Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 23 Mei 2013

Dobel Aplaus di Aksi Panggungku

Meski cerita ini terjadi berpuluh tahun silam, tapi detil kejadiannya hingga kini masih membekas dalam memori saya. Kisah ini terjadi ketika saya masih di bangku TK. Tepatnya di acara panggung acara perpisahan siswa.

Seperti yang kita ketahui, hampir di tiap sekolah menggelar semacam prosesi untuk merayakan kelulusan siswanya. Prosesi itu biasanya berupa panggung hiburan. Diisi oleh para siswa itu sendiri, dengan menyuguhkan berbagai atraksi macam paduan suara, menyanyi ataupun seni tari. Demikian halnya dengan sekolah saya, menggelar acara serupa. Dan kebetulan saya pun mendapat jatah untuk mengisi acara perpisahan di sekolah saya. Deklamasi, itulah atraksi yang akan saya perani. Sebagai kenangan untuk sekolah yang sebentar lagi akan saya tinggalkan.

Saya sudah tak mampu lagi mengingat  isi dari puisi tersebut. Seingat saya tema dari puisi itu tentang perjuangan Pangeran Diponegoro. Puisi itu dibuat oleh ibu Ning, yang beliau diktekan  setiap hari agar saya bisa hafal isinya. Selebihnya saya hanya ingat jika Ning juga sudah menyiapkan properti berupa kostum ala Pangeran Diponegoro lengkap dengan sorbannya. Ya.ya.ya sorban, itulah kostum yang paling saya ingat hingga sekarang.

Mendekati hari H, Ning makin intensif saja melatih saya. Membaca deklamasi sambil berdiri di atas kasur, itulah latihan yang harus saya lakukan sebelum tidur. Berulang-ulang kegiatan itu dilakukan, hingga isi puisi itu bisa saya hafal di luar kepala. Agar deklamasi saya terlihat meyakinkan, Ning mengajari saya  tentang penekanan kalimat pada puisi yang saya baca. Beliau juga mengajari tentang mimik dan gerak-gerik saya saat di panggung. Tentang kapan saya harus mengepalkan tangan saat kalimat puisi menceritakan semangat perjuangan. Tentang kapan saya harus mengacungkan jari lurus ke depan saat kalimat saya berisi peringatan. Tak lupa pula Ning mengajari saya semacam kode penghormatan dengan cara menganggukan badan pada khalayak yang ada di depan.

Tibalah waktunya untuk menunjukkan dari hasil latihan berhari-hari. Bocah mungil itu nampak menaiki panggung saat namanya dipanggil pembawa acara. Begitu percaya diri berdiri di depan mikropon, lengkap dengan kostum plus sorban ala Diponegoro-nya.

Ada yang bilang langkah awal di panggung itu menentukan sempurna tidaknya penampilan kita di depan. Kesalahan di awal bisa jadi akan membuat rusak aksi panggung kita setelahnya. Alhamdulillah, ternyata saya bisa lewati fase awal aksi panggung tersebut dengan sempurna. Uluk salam saya berbalas riuh ramai sorak penonton yang ada. Seakan memberi suntikan semangat untuk melalap ludes isi puisi di depan mereka.

Saat saya menampilkan bahasa tubuh dengan mengepalkan tangan, penonton pun membalasnya dengan tepukan tangan. Pun demikian ketika saya mengacungkan jari, para penonton ikut mengamini dengan sorak sorai yang menjadi-jadi. Malam itu seakan saya menjadi seorang bintang pentas yang bisa menghibur penontonnya dengan puas.

Hingga akhirnya....

Sesuai skenario deklamasi itu harus saya sudahi dengan aksi apresiasi kepada para penonton. Dengan memberikan anggukan badan sebagai imbal balik atas aplaus yang mereka berikan. Tapi sayang, sebuah insiden kemudian terjadi saudara-saudara. Sebuah insiden yang membuat aksi panggung saya menjadi tidak sempurna.

Saya sudah dilatih cara membungkukkan badan dengan cara yang baik dan benar, tapi Ning lupa memberitahu saya tentang tiang mikropon yang nanti ada di depan saya. Ya, ujung mikropon itu dengan telak menghantam jidat saya ! Dan setelahnya bisa ditebak... Tanpa dikomando penonton pun memberi bonus tepuk tangan secara sukarela, dan tentu saja dengan iringan jerit tangis bocah kecil yang merasa kesakitan di jidatnya hahaha.

Cerita ini ditulis untuk menutup acara Vania's May Day