Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 18 Juli 2013

Usut Pembantai Papa Genk !

Selamatkan gajah sumatera
Ramadhan adalah bulan suci. Bulannya umat muslim untuk belajar menahan diri dari nafsu duniawi. Bulan untuk memupuk rasa kasih sayang pada sesama. Tak hanya sebatas sesama manusia, juga pada makhluk Tuhan lainnya. Namun sayang, di tengah khusuknya kita jalani bulan suci ini, justru terjadi peristiwa yang memiriskan hati. Berita dari Aceh yang mengabarkan tentang dibantainya seekor gajah jantan bernama si Genk alias Papa Genk.

Hingga kini kabar tersebut masih menjadi isu hangat di ranah maya. Bahkan muncul pula gerakan mengumpulkan tanda tangan petisi untuk mengungkap kasus ini. Foto kondisi terakhir Papa Genk pun nampak hilir mudik di jejaring sosial. Sebuah foto yang membuat geram banyak orang, lebih-lebih lagi seorang pencinta alam seperti saya.

Di dalam foto itu nampak jelas Papa Genk dibantai dengan keji. Mati secara mengenaskan dengan kondisi belalai putus dan batok kepala yang raib dibawa pembantainya. Lagi-lagi nafsu duniawi berupa kesenangan mengalahkan fitrah manusia bernama kasih sayang. Gading ! itulah yang ditengarai menjadi alasan Papa Genk dibantai dengan begitu keji.

Dulur blogger, segala sesuatu di dunia ini diciptakan Sang Khalik dengan begitu sempurna. Sekecil apapun pastinya memiliki peranan penting bagi dinamika alam raya ini. Namun kadang semua menjadi tidak berimbang gara-gara perilaku manusia yang sewenang-wenang.

Mungkin kita masih ingat tentang heboh Tomcat beberapa waktu lalu. Cerita tentang "sahabat petani" yang dikabarkan melakukan agresi. Saya pun pernah menuliskannya dalam tulisan "Kalau Tomcat Bisa Ngomong". Yah, andai saja satwa itu bisa ngomong tentu akan balik bertanya siapa yang lebih ganas, manusia apa satwa?.

Satwa hanya akan bereaksi saat merasa tertekan kelangsungan hidupnya. Sepanjang pengalaman saya menjadi pencinta alam, saat menjelajah hutan tak sekalipun  memiliki pengalaman diserang hewan. Tak ada ceritanya tenda kemah saya tiba-tiba diseruduk kawanan babi hutan. Mungkin semua itu bisa terjadi jika saya membuat kemah di jalur lintasan hewan. Begitu halnya dengan gajah-gajah di Sumatera. Gajah dianggap sebagai "hama" bagi kebun mereka. Padahal sejatinya manusialah yang telah menciptakan konfilk dengan merebut area kekuasaan gajah-gajah liar. Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang, apa salah Papa Genk hingga mereka membantainya dengan begitu keji?.

Semoga saja kasus Papa Genk ini menjadi perhatian dari siapa saja. Presiden, Menteri Kehutanan atau siapa saja yang terkait untuk mengusut pelakunya hingga tuntas. Tak cukup hanya pembantainya, tapi  penadah gadingnya pula. Hukum seberat-beratnya, agar tak terulang lagi pembantaian satwa-satwa yang dilindungi di Indonesia. Sebab, jika satwa besar semacam Papa Genk saja dibiarkan punah begitu saja, bagaimana halnya dengan satwa-satwa kecil lainnya?.

Semoga pula pemerintah bisa mengambil kebijakan untuk tak latah menyulap hutan dengan dalih alih fungsi. Sebab sekali lagi saya katakan "Indonesia bukan hanya milik embahmu, tapi titipan anak cucumu". Yah, milik anak cucu kita yang berhak pula menikmati segarnya aroma alami hutan Indonesia. Mereka juga berhak menyaksikan satwa langsung dari pelupuk mata, bukan hanya sekedar sketsa saja.

Dulur Blogger, saya undang anda untuk saling bergandeng menandatangani petisi yang ada DISINI. Sebab, mungkin hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai bentuk cinta kasih pada satwa-satwa liar kita. Sebagai wujud bela sungkawa kita pada Papa Genk, sekaligus dukungan agar tiada lagi satwa yang dibantai gara-gara sebuah kesenangan.

Note : Mohon maaf, sengaja foto Papa Genk saya samarkan. Dimohon untuk yang tak berkenan melihat foto berdarah-darah untuk tak mengarahkan kursor mouse pada gambar di bawah ini.

lozz
essip