Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 04 Mei 2013

Merah Yang Tak Membuat Marah


Saat masih SD bisa dikatakan saya memiliki prestasi yang lumayan moncer di sekolahan. Enam tahun perjalanan  di bangku dasar, semuanya saya lalui dengan prestasi. Predikat Numero uno, seakan menjadi langganan bagi saya di setiap catur wulannya.  Bahkan  pernah pula saya mengukir sejarah prestasi nan gemilang  bagi SD tersebut. Sejarah, sebab saya menjadi satu-satunya siswa yang bisa mengukir prestasi indah hingga SD itu dinyatakan bubar oleh pemerintah. Gemilang, karena  sekolah pinggiran ternyata siswanya juga mampu bersaing dengan sekolah-sekolah unggulan. Yah, menjadi juara dua lomba mata pelajaran tingkat kabupaten. Setelah itu piye? Halaagh emboh.. Intine saya kecil ini pinter, tapi makin gede malah makin keblinger hahaha.

Prestasi moncer itu saya rasa tak semata didapat dari sekolah saja. Justru Ibu yang menurut saya memberikan andil besar bagi prestasi pendidikan dasar saya. Ibu sudah menjadi semacam guru besar setelah guru-guru SD saya. Dengan metode pendidikan yang  untuk sekarang sepertinya sudah tak cocok lagi untuk diterapkan. Keras, disiplin juga sarat hukuman apabila saya melakukan kesalahan. Ibu tak segan memberi bentakan dan jeweran apabila saya terlihat sulit saja menerima pelajaran yang beliau berikan. Menangis seakan menjadi sebuah upeti wajib pada seorang Guru Besar bernama Ibu. Apakah saat itu saya menilai ibu kejam? Hmmm.. saya rasa tidak. Saya justru merasa menangis itu semacam doa sebelum belajar saja. Dengan menangis itu seakan membuka jalan pikiran untuk menerima sebanyak-banyaknya materi yang ibu berikan. Aneh kan?

Royal jeweran bukan berarti Ibu saya pelit dalam hal memberi penghargaan. Ibu atau yang biasa saya panggil Ning ini tak pernah lupa memberi semacam reward pada setiap prestasi saya. Bisa dipastikan setiap akhir catur wulan ada saja barang baru yang saya dapatkan. Meski hanya sebatas sepatu baru, tas ataupun baju, tapi bagi anak kecil macam saya dulu semua itu lebih dari segala-galanya. Harus saya  buru dan dapatkan setiap akhir catur wulan. Reward yang begitu menggiurkan tapi ada catatan dari Guru Besar yang harus saya camkan. "Jangan nodai pelajaran sekolah  dengan warna merah", itu saja.

Pernah di suatu ketika saya merasa kiamat datang sebelum waktunya. Seingat saya saat itu saya telah menginjak kelas lima.  Hal yang paling saya takuti ternyata terjadi hari itu. Mendapat nilai lima dari mata pelajaran yang kurang saya suka, matematika. Nilai yang sontak membuat mata saya memerah. Ya, ada angka lima pada buku pelajaran saya. Lima yang berarti merah. Warna merah yang bisa membuat Guru Besar rumah akan marah-marah.

Entah kenapa tiba-tiba saja saya punya niatan licik sesampai di rumah. Saya ingin menghilangkan jejak hasil ulangan yang baru saja saya dapatkan. Ya, saya tak mau Guru Besar marah gara-gara di buku pelajaran saya ada warna merah. Saya lenyapkan warna merah itu dengan menyobek halaman ulangan di buku pelajaran. Saya remas-remas dengan begitu rapi agar Ibu tak lagi menjumpai. Membuangnya begitu saja di bawah balai bambu di ruang dapur.

Dasar apes ! Sepandai-pandainya koruptor kelak akan tertangkap layar monitor. Pun demikian dengan saya, Ibu ternyata memergoki lembaran aib itu. Dan eng.ing.eng.. apa yang terjadi saudara-saudara? hahaha. Saya tak begitu ingat apa yang diucapkan ibu ketika murka kala itu. Ibu sebenarnya tak begitu mempersoalkan tentang warna merah yang ada dalam buku pelajaran saya. Ibu hanya kecewa saja dengan kejujuran saya, itu saja. Dan satu hal yang paling saya ingat, saat itu punggung saya mendapat hadiah berupa memar dari lecutan tali sabuk Ibu. Lecutan yang tak hanya membuat saya menjadi seorang anak kecil yang trauma dengan warna merah. Tapi, sekaligus melecut saya untuk selalu menghindari warna itu muncul lagi di kertas ulangan saya. Yang hasilnya membuat saya meraih prestasi puncak saat kelas enam nantinya.

Saat besar seperti sekarang ini, warna merah tak lagi menjadi momok bagi saya. Justru merah  sekarang menjadi warna yang amat saya sukai dan selalu nanti. Bukan, saya bukanlah partisipan dari partai penyuka warna berani itu. Ini berhubungan dengan aktifitas yang saya lakoni tiap hari. Sebagai seseorang yang menjadikan dunia maya sebagai geliat hidupnya. Koneksi, itulah nyawa saya saat di dunia maya. Sebuah nyawa berupa warna merah yang selalu dinanti munculnya di grafik modem saya. Banyak warna merah itu berarti akan membuat senyum saya terlihat renyah. Sebaliknya, jarang atau bahkan tak sekalipun saya jumpai warna merah, hohohoho..tolong jangan salahkan saya kalau nanti marah-marah.

Ya, saya akan marah seperti marahnya Guru Besar  saat memergoki saya berusaha melenyapkan warna merah.