Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 28 Mei 2013

Wisata Kopdar : Bunda Yati Yang Ada Jauh Di Sana (Jakarta bagian 2)

Sepertinya tak sia-sia saya memiliki guide handal macam Una. Segudang pengalaman jalan-jalan yang dia dapat dari berbagai negara, terlihat nyata saat dia menjadi guide saya di Jakarta. Tak hanya piawai mengatur strategi tempat mana saja yang akan saya kunjungi. Tapi, banyak pula pengalaman-pengalaman baru yang saya dapat saat dolan bersamanya. Memperoleh pengalaman pertama menikmati nyamannya fasilitas ibukota bernama busway. Gara-gara Una saya pun bisa berkenalan dengan aneka makanan khas orang kota, yang terus terang saja membuat lidah saya terasa fals saat mengecapnya.

Mungkin terdengar ndeso banget dan lucu ya, tapi bagi saya pengalaman itu benar-benar baru dan mungkin sulit dilupa.  Dan satu hal lagi, Una telah membuat saya serasa anak megapolitan saja. Betapa tidak, selama di Jakarta Una lebih banyak memilih jasa taksi sebagai angkutan kami saat wira-wiri. Ah, tiga hari yang membuat saya serasa menjadi backpacker gedongan saja hahaha.

Sore hari saat asyik menikmati zona internet wifi di rumah Bunda Lahfy, Una pun tiba dari kampus untuk menjalankan tugasnya menculik saya. Setelah sekian lama kami  dan Bunda Lahfy berbincang, Una lalu menanyakan blogger mana selanjutnya yang akan saya sambangi.

Bunda Yati

Nama itulah yang saat itu muncul dalam pikiran saya. Jika ada pertanyaan kenapa Bunda Yati yang menjadi prioritas hari pertama  saya di Jakarta? Alasannya sederhana, sebab saya lebih dulu kenal beliau saat masih belum menjadi seorang blogger. Bunda pun kala itu belum intens di dunia blogging seperti sekarang. Bahkan bisa dikatakan pertemanan kami diawali dengan jalan yang unik. Unik karena saya lebih dulu mengenal beliau lewat sebuah lirik. Ya, dari lirik lagu yang dulu suka saya nyanyikan sambil memainkan gitar. Tapi, eits jangan salah, penyanyi aslinya bukan saya loh. Tapi, Masbro empunya Acacicu. Penasaran lagunya? Monggo saya sunahkan untuk menyedotnya berjamaah DISINI.

Sebenarnya Bunda Lahfy berniat turut serta dolan bareng kami. Dengan syarat menunggu lebih dulu sang suami pulang kerja guna mendapat stempel ijinnya. Sayang, hingga larut menjelang sang suami tak kunjung datang. Bunda Lahfy pun tak bisa turut bareng kami. Ah sayang, andai Bunda Lahfy ikutan, mungkin kopdarnya akan semakin menyenangkan, begitu pikir saya.

Sebelum berangkat saya sempatkan untuk kembali membuka Facebook. Sedikit mengintip beberapa komentar dari teman-teman FB tentang  wisata kopdar saya, dan salah satunya adalah Om NH. Beliau mengabarkan jika rumahnya berada satu jalur perjalanan dengan rumah Bunda Yati. Sempat saya berinisiatif untuk menculik Om NH dan mengajak beliau untuk turut serta. Namun batal dilakukan, karena kesibukan yang tak bisa beliau tinggalkan. Lagi-lagi saya bergumam dalam hati, Ah andai saja Om NH bisa turut serta, mungkin kopdar nanti akan semakin ceria.

Dengan menumpang taksi berwarna biru, saya memulai petualangan berpura menjadi seorang backpacker gedongan. Membelah jalanan ibukota yang saat itu terlihat sibuk dengan geliat macetnya. Selama perjalanan berkali-kali Una mengabarkan posisi kami kepada Bunda Yati. Pun demikian yang dilakukan beliau, kerap sekali menanyakan sampai dimana perjalanan kami. Saya tahu Bunda mungkin mulai resah menunggu kedatangan kami. Sama resahnya pula dengan Una yang sempat berbisik di telinga saya jika ada kemungkinan pak sopir mengajak kami muter-muter agak lama. Sebuah bisikan yang hanya bisa saya jawab dalam hati. "loe aje yang anak Jakarte kagak paham, apalagi gue anak kampuang. Jadi meneketehe hehe".

