Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 27 Juli 2013

Bukan Review Film 5 cm

Tulisan ini tak hendak menelanjangi habis-habisan film 5 cm. Apalagi membandingkan jalan cerita film sesuai novelnya. Sebab, bagaimana saya bisa membandingkan, lah novelnya saja saya enggak paham? hehe. Sekali lagi ini bukan review film 5 cm. Hanya sebatas berbagi pengalaman saja, sebab saya juga pernah beberapa kali mendaki gunung seperti dalam film 5 cm itu. Mahameru, atapnya pulau Jawa.

Menurut saya film ini bagus. Bercerita tentang sebuah persahabatan 5 anak manusia. Ada bumbu cinta segitiga antara Genta, Zafran dan Riani di dalamnya. Juga ada sisi nasionalisme dan motivasi untuk menggapai semua impian kita. Namun, adapula sisi kejanggalan pada beberapa adegan pendakian. Ada beberapa yang mungkin saya maklumi, karena mungkin itu sebatas menjaga sisi artistik adegan saja. Tapi, untuk beberapa adegan mungkin perlu saya luruskan. Sebagai gambaran bagi anda, atau siapa saja yang berniat  mendaki ke Mahameru gara-gara film ini.

Mahameru adalah puncak tertinggi Jawa. Puncak idaman para pendaki Indonesia. Sisi eksotis yang ditawarkan sebanding pula dengan cerita-cerita tragis yang kadang terjadi. Entah, berapa banyak pendaki yang tewas atau hilang di gunung ini. Selain faktor kurangnya persiapan fisik, perlengkapan, logistik serta mental sebelum melakukan pendakian. Faktor kondisi cuaca yang tak ramah, juga menjadi salah satu penyebab banyaknya kecelakaan di gunung ini. Badai misalnya, seperti  yang pernah saya alami dan singgung di tulisan ini.

Pendaki pemula
Di film 5 cm jelas terlihat jika keenam remaja tersebut adalah pendaki pemula. Mereka melakukan  persiapan asal-asalan, karena  pendakian itu adalah acara kejutan yang dibuat Genta. Bukan, saya tak bermaksud menakut-nakuti anda yang berniat ke Mahameru untuk pertama kali. Benar adanya mendaki itu bisa dilakukan siapa saja, tapi butuh persiapan matang pula saat hendak melakukannya. Semeru bukanlah tempat main-main atau ajang rekreasi orang kota belaka. Jadi, pikirlah dua kali saat hendak mendakinya. Lakukan persiapan matang. Perbanyak info medan yang akan dilalui. Lakukan latihan fisik. Jika perlu mendakilah gunung-gunung yang lebih pendek sebagai training anda.

Celana jeans 
Celana jeans nampak dominan sebagai kostum dalam film ini. Entahlah, mungkin ini hanya sebatas sisi artistik film agar lebih modis kali ya. Celana jeans bukanlah perlengkapan standar pendakian. Apalagi memakai jeans ketat seperti nampak dalam film, piye mlakune rek? hehehe. Pakailah celana berbahan kain kuat, tapi tak ketat dan membuat kita leluasa untuk bergerak. Ringan, mudah kering dan menyerap keringat.

Penunjuk jalan / porter
Tokoh-tokoh di film ini jelas nampak adalah anak-anak orang kaya. Tapi, kenapa mereka tak menyewa jasa porter ya? Padahal mereka tak paham medan yang akan dilalui, kecuali Genta yang mungkin paham sedikit info akan Semeru. Lebih aneh lagi disitu digambarkan jika pendakian dilakukan saat menjelang tanggal 17 Agustus. Masa dimana ribuan pendaki Indonesia berkumpul di Semeru. Tapi, mengapa mereka tak nginthil rombongan pendaki lainnya jika memang buta medan yang akan dilalui?

Oke deh saya maklumi. Mungkin film ini tak menghendaki figuran nimbrung terlalu banyak di adegan mereka. Apa jadinya jika mereka menyewa saya sebagi porter, rusak kan pakem ceritanya? hahaha. Tapi, mungkin bisa jadi catatan bagi anda yang mungkin hendak mendaki Semeru. Porter itu perlu jika anda mampu membayarnya. Setidaknya membawa teman yang lebih dulu punya pengalaman mendaki Semeru. Atau, yah dengan cara nginthil bareng rombongan lain. Apalagi saat anda melakukan summit attack menuju puncak Mahameru. Saat itulah medan yang dilalui akan semakin berat dan awan orang tersesat

Manajemen air
Lagi-lagi saya melihat adegan yang perlu kita pelajari. Saat mereka berkali-kali nampak kekurangan air. Juga saat mereka meminta air ke pendaki lain di Kalimati. Padahal sebelumnya mereka baru saja dari Ranu Kumbolo. Danau vulkanik, tempat biasanya para pendaki mengisi persediaan mendaki sebanyak-banyaknya sebelum menuju puncak. Memang masih ada sumber mata air kecil bernama Sumber Mani di dekat Kalimati. Tapi, saya rasa sebagai pemula mereka akan kesulitan mencarinya.

Lebih lucu lagi saat melihat adegan saat mereka melakukan summit attack menuju puncak Mahameru. Sama sekali saya tak melihat mereka bersentuhan dengan air minum. Padahal saat itulah medan yang paling berat dilalui oleh seorang pendaki saat menaklukkan Semeru. Tentang bagaimana cara mereka mempersiapkan fisik dan mental untuk menaklukkan lautan pasir menuju puncak Mahameru.  Benar adanya saat melakukan summit attack, tak semua perlengkapan daki kita bawa. Tapi, kita juga perlu banyak air sebagai bekal dan beberapa makanan kecil sebagai penambah kalori kita. Lucu kan, disaat medan yang saya anggap relatif mudah mereka sangat butuh air. Sebaliknya, saat mereka bertemu medan berat, tapi terlihat super tak lagi butuh air.. Protes maneh..protes maneh hehe.

Manajemen air sangatlah diperlukan dalam sebuah pendakian. Andai saja saya dibuang di sebuah hutan, lalu diberi opsi untuk memilih antara air atau makanan sebagai bekal. Mungkin saya akan memilih air. Sebab, air begitu penting bagi kehidupan manusia. Lebih lagi, mendaki adalah pekerjaan menguras keringat yang menyebabkan tubuh gampang terkena dehidrasi. Jadi sekali lagi, disiplin memanajemen air itu penting saat mendaki !

Dulur blogger, mungkin itu sekilas opini tentang beberapa adegan film 5 cm yang saya benturkan dengan pengalaman pribadi saat mendaki. Sekali lagi, ini bukan review film 5 cm. Hanya sebagai wanti-wanti  buat anda yang ingin mendaki Semeru. Sebab, bisa jadi lebaran nanti banyak remaja yang terinspirasi dari film ini. Lalu berbondong-bondong ingin mendaki Semeru seperti di filmnya. Saya takut diantaranya ada  yang melakukan persiapan asal-asalan layaknya di film. Film itu memang menarik, tapi jika anda tidak mempersiapkan diri. Tentu bukan hal menarik jika anda mengalami pengalaman buruk saat mendaki seperti saya dulu. Yah, di Mahameru itu. Saat maut serasa berjarak kurang dari 5 cm dari kening saya. Selamat mendaki.


note : jangan lupa bawa sampahnya pulang ya saat berpetualang. Salam lestari !