Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 22 Juli 2013

Menjadi Agen Pelindung Satwa


Hingga detik ini saya masih menunggu berita kelanjutan kasus Papa Genk. Namun sayang, hingga kini masih belum ada tanda dari kabar yang sangat saya nanti tersebut. Maklum, saya masih menyisakan mangkel atas terbantainya si Elephas maximus sumatranus beberapa hari kemarin. Berharap dan sangat berharap semoga saja si pelaku benar-benar mendapat ganjaran setimpal nantinya.

Belum hilang rasanya mangkel yang saya rasa, kini muncul lagi satu berita yang makin membuat  linu hati saya. Tentang terkuaknya sebuah berita seekor orang utan betina bernama Pony. Sebuah ketidaklaziman yang dilakukan manusia, karena menjadikan si Pony sebagai obyek prostitusi. Ah, rasanya semakin menambah daftar saja aksi kesewenangan pada satwa yang dilakukan manusia.

Selain mencoba mencari kabar berita terkini soal Papa Genk. Saya pun rajin mengikuti perkembangan petisi yang digagas oleh Aulia Ferizal. Hingga saat saya menulis ini sudah terkumpul lebih dari 13.000 orang yang menandatangani petisi tersebut. Meski saya tak tahu apakah petisi itu benar-benar bisa mempercepat proses penangkapan pelaku pembantaian Papa Genk. Tapi, setidaknya semua itu merupakan bukti, jika banyak diantara kita yang sebenarnya masih memiliki rasa cinta kepada satwa.

Yah, mungkin hanya itu yang bisa kita lakukan, selain tentunya harapan dan doa agar si pelaku segera ditemukan. Semoga saja petisi itu bukanlah akhir dari segalanya. Tak hanya sebatas membubuhkan tanda tangan yang bisa dan mudah dilakukan siapa saja. Tapi, juga mau mengaplikasikan dalam keseharian kita. Menjadi seorang agen pelindung satwa, setidaknya bagi satwa-satwa yang ada di kanan kiri kita.

  • Jangan percaya sugesti
Selama ini ada semacam kepercayaan jika kita mengkoleksi atau mengawetkan bagian dari satwa tertentu,  atau memelihara satwa tertentu itu akan memberikan kemujuran pada kita. Sugesti yang semakin membuat pola pikir kita sebagai manusia modern menjadi makin mundur saja. Sebab, bagaimana bisa seekor satwa menentukan nasib anda? Padahal nasib mereka sendiri ada di tangan anda?

Ada pula semacam sugesti jika kita mengkonsumsi daging atau bagian tubuh satwa tertentu akan memberi khasiat bagi tubuh anda. Hmm, lagi-lagi anda sudah termakan sugesti. Seperti halnya fanatik hanya pada satu orang dokter saja, dan tak mau ke dokter lainnya. Alasannya sederhana, anda tersugesti jarum suntik dokter tadi lebih berjodoh dengan anda. Nah, mungkin ada yang berkata darah ular cobra itu memang manjur buat vitalitas. Ah, saya rasa di dunia masih banyak hal yang bisa kita manfaatkan untuk kesehatan tanpa harus membunuh satwa langka. Lagipula, bukankah Kitab Suci telah menjelaskan jika darah itu haram untuk dimakan?

  • Memelihara satwa yang semestinya
Tiada satupun manusia yang ingin hidupnya terpenjara. Pun demikian dengan satwa, kecuali satwa-satwa itu memang diciptakan Tuhan untuk hidup berdampingan dengan manusia. Mereka butuh kebebasan meski anda sudah menyediakan kandang dan pangan. Mereka butuh dunia yang bebas merdeka sesuai habitatnya.

Lantas apa kita tak boleh mememlihara satwa di rumah? Hehehe, saya rasa kita pasti bisa membedakan apa itu satwa peliharaan, ternak dan satwa liar kan? Kucing angora jelas beda dengan kucing hutan. Kambing pasti tak sama dengan kera. Jelas kan?