Setelah sekian lama akhirnya kami pun tiba di gerbang perumahan Bunda Yati. Dari dalam taksi saya melihat bunda sudah menunggu di kejauhan. Alhamdulillah, akhirnya keturutan juga nih bertemu salah satu emak online saya.

Pribadi yang hangat,  itu kesan yang saya dapat saat pertama bertemu sosok bunda Yati. Hangat, sehangat pelukan selamat datang yang saya dapat . Mungkin jika digambarkan dalam sinetron mirip adegan anak hilang yang baru ketemu emaknya kali ya hahaha. Pun demikian ketika kami membuka obrolan, nyaris tiada tanda jika sebelumnya kami hanya kenal melalui dunia maya. Ah, sungguh kopdar yang begitu aduhai indahnya. Saya pun bersyukur dalam hati, sebab perjalanan jauh yang saya tempuh ternyata bisa bermanfaat pula buat Bunda. Yah, meski hanya mampu memberikan les kilat tentang setting kotak komentar pada blog Bunda. Setidaknya keinginan saya untuk berbagi ilmu ngeblog  langsung di hadapan beliau akhirnya terwujud juga. Alhamdulillah.

Tiga jam bersama Bunda Yati serasa tiga menit saja waktu yang kami lalui. Berhubung waktu sudah larut malam. kami pun memutuskan untuk pulang. Sempat ada kejadian lucu yang saya alami saat pulang dari rumah Bunda Yati. Saat berpamitan ada sebuah pesan yang saya sampaikan sembari mencium tangan bunda sebagai tanda perpisahan.  

"Doakan kelak saya bisa dolan lagi kesini ya Bun, mungkin setahun atau dua tahun lagi"

Setelah itu saya pun meluncur bareng Una kembali ke Jakarta. Nah kira-kira lima belas menit kemudian Bunda menelpon Una, mengabarkan jika ada tas berwarna hitam yang ketinggalan. Ya, tas berwarna hitam milik saya tertinggal di sana ! Mau tidak mau pak sopir harus balik arah kemudi menuju rumah Bunda Yati kembali. Yang artinya saya pun harus berpamitan untuk kali kedua. Yah, saya harus meremidi isi pesan pamit saya sebelumnya. "Ternyata enggak sampai setahun ya Bun, saya balik lagi kesini hihihi", itu pesan pamit saya selanjutnya sambil garuk-garuk kepala hahaha.

Untuk bunda Yati, matur nuwun ya bun untuk kopdar malam itu yang begitu indah bagi saya dan Una. Semoga kelak bukan hanya saya saja yang bisa dolan kesana. Tapi, mungkin Masbro, Prit atau anak-anak online anda  lainnya bisa pula berbincang hangat dengan anda. Plong rasanya hati saya karena bisa memenuhi janji-janji saya. Bertemu sekaligus berbagi ilmu langsung walau hanya sekejap mata. Meski ada satu janji yang sepertinya belum saya tunaikan. Yah, saya ingin menyanyikan lagu itu langsung di hadapan Bunda. Tapi, berhubung di rumah Bunda tiada gitar yang bisa saya temukan, jadi terpaksa lagu itu urung saya dendangkan. Kapan-kapan aja ya?

Biarlah untuk sementara lagu itu saya dendangkan dari kejauhan. Biarlah lirik itu sebagai pengobat kerinduan kami pada Bunda. Menjadi inspirasi bagi kami anak-anak onlinemu di Jember atau manapun saja, jika usia senja bukanlah alasan bagi kita untuk frigid berkarya. Sebab setelah senja bukan berarti masa akan berhenti pula. Bukankah ada malam yang akan muncul setelahnya? Yah, malam yang dihias bintang gemintang. Dan siapa tahu, salah satu diantara bintang gemintang itu  akan menjadi milik kita saat di surga.

We Lophe Yu Bunda
Bersambung