Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 08 April 2013

Roda itu Masih Berputar

Untuk kamu yang baru saja menghapus bulir bening itu. Masihkah kau ingat tentang cerita kita beberapa waktu yang lalu? Saat kita sama-sama susuri jalanan kota kecil itu. Kau dan aku di motor yang sama, menuju suatu tempat yang telah kita sepakati. Nikmati malam minggu itu layaknya remaja saja.
 
Tentunya kau masih ingat kan tentang secuil cerita perjalanan kita? Tentang tragedi  di pertigaan lampu merah itu. Saat tiba-tiba saja seorang pria berseragam menghentikan laju motor kita. Mengggiring kita berdua menuju sebuah pos jaga. Mendakwa dengan membacakan sederet pasal yang sama sekali tak aku dengarkan. Tilang ! itulah vonis mereka buatku.

Aku tahu ada semacam ketakutan yang kulihat dari bola matamu. Mungkin saja kamu khawatir aku akan melakukan aksi nekat saja di pos jaga itu. Saat aku mencecar vonis mereka dengan bermacam protes yang kulontarkan. Bukan, bukan maksudku untuk menentang para pria berseragam itu. Bukan pula aku tak mau patuh pada aturan main yang berlaku. Aku hanya ingin menuntut sedikit keadilan pada diri kita. Ya, sedikit keadilan saja. Kenapa mereka terlihat diam saat kutunjukkan lalu lalang motor-motor lain yang tak disertai pengaman? Entahlah, kurasa mungkin malam itu memang menjadi hari naasku. Sebab, sengotot apapun protesku hasilnya akan sama juga. Yah, mesti mengisi kantong mereka dengan uang kas agar kita berdua bisa lepas.

Jika bercerita tentang kisah kita sepertinya tak ubahnya seperti tragedi lampu merah itu. Kita pernah sama-sama mencoba memautkan rasa dalam satu bahtera cinta. Sama-sama memiliki keinginan dan tujuan sama agar semua itu tak hanya sebatas angan. Sayang, ada sesuatu yang selanjutnya menghadang langkah kita layaknya pria berseragam itu. Semacam tembok kokoh yang menjadi pembatas cinta kita. Meski kita pernah sama-sama mencoba robohkan tembok kokoh itu. Hasilnya masih sama saja. Tembok itu masih kokoh berdiri, bahkan semakin menjulang dan menghalangi jari jemari kita untuk saling bergandengan.

Pernah pula aku mencoba melakukan semacam protes. Mempertanyakan tentang keadilan yang harus kita terima. Namun akhirnya kusadar jika semua itu hanya sia-sia saja. Ah, andai saja melakukan kompromi pada kondisi semudah bernegoisasi dengan polisi. Andai saja  tembok kokoh itu bisa dibeli dengan selembar I Gusti Ngurah Rai, mungkin sekarang kita sudah gapai tujuan yang dulu sama-sama diidamkan .

Tapi sudahlah, kurasa ini yang disebut takdir, tapi itu bukan berarti perjalanan kita juga turut berakhir. Selama masih ada bahan bakar bernama usia, tentu saja roda itu akan terus berputar. Laju kehidupan kita akan terus bergulir, hingga nanti masa kita berakhir. Denganmu atau tanpamu roda itu pasti akan terus berjalan. Pun demikian tanpaku, kurasa kau pun akan mampu menjalani hari-harimu.

Kurasa hanya butuh rasa ikhlas saja menerima kenyataan yang ada. Selebihnya kita hanya perlu membiasakan  sesuatu yang baru muncul dalam hidup kita selanjutnya. Yah, membiasakan diri untuk tak lagi mengangankan semua impian kita, itu saja. Selebihnya kita harus  terus membuka hati untuk siapa saja. Sudi pula mempersilakan jika saja ada diantara mereka yang ingin mencoba menjadi nakhoda atau membonceng di bahtera cinta kita. Sebab, bisa jadi salah satu diantaranya  kelak akan menjadi teman sejati perjalanan kita. Semoga.