Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Minggu, 06 Oktober 2013

Kitalah Penulis Sejarahnya

Sejarah, topik ini seringkali menjadi pemicu engkel-engkelan antara saya dan majikan. Tidak, engkel-engkelen kami tidaklah seperti yang biasa terlihat di televisi. Tak ada aksi gebrak meja layaknya anggota dewan. Atau,diskusi sambil berbasah-basah ria ala Munarman. Diskusi yang hangat nan santai. Sebab diantara kami hanya ingin mengenal jauh masing-masing jeroan negaranya. Saya ingin lebih mengenal sejarah serta budaya negeri bernama Misr alias Mesir. Sebaliknya sebagai warga asing, sang majikan juga ingin mengenal jauh Indonesia dengan segala pernak perniknya.

Seperti yang pernah saya tulis di artikel berjudul "Majikan Vs Bawahan = Piramid Vs Tempe", engkel-engkelan itu memang kerapkali terjadi. Darah Arab yang tak mau kalah omong bertemu dengan Ras Jawa bergenus ngeyel, membuat suasana diskusi hangat berubah menjadi ajang debat. Maklum, ego nasionalisme masing-masing tak mau untuk dikalahkan. Masing-masing diantara kami tentu saja lebih mengunggulkan negerinya sendiri-sendiri.

Sekat antara bawahan dan majikan seringkali saya lupakan. Intinya saya tak ingin Indonesia dikalahkan. Saat majikan bicara soal Piramida, saya pun bercerita tentang Borobudur dan keindahannya. Ketika majikan begitu bangga dengan sebuah tarian perang dengan senjata rotan, saya pun tak mau ketinggalan. Mengatakan jika di Indonesia ada sebuah kesenian yang jauh lebih lelaki di banding tari perangnya, yaitu adu pecut rotan atau biasa disebut ujung.

Batik, Krakatau, Komodo, hingga kuburan Trunyan, itulah yang biasanya sering saya jejalkan dalam otak majikan hahaha. Meski tak bisa saya pungkiri jika Mesir memang jauh lebih banyak tercatat dalam tinta sejarah dunia. Terusan Suez, Piramida sampai riwayat agama samawi banyak muncul dari sana. Tapi menurut saya jika bukan kita lantas siapa lagi yang akan membanggakan kekayaan Indonesia?.

Di penghujung bulan kemarin ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Ya, hari itu menurut buku sejarah SD yang saya baca adalah hari yang begitu kelam bagi rakyat Indonesia. Yang ketika saya kecil dulu pemerintah suka mentraktir rakyatnya dengan sebuah tontonan film berjudul G30S PKI. Iseng-iseng saya pun mencoba menelusuri kembali cerita tentang PKI. Lewat forum-forum ataupun artikel dengan harapan mendapat semacam kesimpulan tentang kejadian sebenarnya. Sekedar melakukan semacam kroscek dengan pelajaran sejarah SD saya dan kata embah-embah saya dulu.

Sayang, bukan kesimpulan yang malah saya dapatkan, tapi justru sebuah kebingungan. Sama bingung seperti kurikulum pelajaran sejarah kita. Di satu sisi ada pihak yang mengatakan jika gerakan PKI itu benar adanya. Di sisi lain ada pula yang kekeh berkata jika G30S PKI itu produk orde baru. Masing-masing pihak ngotot dan ngeyel dengan pendapatnya. Engkel-engkelan layaknya adu otot leher antara majikan dan saya. Membuat saya bertanya dalam hati, "emang saat PKI ente semua sudah lahir ke dunia?".

Dulur blogger, di jaman reformasi sekarang ini banyak sekali berbagai  versi mengenai sejarah kita. Semuanya ditulis kadang bukan karena sebuah fakta, tapi kadang sarat aroma kepentingan semata. Sungguh sayang rasanya jika kita masih saja disibukkan engkel-engkelan dalam hal sejarah yang kita sendiri tak pernah menjadi saksi mata. Bisa jadi justru kita akan menjadi korban para penulis sejarah palsu di masa lalu.

Jasmerah, jangan sampai melupakan sejarah memang benar adanya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejarahnya. Tapi, jika kita terus saja berkutat dengan masa lalu, lantas bagaimana bangsa kita bisa maju?. Padahal kita sama sekali tidak benar-benar tahu kebenaran sejati dari sejarah itu sendiri. Bisa jadi itu benar, bisa pula cuma mencari pembenaran. Jangan lupa masih ada jasmerah lain yang patut kita perhatikan. Yah Jasmerah, jangan sampai melupakan arah. Jangan sampai lupa bahwa negeri kita tak sedang berjalan mundur, tapi terus melangkah ke depan. Indonesia terus berproses untuk membuat sejarah-sejarah barunya. Dan kitalah para penulis sejarah itu.

Lantas, apakah saya percaya dengan peristiwa G30S PKI? Ya, saya seorang yang anti PKI. Alasannya sederhana saja, saya lebih percaya kata embah ketimbang sejarah, itu saja.  

Stop engkel-engkelan !