Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 24 Oktober 2013

Kata Mereka Itu Bapak...

Dari beberapa giveaway yang pernah ada, mungkin inilah yang tersulit bagi saya. Berhubung saya gerah dengan aksi provokasi sohibul hajat giveaway di warung sebelah. Jadi terpaksa saya luluskan semua pintanya. Walau mungkin saja tulisan ini nanti akan melebihi 500 kata. Tapi sudahlah, setidaknya saya sudah turut meramaikan meski melanggar aturan. Atau anggap saja ini artikel hadiah buat  Pendar Bintang, si nyonya rumah. Sebagai ucapan terima kasih sebab dulu pernah pula meramaikan rumah maya sederhana ini. Ya, tiga tahun yang lalu ketika blog ini masih sepi, komentar mbak Hanila seringkali turut mewarnai. Meski sekali lagi semua tak mudah untuk saya tuliskan. Bak seorang pemulung, saya harus kembali mengais-ngais serpihan memori yang tertinggal di kepala akan sebuah cerita bernama Bapak.

Menjadi artikel yang sulit sebab masa kecil saya dipenuhi kisah rumit. Di saat semua peserta begitu mudah menulis detil cerita masa kecilnya, justru saya kesulitan harus memulai dari mana. Mereka pun begitu bangga memajang foto lama bareng keluarga, sebaliknya saya tak kuasa untuk melakukannya. Yah, bagaimana akan kuasa jika melihat raut bapak saja tak lebih dari sepasang mata saya. Bagaimana saya bisa lancar bercerita, jika hangat dekapnya saja tak pernah saya rasa.

Anak  terbuang, itulah paradigma yang dulu selalu membayangi masa kecil saya. Ketika dewasa baru saya menyadari betapa indahnya skenario Illahi. Menjadi bocah kecil yang diabaikan  keluarganya sendiri. Lalu dipungut sebuah keluarga yang tak bertalian darah dengannya. Diberikan kasih sayang dan melupakan jika saya cuma anak pungut mereka. Saudara layaknya orang biasa. Orang lain justru menjadi keluarga. Itulah cerita hidup saya.

Cerita ini terjadi ketika saya masih SD. Kebetulan sekolah saya  adalah tempat embah kandung saya berjualan makanan kecil di kantin sekolah. Ya, meski tak hidup bersama, saya dan keluarga kandung masih tinggal di kampung yang sama. Jadi masih ada interaksi antara saya dengan mereka. Meski semua biasa saja. Tak pernah menginap di rumah mereka. Diri saya pun tak spesial bagi mereka. Sebab, mungkin saja mereka mengganggap jika saya sekarang sudah menjadi tanggung jawab orang. Jadi itulah yang membuat ikatan batin antara saya dan mereka terasa biasa saja. (Ah, semoga Anda tak pusing membaca ruwetnya tulisan ini hahaha)

Ketika jam istirahat, embah memanggil saya. Beliau menyuruh  mengambil pisau di rumahnya yang tak jauh dari sekolah saya. Sepuluh menit kemudian saya telah sampai di rumah embah. Pintu rumah itu masih terbuka. Di dalamnya tampak seorang lelaki duduk santai di ruang tamu. Entah kenapa tiba-tiba saya merasakan sebuah getaran tak biasa dalam hati saya ketika melihat lelaki itu. Muncul sebuah pertanyaan dalam diri saya, siapa sebenarnya lelaki yang ada di rumah embah?

Diantara perasaan tak biasa yang masih bergejolak dalam hati, saya pun mengemukakan maksud kedatangan diri. Berkata kepada lelaki itu jika saya disuruh embah mengambil pisau dapurnya. Lelaki itu  menuju dapur. Mengambil pisau embah lalu memberikannya kepada saya. Itu saja interaksi yang terjadi antara saya dan lelaki itu. Selebihnya saya pulang ditemani sebuah pertanyaan yang sulit saya uraikan. Siapa sebenarnya lelaki di rumah embah?

Sesampai di sekolah, pisau pesanan embah segera saya berikan. Dengan polos saya pun bertanya tentang siapa sebenarnya lelaki yang ada di rumah beliau. Embah lalu menjawab, "Yo iku bapakmu."

Bapak? Ya, ternyata lelaki di rumah itu adalah bapak saya.  Lelaki yang oleh orang-orang kampung disebut sebagai seorang perantau sejati. Yang hanya bermodal nekat mencoba menyabung nasibnya di ibukota. Menumpang dan berpindah dari gerbong kereta barang satu ke yang lainnya. Hanya untuk satu tujuan, ingin menjadi seorang lelaki sejati !

Kini lelaki itu kembali ke kampung halamannya. Mengobati rasa kangen pada tanah kelahirannya. Tapi ada satu hal yang tak dia sadari. Ya, dia tak tahu jika bocah kecil pengambil pisau itu adalah darah dagingnya.

Dulur blogger, itulah secuil kisah yang bisa saya tuliskan akan sosok seorang bapak. Tiada lagi yang bisa saya bisa ceritakan. Sebab selebihnya saya hanya tahu dari mulut orang-orang dan teman-teman beliau saja. Kata mereka wajah saya mirip dengan bapak. Kata mereka bapak dulu bertahan hidup di Jakarta dengan menjadi seorang pencari katak di kali-kali ibukota. Selebihnya saya dengar kabar jika bapak hingga akhir hayatnya mencari rejeki sebagai pedagang ikan hias di kawasan jalan Pramuka. Itulah bapak saya. Salah satu orang yang selalu mendapat hadiah doa dari saya. Sebab sepedih apa pun jalan ceritanya, bapak telah berjasa. Yah, bapaklah yang telah menjadi sponsor munculnya saya di dunia

Saat masih kanak-kanak dulu seringkali ada semacam protes dalam hati. Saya protes dengan nasib yang saya alami. Tapi, lambat laun saya pun sadar, jika keputusan mamak dan bapak dulu adalah jalan yang terbaik untuk hidup saya. Yah, mereka tak semata membuang saya, tapi justru menyelamatkan hidup saya. Mereka paham benar jika kebahagiaan saya bukanlah bersama mereka. Tapi bersama keluarga yang sekarang saya tinggali. Keluarga yang telah menjadi magnet dan mengikat hati saya untuk tak jauh pergi dari kota kecil ini.

Memang tak terdengar lelaki seperti bapak. Juga tak seberani bapak yang menjadi perantau sejati. Tapi, saya tak ingin melakukan kesalahan seperti yang bapak lakukan. Meninggalkan orang-orang yang harusnya saya cintai. Sebab, disinilah hidup saya. Keluarga inilah yang memberi saya kehidupan. Jadi, bagaimana saya bisa pergi dari kota kecil ini hai Marpuah? Jika disinilah tempatku mengabdi hingga tutup usia nanti?