Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 29 September 2013

Ketika Saya Masih Newbie

blogger pemula
sumber gambar

Alhamdulillah hari ini Essip tepat menapak di usia yang ketiga. Padahal sepertinya baru kemarin tali asih pertama dari Pakde tiba di rumah saya. Baru kemarin rasanya  goyang SKJ saya membuat kepincut tante Monda dan mengundang orang-orang tertawa. Sungguh tiada pernah disangka hanya karena sebuah dongeng untuk Vania, Uncle Lozz tiba-tiba menjadi panggilan saya. Ah, tiga tahun yang begitu indah untuk dikenang. Nostalgia yang tak bisa lekang begitu saja. Tiga tahun yang membuat saya tak pantas lagi menyandang status blogger pemula.

"Apa yang harus kutuliskan?". Kalimat ini menjadi pertanyaan sekaligus pijakan awal ketika dulu saya memulai aktifitas blogging. Yah, membuat itu adalah sebuah perkara yang cenderung gampang dilakukan. Namun, menjadi hal yang sulit saat mengisi sekaligus mempertahankan. Pun demikian dengan ngeblog, hanya butuh sebuah email saja. Tapi ketika blog sudah jadi terkadang menjadi sulit untuk mengisi. Bahkan banyak pula diantaranya yang bertahan tak lebih dari setahun saja.

Harus ada visi misi ketika hendak memulai. Perlu ada inovasi juga improvisasi agar aktifitas ngeblog kita nyaman sekaligus awet bertahan. Itulah yang dulu saya lakukan. Memperjelas arah dan tujuan. Apakah ngeblog saya untuk berkarya atau suka-suka semata? Apa tujuan ngeblog saya nanti? Untuk berbagi, materi, atau keduanya saya cari?. Ibarat bangunan, tentu saja saya harus terlebih dulu meletakkan pondasi agar kokoh bertahan.

Ketika saya masih menyandang status newbie, berkali-kali saya buka kembali buku SD tentang pelajaran bahasa Indonesia. Tentang bagaimana cara mengarang. Tentang cara yang baik dan benar ketika meletakkan tanda baca macam titik atau koma. Tanpa terlalu memusingkan kadar sastra dalam setiap tulisan saya. Sebab, sampai kapan pun kualitas tulisan saya tak akan bisa menyamai tulisan para penulis ternama. Sebaliknya, mereka juga akan kesulitan untuk menulis dengan gaya yang saya punya. Saya tak ingin aktifitas ngeblog saya terhenti dengan dalih saya tak menguasai ilmu sastra.

Ketika saya masih menjadi newbie, saya harus tahu posisi diri tanpa harus melebaikan diri. Yah, tak menyebut diri newbie berulang-berulang di depan orang-orang. Sebab itu akan semakin membuat saya minder dan tak percaya diri. Anggap saja semua setara, tapi kita juga harus paham etika.

Ketika saya masih newbie, saya harus tahu menulis itu hendaklah jujur.  Jujur tapi tak  kebablasan hingga melantur. Sebab, saya lebih suka orang  berteman karena menerima kekurangan saya. Bukan karena sebuah kelebihan yang saya hembuskan melalui kebohongan lewat tulisan. Tukang sapu yo wis tulis tukang sapu. Ketimbang saya berpura menjadi juragan padahal sejatinya hanya pekerja kelas bawahan.

Ketika saya masih menjadi newbie, saya tak gemar meminta orang lain berkunjung balik, komen dan follow yang terkesan memaksa. Sebab, newbie itu sama dengan pemula. Jadi seorang newbie harus lebih banyak memulai. Memulai menyapa yang lebih senior dari kita. Berkunjung ke blog lainnya tanpa harus meminta mereka berkunjung balik pula. Tak maruk memajang link blog ganda di setiap komen kita. Tak biasa menulis "ditunggu kunjungan balik gan", sebab itu justru akan membuat orang lain bosan. Dan akan membuat diri kita masuk daftar cekal kunjungan.

Ketika  masih newbie dulu, sekali dua kali saya pernah melakukan spam. Blogwalking dengan membabi buta, tanpa pernah peduli isi tulisan yang saya baca. Sebab saya ingin blog saya terkenal dalam sekejap mata. Tapi setelahnya semua itu tak lagi saya lakukan. Yah, bagaimana blog saya bisa mendapat apresiasi tinggi, jika untuk BW saja saya setengah hati? Bagaimana bisa  menjadi pintar, jika membaca tulisan orang saya tak gemar?. Justru karena tulisan-tulisan para blogger itulah membuat keahlian menulis saya semakin pinter. Ya, blogger-blogger itu telah menjadi guru menulis saya tanpa disadari.

Ketika saya masih menjadi newbie, saya suka mengkuti aneka lomba seperti sekarang ini. Bukan, bukan semata untuk berkompetisi, tapi ingin melatih diri menjadi seorang blogger ahli. Juga untuk menambah pundi-pundi relasi. Kalah menang bukan semata tujuan. Kalah usah gundah gulana. Menang pun jangan terlampau membusung dada. Bagi saya menang itu hanya soal beruntung saja. Yah, beruntung juri sedang kepincut tulisan kita ketimbang yang lainnya.

Ketika masih newbie, seringkali saya dihinggapi rasa jenuh dan malas diri. Bahkan hingga kini perasaan itu sering terjadi. Saya tahu jika itu pertanda saya harus rehat dulu dari aktifitas ngeblog saya. Waktunya saya melakukan improvisasi agar jenuh tak makin menjadi. Makanya saya tak biasa membuat target dalam karir ngeblog saya. Saya tak berani sesumbar satu posting satu hari. Sebab saya tak mau menjadi blogger yang diawal karir ngebut, tapi di tengah justru menjadi benjut. Tapi, saya harus tetap menjaga selera ngeblog tak sirna gara-gara malas sedang mendera. Dengan melakukan aktifitas seputar blogging lainnya. Belajar mengotak-atik template misalnya, atau membuat blog baru agar semangat ngeblog kembali nafsu.

Dulur blogger, itulah pengalaman saya ketika menjadi seorang blogger newbie. Semoga bermanfaat bagi anda yang mungkin baru saja menginjakkan kaki di blogsphere raya. Matur nuwun untuk dulur-dulur blogger semua yang hingga kini masih setia mbarengi hingga tiga tahun lamanya. Matur nuwun pula untuk segenap tawa dan cinta yang  membuat Essip selalu bersinar indah tiap harinya. Ya, memang benar saya tak lagi seorang newbie. Memang benar saya tak pantas untuk disebut blogger pemula. Tapi, semangat newbie itu harus selalu ada setiap hari. Semangat seorang pemula senantiasa harus ada dalam dada. Sebab dengan semangat itu, saya akan belajar dan terus belajar dari siapa saja.

Selamat ultah Essip sayang. Sip enggak Essip, Poko'e kowe emang Essip !