Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 17 Oktober 2013

Bangga Itu....

Suatu hari seorang pengguna di warnet setengah berteriak ke saya, "Ih mas ndeso ah mutar lagu gituan.". Saya cuma tersenyum saja. Hanya diam. Lalu menjawabnya dengan menaikkan seperempat level suara musik dari sebelumnya. Sambil berpikir dalam hati, apa ada yang salah dengan musik yang saya putar? Apa karena kendang kempul liriknya berbahasa Osing, lalu dicap musik ndeso? Padahal kendang kempul itu karya orang Indonesia. Jadi jika bukan kita, lantas siapa lagi yang akan membanggakannya?

Kebanggaan itu menurut saya adalah mencintai sepenuh hati dan tak malu mengakui apa yang menjadi milik sendiri. Juga tak mudah silau dengan sesuatu pada orang lain yang kita anggap hebat. Kendang kempul mungkin hanya musik tradisional yang tak begitu terkenal. Kalah pamor dengan Gangnam Style, atau mungkin dianggap tak sekeren Boyband Korea. Meski sederhana dan biasa tapi jika milik kita itulah kebanggaan buat saya. Sebaliknya sehebat atau sekeren apa pun jika bukan milik sendiri itu hanya kebanggaan nisbi.

Mobil Esemka memang tak secanggih Mercy, tapi disitu ada kebanggaan sebab karya anak negeri. Sama sekali saya tak bangga dan ikut latah mengeluk-elukkan Obama saat dia menjadi orang nomer satu di Amerika. Bagi saya Obama bukan orang Indonesia. Jadi, kenapa pula saya harus bangga? Toh di negeri ini tak kurang tokoh yang bisa dijadikan inspirasi atau pun idola. Macam bang Idin yang berjuang di bantaran sungai ibukota. Atau, pak Sariban yang memilih berkarya di atas tetumpukan sampah. Yah, mereka yang seharusnya kita banggakan. Meski kecil dan dianggap remeh, tapi tak harus malu kita mengakuinya. Boleh saja suka dengan glamour negeri di luaran sana, tapi kebanggaan nomer satu harus tetap pada Indonesia.

Bangga itu tentang sikap setia apa pun kondisinya. Kita tahu hingga hari ini Indonesia sedang dilanda euforia gara-gara bola. Semua orang nampak begitu bangga dengan sepakbola Indonesia. Padahal jauh sebelumnya, umpat serta cacian seringkali menjadi langganan timnas kita. Kini seakan semua orang berbalik memiliki nasionalisme yang tinggi gara-gara timnas U19 mampu membuat keok Korea. Dan beberapa hari kemudian justru nasionalisme itu mulai luntur seperti semula. Yah, kembali caci, umpatan dan komentar tak bernada bangga muncul seperti semula. Alasannya sederhana, timnas senior hanya mampu imbang melawan raksasa sepakbola lainnya.

Seperti halnya seorang sahabat sejati, bangga itu harus ada apa pun kondisi yang terjadi. Tak hanya mau turut tertawa bangga saat kita berjaya. Tapi, saat kondisi kita turun atau remuk sekalipun, bangga itu harus selalu ada. Seperti layaknya seorang sahabat sejati yang selalu ada dalam suka dan duka, itulah kebanggaan sejati menurut saya.

Bangga itu juga tentang menghargai sebuah proses. Di rumah saya mempunyai dua buah laptop. Dari segi spesifikasi laptop baru saya lebih canggih dari laptop lama. Pun demikian dari segi harga, laptop baru dua kali jauh lebih mahal dari laptop lama saya. Tapi soal kebanggaan justru saya lebih bangga dengan laptop lama. Kenapa begitu? Sebab saya menghargai proses ketika mendapatkannya.

Laptop baru saya beli lewat cara yang biasa. Tiada yang spesial sebab saya membelinya dengan duit hasil kerja sebagai satpam dunia maya. Lain halnya dengan laptop lama, proses membelinya berawal dari sebuah impian. Yah, impian yang kala begitu mendamba ada sebuah piranti ajaib bernama komputer di kamar saya. Bernilai historis, sebab saya mendapatkannya lewat jutaan klik jari jemari saya. Menjadi seorang pemulung sen demi sen pada sebuah bisnis online amatir bernama PTC. Bahkan jika perlu saya rela berpancal ria sejauh 25 kiloan menuju jantung kota. Mencari pinjaman komputer dan akses internet cuma-cuma pada teman-teman mahasiswa. Tujuannya satu, agar proses mengumpulkan sen di tabungan paypal saya terus berlanjut.

Itulah proses yang saya jalani. Misi yang oleh teman-teman saya dianggap sebagai hal yang mustahil bin percuma. Tapi justru  membuat saya makin tertantang untuk meraihnya. Lalu hasilnya? Wow, saya puas sekaligus bangga ketika sore itu sebuah laptop benar-benar menjadi milik saya. Memang bukanlah sebuah laptop baru, tapi ada perjuangan saya disitu. Tak mewah seperti halnya laptop kedua, tapi nilai historisnya membuat saya lebih sayang dan bangga pada laptop lama.



 Melelahkan sekali kalau kita mengejar pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu dari sini bukan dari sana 
Dulur blogger, saya sepakat dengan kalimat yang ada dalam video CineUs Book Trailer. Memang menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan jika kita melakukan sesuatu hanya untuk mencari pengakuan dan pujian. Sebab, puas itu sebenarnya sederhana dan ada dalam hati kita. Bukan tentang soal seberapa banyak sanjung pujian yang nanti kita dapatkan. Kebanggaan itu layaknya seorang pendaki yang berusaha menggapai puncak idamannya. Harus bersusah payah melalui halang rintang yang ada. Ketika sudah menapak puncak, puas dan bangga itu ada di dalam hatinya. Selebihnya hanya sepi saja yang dia temui. Tak ada baliho sebagai tanda ucapan selamat datang. Tiada sorak sorai penonton pula yang memberinya tepuk tangan.

Puas itu ada dalam hatinya, tapi tak seorang pun tahu berapa kadar yang dirasa, kecuali Tuhan saja. Bangga itu ada di dalam dada, tapi tak membuatnya lena. Menyadari jika setelahnya dia akan kembali turun ke awal mula. Bangga tak membuatnya lupa diri, apalagi terinfeksi virus tinggi hati. Sebab, sekalipun  mampu menapak langit. Dia sadar, jika di atas langit masih ada pula langit yang akan mengangkangi.

Dulur blogger, bagaimana dengan Anda? “Apa Arti Kebanggaan Buat Elo?”