Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 30 Juni 2013

Pupuk Cinta itu Bernama Ikhlas

Ketika berwisata kopdar di Jakarta kemarin, sebenarnya ada seseorang yang ingin banget saya dolani. Namun sayang, karena keterbatasan waktu membuat saya mengurungkan niatan itu. Bukan, orang itu bukanlah seorang blogger. Hanya seorang warga biasa, tapi memiliki segudang prestasi karya yang menurut saya luar biasa.

Sebut saja namanya bang Idin. Pria asli Betawi yang berjuang diantara jutaan warga ibukota yang mengalami degradasi peduli. Seorang pahlawan konservasi yang berkarya di pinggir bantaran sebuah kali bernama Pesanggrahan.

Demikian pula halnya saat saya di kota kembang, Bandung. Saya pun ingin bertemu dengan salah satu warganya yang menurut saya istimewa. Niatan itu pernah saya utarakan dulur-dulur blogger Bandung saat itu. Tapi sayang, lagi-lagi keterbatasan waktu menghalang. Pak Sariban urung saya dolani. Padahal saya sudah punya rencana untuk mencoba merasakan sensasi aksinya. Menjadi seorang relawan kebersihan yang memungut sampah-sampah di pinggir jalan.

Kenapa saya tertarik dengan kedua orang ini? Alasannya sederhana, sebab saya dan mereka memiliki kecintaan pada satu hal yang sama. Sama-sama seorang pencinta alam. Sama-sama menyuarakan jika bumi ini butuh kasih sayang. Meski sama sekali saya tak bisa dibandingkan dengan mereka. Tapi, dari ketokohan mereka saya bisa belajar banyak hal. Tentang arti sebuah keteguhan saat memegang sebuah keyakinan. Ikhlas dan sabar memperjuangkan apa yang nurani rasa benar.

Idin dan Sariban, merupakan sedikit contoh dari sekian orang yang mampu mengaplikasikan cinta dalam kehidupan mereka. Atas nama cinta, bang Idin mencoba menggugah kesadaran warga akan lingkungannya. Melakukan sebuah upaya untuk mengembalikan kali Pesanggrahan sesuai fungsinya. Menghadapi semua cemooh dan ejekan pada dirinya dengan lapang dada. Bahkan saat ditanya siapa yang menyuruh dia melakukan itu semua, bang Idin enteng menjawab "SK dari langit" yang memerintahkannya. Dan sekarang, Jakarta boleh bangga, sebab masih memiliki sedikit ruang bagi hutan yang rindang diantara hutan-hutan beton  tinggi menjulang.

Pun demikian dengan pak Sariban, "kebersihan adalah sebagian dari iman", menjadi landasannya saat berkarya. Mengetuk hati siapa saja untuk lebih peduli dengan sampah-sampah mereka. Melakukan aksi protes pada iklan-iklan dan poster yang menempel di pepohonan jalan. Atas dasar cinta, Sariban mengingatkan kita,  “Pohon juga bisa menangis kalau kita sakiti, pohon itu mahluk hidup juga seperti kita. Bayangkan kehidupan manusia tanpa pohon, bagaimana kita bisa hidup?”.

Cinta, alasan itulah yang dijadikan seseorang untuk mau melakukan apa saja. Cinta pada harta, kadang bisa membuat orang gelap mata untuk meraihnya. Cinta pada tahta,  kadang bisa pula membuat orang menghalalkan segala cara untuk mendudukinya. Pun demikian dengan Idin dan Sariban, mewujudkan kecintaan pada lingkungan lewat apa yang mereka lakukan. Ikhlas berbuat dan mencurahan segenap cinta mereka dalam bentuk karya. Mereka yakin, kelak bibit cinta yang mereka semai, akan mereka tuai pula dalam bentuk cinta. Dan itu terbukti, meski tiada pernah mengharapkan, tapi Idin dan Sariban mendapat banyak penghargaan atas prestasi yang mereka torehkan. Yah, begitu banyak dukungan cinta yang mengalir untuk karya mereka.

Dulur blogger, yuk kita sama-sama belajar membingkai cinta dalam kehidupan kita. Menyemai bibit cinta itu dalam setiap apapun pekerjaan yang kita lakukan. Memberinya pupuk keikhlasan, lalu menyiramnya dengan air kasih sayang. Insya Allah, kelak buah bernama cinta itu akan kita bawa pulang.

Tulisan ini  untuk menyemarakkan GA dalam rangka launching blog