Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Selasa, 24 September 2013

Andai Saja...

khayalan

Andai saja dulu bapak juragan sawah, mungkin aku akan diwarisi harta yang melimpah. Berlebih pangan maupun sandang. Bermewah pula dalam hal papan. Ketika remaja aku pun  akan terkenal seantero desa. Tapi jangan salah, tenarku bukan sebab prestasi karyaku. Bukan pula karena raut tak seberapa  tampanku.  Semua mengenalku karena harta bapakku. Hanya sebatas senyum formalitas yang kudapat dari penduduk desa. Yah, mereka hanya terpaksa menundukkan kepala, sebab aku dianggap jutawan muda paling kaya di desa.

Setelah dipikir-pikir lebih enak hidupku  sekarang ini. Sederhana, mudah, juga tak terlalu beresiko tinggi. Menjadi seorang pengais rejeki dari sudut-sudut dunia maya. Bukan, bukan sebongkah berlian yang aku minati. Cukup sen demi sen saja yang kucari setiap hari. Memang semua tak mudah seperti membalik telapak tangan, tapi karena itulah aku menjadi mengerti makna perjuangan. Karena kepingan sen itu aku bisa belajar mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Tuhan beri. Setidaknya dengan kondisi yang terbiasa pas-pasan, membuatku mendapat semacam imunisasi dalam kehidupan. Yah, tak gampang terserang penyakit yang sering dialami orang-orang. Mumet karena uang !

Andai saja bapak dulu anggota dewan. Mungkin aku sudah menjadi pria yang mapan. Karena kekuasaan diberinya aku posisi empuk di pemerintahan. Meski masih muda bisa jadi aku sudah menjadi pejabat ternama. Yang cukup dengan senjata tanda tangan, membuatku mudah menyelesaikan segala urusan. Tapi, lagi-lagi aku berpikir lebih enak hidupku sekarang. Menjalani takdirku menjadi seorang tukang sapu. Walau bergaji murah, tapi tak membuat hidup susah. Sebab aku tahu, melarat itu kadang mudah dijalani ketika diujikan pada manusia. Sebaliknya banyak diantaranya yang gagal total ketika uang dan kuasa begitu dekat dengan mereka. Yah, setidaknya aku bersyukur memiliki pekerjaan yang jauh dari nominal bernilai jutaan. Yang membuatku silap mata, lalu terbuai untuk merubah sekian angka dalam pembukuan.

Andai saja dulu bapakku seorang akademisi, mungkin minimal satu gelar sudah aku koleksi. Tak hanya seperti sekarang ini. Menjadi pemegang ijasah SMA yang abadi. Tapi aku tahu, Tuhan ternyata punya rencana yang lebih aduhai dalam hidupku. Memberiku banyak kesempatan dalam menuntut ilmu melalui pekerjaanku. Yah, menjadi mahasiswa universitas dunia maya dengan fasilitas yang begitu istimewa. Yang cukup dengan layar mini saja aku bisa pelajari ilmu apapun yang disuka. Bebas  memilih jurusan sesuai kadar isi kepala. Dengan cuma-cuma, tanpa perlu khawatir biaya SPP setiap bulannya. Tak harus pula bertemu dosen garang yang membuat skripsi minta diulang-ulang. Bahkan jika mau aku bisa umpat dosenku manakala  di mesin pencarian tak kutemukan jawaban memuaskan.

Andai saja aku memilih nikah muda dulu. Mungkin aku sudah seperti teman-teman sebayaku. Memiliki keluarga kecil yang nampak bahagia di mataku. Bukan justru sebaliknya menginvestasikan banyak usia hanya untuk menemani anak-anak muda dalam berkarya. Melompat dari satu generasi  ke generasi untuk sebuah dalih eksistensi bagi ibu pertiwi. Membuatku lena jika aku juga perlu Marpuah yang bisa membuatku disebut ayah. Tapi sudahlah, kurasa Tuhan lagi-lagi punya rencana dalam hidupku. Memilihku agar tak seperti kebanyakan teman-teman sebaya di kampungku. Lahir, besar, sekolah, nikah, setelah itu menjadi punah. Mungkin saja Tuhan sedang mengingatkan jika masih belum banyak karya yang bisa kuberikan. Seakan terus membisiki agar tak henti berkarya dan berbagi kendati kepul asap dapur yang menjadi prioritas utamaku nanti. Meski semua itu harus kubayar mahal dengan usiaku. Setidaknya ketika usia senja ada sejumput nostalgia yang bisa kuceritakan untuk anak-anakku.

Jika dirasa mengkhayal itu tak ubahnya tupai yang sedang berada dalam sangkar rodanya. Berlari dan terus berlari, tapi tetap saja ada di titik yang sama tanpa pernah disadari. Berharap masa depan sesuai dengan skenario pikiran. Kadang pula ingin merubah masa lalu dan coba mengingkari apa yang sudah tercapai kini. Padahal sejatinya bahagia itu  lebih manis terasa  ketika masih dalam kahayalan kita. Selebihnya kadang kita merasa masih tak puas andai saja khayalan itu telah menjadi kenyataan. Jika perlu isi kolong langit pun ingin dikuasai. Sebab sudah menjadi kodrat jika rasa tak puas itu ada dalam setiap hati insani.

Bersyukur kurasa satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit tak puas hati. Tapi bukan sebatas itu saja. Harus ada improvisasi dalam kehidupan agar setiap impian tak jua sebatas khayalan. Yah, semua tak akan diberi secara cuma-cuma. Harus ada usaha dibarengi doa. Bukan hanya sebatas aksi di dalam batok kepala.

Ah, andai saja bapak masih ada di dunia. Andai saja bapak melihat anaknya hanya berpangku tangan dan mengkhayal saja. Mungkin beliau akan meneriaki sambil memelototkan mata "Hoi jangan mengkhayal saja. Ayo kerja !"