Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 01 Juni 2013

Wisata Kopdar : Mom, You Will Stay Alive (Jakarta bagian 3)

H ingga hari ini ada satu kebiasaan buruk yang masih belum bisa saya hilangkan. Molor, itulah kebiasaan yang saya maksudkan. Bukan, saya bukanlah seorang jagoan tidur. Mungkin karena sudah terbiasa dengan gaya hidup sebagai manusia nokturnal saja. Menjadikan malam sebagai masa untuk melakukan semua geliat aktifitas saya. Sebaliknya, saat siang hari  justru saya jalani bak sleeping beauty saja. Ya, saat adzan Subuh berlalu dikumandangkan, biasanya saat itulah mata saya baru bisa dibujuk terpejam. Apakah semua itu gara-gara saya masih belum menemukan Marpuah? Ah entahlah, yang jelas hingga hari ini saya masih saja menjadi seorang lelaki yang dirindukan mentari.

Molor itu biasanya saya alami saat tidur di rumah saja. Saat melakukan  petualangan macam di gunung atau hutan, justru saya menjadi orang yang bangun tepat waktu. Demikian pula saat numpang tidur di rumah orang, jarang-jarang saya bangun kesiangan. Molor itu menurut  hanya soal niat saja untuk tidur dan bangun sesuai waktunya. Namun tidak demikian halnya yang terjadi saat wisata kopdar kemarin. Nyaris semua hari-hari saya lewati dengan molor dan molor saja. Gara-gara molor saya kehilangan pengalaman berharga saat di Asean Blogger kemarin. Menaiki kereta wisata Jaladara karena tertinggal di kamar hotel Kusuma Sahid Prince yang sukses membuai saya lewat kasur empuknya.

Saat di rumah Una, saya pun sukses menerapkan kebiasaan  molor itu. Bangun saat siang datang. Seakan tak peduli jika saya hanya seorang tamu yang menumpang. Syukurlah ternyata empu rumah juga senasib dengan saya. Ya, ternyata Una juga penganut paham molorisme saudara-saudara hahaha.
----
Sesuai rencana agenda kopdar hari itu adalah menyambangi satu lagi emak online saya di dunia maya. Bunda Lyli Suhana alias Bunda Dontworry, itulah dulur blogger yang menjadi target dolan saya.

Kira-kira selepas Dhuhur kami bergerak menuju Blok M. Kami sengaja tak menuju langsung kediaman Bunda Lyli, karena lebih dulu memenuhi undangan dari mbak Ika Ariesta Kusumawati alias Bunda Marish. Seorang blogger yang asalnya masih satu provinsi dengan saya. Katanya sih, Bunda Marish sedang kangen dengan dialog ala Madura. Yah. meski pada dasarnya grammar Madura saya masih level beginner, tapi apa sih yang enggak buat dulur blogger? hehehe.

Cerita kopdar saya dengan Bunda Marish sepertinya tak saya jabarkan di sini. Sebab Bunda Marish sudah menuliskan runtut ceritanya melalui blognya di sini. Meski sempat membuat Bunda Marish mangkel, tapi intinya dia puas menemukan seorang sparing partner untuk Madurese conversation-nya. Saya pun senang sebab setelah kopdar itu Bunda Marish telah bergairah lagi menulis di blognya. Alhamdulillah.


Setelah puas menerima jamuan makan siang dari Bunda Marish yang aduhai lezatnya, saya dan Una segera bergerak menuju rumah Bunda. Entah kenapa hari itu Una lebih memilih angkutan massal untuk dijadikan tumpangan. Tapi sungguh saya menikmati perjalanan itu. Seakan melakukan semacam nostalgia dengan bus Kopaja yang sepuluh tahun silam begitu akrab dengan saya. Sebuah pengalaman baru juga  karena hari itu saya pun diajari tata cara menaiki fasilitas kota bernama busway. (teknyu ya Un)

Sesuai arahan Bunda Lyli kami pun berhenti di sebuah pertigaan bernama Haji Mencong. Dari sini saya kembali berubah menjadi backpacker gedongan hahaha. Ya.ya kembali merasakan empuknya jok taksi saat menuju rumah Bunda Lyli.

Kira-kira setengah jam kami pun tiba di rumah Bunda. Jujur saya merasa deg-degan saat itu. Bertemu dengan blogger yang begitu saya kagumi, ah serasa nano-nano saja isi hati. Syukurlah, perasaan itu hanya semacam minder sesaat saja. Karena setelahnya justru saya merasakan sebuah kehangatan persaudaraan di dalamnya. Yah, bunda tak hanya manis dalam merangkai kata-kata, tapi di dunia nyata belia juga melakukan hal yang sama. Bahkan menurut saya lebih manis dari yang pernah beliau tulis. Dan satu hal yang masih melekat di telinga saya hingga sekarang teriakan bunda Lyli saat menyambut kedatangan saya. Uncleeeee... Ah, hingga kini saya masih kangen saja dengan sapaan khas logat  Bunda.

Kopdar istimewa, begitu pikir saya saat berada di rumah Bunda. Istimewa sebab ruang tamu bunda dilengkapi fasilitas smoking area. Satu kondisi yang tentunya berpihak bagi saya, tapi tidak demikian halnya dengan Una haha.

Selanjutnya kami pun larut dalam obrolan yang begitu hangat. Tentang kabar Aim dan Api Kecil. Juga guyonan Bunda Lyli yang mengatakan jika saya lebih tampan ketimbang fotonya hahaha. Padahal semua orang tahu jika saya adalah lelaki yang tak seberapa tampan. Ah si Bunda, malam itu telah  membuat pipi saya merona-rona.

Ngalor ngidul ngulon ngetan, tapi santai nan penuh kehangatan. Mungkin itulah kondisi yang pas untuk menggambarkan pertemuan antara saya, Una dan Bunda Lyli Suhana. Makin larut  justru semakin menghangat. Hingga tanpa kami sadari ternyata saya dan Una sudah lebih dari tujuh jam berada di rumah Bunda Lyli. Wow, mungkin itu adalah rekor kopdar terpanjang dalam sejarah ngeblog saya.

Bunda Lyli, matur nuwun ya untuk kenangan tujuh jam di Japos yang begitu indah itu. Insya Allah suatu saat kita bersua kembali.  Matur nuwun pula untuk kenangan bukunya. Mam, Please Stay Alive. Maaf ya bun, bukunya masih belum tuntas saya baca. Masih dibajak oleh Ning hehe. Tapi saya sempat membaca kok, bahkan sempat pula menjadi teman saat perjalanan pulang saya di kereta.

Mam, please stay alive, Yes Mam, Insya Allah you will still alive. Insya Allah semangat Bunda Lyli akan ada di hati saya. Tentang bagaimana cara membalas anugerah Tuhan bernama sakit, dengan sebuah karya yang begitu legit. Soal bagaimana cara kita untuk berbuat sebelum ajal  merapat. Sebab, bagaimana saya bisa dikatakan hidup Bunda, jika saat di dunia tiada pernah melakukan apa-apa?.

We always miss you Bunda
Bersambung