  • Tahan pentungan anda
Dulu ada dua kejadian yang membuat heboh daerah saya gara-gara ulah satwa. Yang pertama tentang tertangkapnya seekor babi hutan yang ditangkap warga. Banyak yang mengatakan jika babi itu adalah jelmaan babi ngepet. Apes, si babi menemui ajal karena keroyok massa. Lucunya masih saja ada beberapa warga yang mempercayai jika itu babi jelmaan. Berduyun-duyun menyaksikan bangkai babi yang digantung di balai desa. Berharap cemas dan menunggu si babi menunjukkan wajah aslinya. Usut punya usut ternyata babi hutan itu adalah peliharaan dari seorang warga yang kaya di desa saya. Duh kah, negoroku iki piye? kalau udah gini sopo sih asline sing metu buntute hahaha.

Jauh sebelum itu, ada pula cerita tentang nyasarnya seekor banteng yang masuk kampung. Alhamdulillah, banteng ini mujur tak mengalami nasib seperti halnya babi ngepet hoax haha. Banteng itu bisa terselamatkan dan direlokasi kembali oleh petugas Taman Safari menuju habitat aslinya.

Panik, mungkin itu yang sering terjadi saat warga menjumpai satwa yang tak biasa di keseharian mereka. Akibatnya, tentu saja pentungan akan berbicara saat menjumpai satwa nyasar di perkampungan warga. Mungkin perlu kita cermati beberapa faktor yang mengakibatkan mengapa satwa-satwa itu kadang nyasar ke perkampungan warga. Yang pertama, terputusnya rantai makanan di tempat mereka akibat perburuan yang memaksa mereka keluar untuk mencari makan. Yang kedua, karena rusaknya habitat di tempat mereka, misal akibat penggundulan hutan. Nah, bisa ditebak kan, semua itu salah siapa?. Nah, jadi kenapa mesti dipentung rek, kalau mereka nyasar karena ulah kita sebagai manusia?

Cobalah untuk tenang saat menjumpai satwa yang nyasar di kampung anda. Untuk menjaga keselamatan panggil pawang hewan, atau aparat keamanan atau lebih tepat lagi petugas balai konservasi. Dengan tujuan agar satwa tersebut bisa diselamatkan dan dikembalikan ke habitat asli.

  • Beri mereka ruang kebebasan
Seiring perkembangan manusia, makin lama makin terkikis pula lahan hijau di sekitar kita. Padahal itu adalah benteng terakhir bagi sekumpulan satwa-satwa di sekitar kita. Cobalah anda membayangkan saat kita masih kecil dulu. Saat capung, kupu-kupu atau burung tekukur begitu mudah ditemui. Dimana mereka sekarang?

Bijaksanalah pada satwa-satwa itu. Biarkan mereka hidup bebas merdeka tanpa kita mengusiknya. Tak perlu kita rampas anak mereka, saat terlihat bersarang di pohon pekarangan kita. Cukup nikmati saja kehidupan mereka dari kejauhan, insya Allah anda pun akan mendapat bonus kebahagiaan. Berikan mereka ruang untuk bermain. Di sawah, lahan hijau pinggiran kali, gumuk, bukit kecil atau mungkin pepohonan di sekitar anda. Mungkin itulah salah satu cara  untuk menunjukkan cinta kasih kita pada satwa.

Dulur blogger, yuk di bulan penuh kasih sayang ini kita tingkatkan pula rasa sayang  pada alam raya ini. Tak hanya sekedar mau menikmati isinya saja. Tapi, juga mau merawat dan menjaga kelestariannya. Memang benar, tiada sesuatu yang abadi di dunia fana ini. Alam, saya, anda, kita, pohon dan juga satwa niscaya kelak akan punah. Tapi, semoga saja semua itu punah karena fitrah, bukan karena ulah.