-jangan para ikan sekarang  sudah membentuk paguyuban. Ya..ya semacam konsiprasi berjemaah untuk emoh mencaplok umpan lagi.

Saat musim mencari ikan tiba saat itulah banyak muncul para pemancing di masyarakat kita. Para pemancing kepentingan yang menyuguhkan aneka umpan yang menggiurkan. Tujuannya hanya satu, agar si ikan mau mencaplok umpannya untuk memuluskan keinginan mereka.

Adakalanya mereka menggunakan umpan sederhana macam mengail ikan dengan cacing. Bingkisan sembako, amplop berisi angpao, atau mengisi kas perkumpulan pengajian kampung, itulah umpan para pemancing kelas teri. Saat ajang pilkades tiba biasanya pemancing yang satu ini kita temui.

Lalu apa umpan para pemancing kelas kakap? Hmm, kalau yang satu ini lain lagi. Umpan mereka tak lagi berupa materi siap saji, tapi kadang bisa membuat para ikan terlena hati. Umpan itu biasanya mereka tebarkan melalui janji-janji bombastis untuk membawa perubahan yang lebih manis. Saat musim pilkada, caleg atau kepala negara, saat itulah para pemancing nampak begitu mesra dengan para ikannya. Bahkan ada pula diantaranya yang nampak menikmati secangkir kopi bareng rakyat di warung pasar yang dia kunjungi. Apakah setelah musim mencari ikan mereka tetap mau melakukan itu? Halaagh, seribu satu jika ada yang mau seperti itu !

Dulur blogger, semoga saja masyarakat akar rumput macam kita semakin pintar saat musim  ikan tiba. Menjadi ikan yang tak sekedar "hleb" saja mencaplok umpan yang ada. Sebab, saat musim ikan itulah sebenarnya kita adalah raja. Seorang raja yang berhak menentukan mahal tidaknya suara kita. Jangan sampai kita menjadi ikan murahan. Yah, menjadi seorang pendukung yang begitu fanatik, gara-gara terbuai bujuk rayu pemancing yang terlihat begitu simpatik.

Hidup umpan, eh ikan !