Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Rabu, 30 Oktober 2013

Tiket dari Maling Budiman

Suatu pagi usai bangun dari tidurnya, Dargombez  melihat sebuah kertas nampak tergolek di lantai ruang tamu rumahnya. Kertas itu menarik perhatiannya. Berwarna merah jambu. Berbentuk seperti surat undangan dan terlihat sengaja diselipkan begitu saja melalui sela daun pintu. Spontan, Dargombez pun menggerutu dalam hati.

"Jiasik, siapa lagi sih yang nikah hari ini?" gerutu Dargombez.

"Kenapa sih setiap bulan haji orang nikah pada saling ngantri?"

"Dua hari yang lalu si Markonah nikah, kemarin giliran si Jaeman yang kawin."

"Lah sekarang datang lagi surat undangan. Apa mereka enggak paham kalau aku sedang kesusahan?"

Dargombez mengambil kertas bersampul merah jambu itu, lalu membacanya. (sorot gambar untuk mengintip isi suratnya)








Kepada Yth
Bapak Dargombez



Sebagai tanda terima kasih, terimalah tiket nonton bioskop ini. Maaf, sekarang saya tak bisa memberi Anda hadiah yang layak. Tapi, saya berharap semoga tiket ini bisa sedikit melupakan semua kesusahan yang telah saya perbuat pada Anda sekeluarga. Doakan secepatnya saya punya waktu luang untuk memberi Anda kembali sebuah hadiah kejutan.

Sebelumnya saya meminta maaf karena telah mengganggu ketenangan Anda sekeluarga beberapa hari ini. Ya benar, sayalah yang telah mengambil mobil Anda beberapa hari yang lalu. Maaf, saya terpaksa melakukan itu semua karena terpaksa. Malam itu puteri saya dalam kondisi kritis dan harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya.
Syukurlah, sekarang puteri saya telah melewati masa kritisnya. Tentu saja semua karena jasa anda.
Saya tahu mencuri mobil Anda adalah sebuah kesalahan. Tapi, semua itu saya lakukan karena sebuah keterpaksaan. Oh ya, mobil Anda sudah saya kembalikan. Sekarang saya letakkan di dekat taman yang tak jauh dari rumah Anda.























"Bu..bu kabar baik. Kabar baik bu!" teriak Dargombez kegirangan.

"Opo wae toh pak? pagi-pagi sudah teriak-teriak kayak orang menang lotere." sahut bu Dargombez keluar dari kamar.

"Ternyata mobil kita tidak dicuri bu. Lihat ini!" jawab Dargombez memberikan kertas yang dia pegang ke istrinya.


Dargombez lalu membuka pintu rumah. Berjalan menuju seberang jalan kecil depan rumahnya. Matanya nampak sibuk memandang jauh ke sebuah arah. Memastikan mobilnya sekarang benar-benar ada di dekat taman seperti isi surat yang baru dia baca.

"Ternyata benar Bu, itu mobil kita!" teriak Dargombez pada istrinya yang baru saja keluar rumah menyusulnya.

"Syukurlah pak mobil kita tak jadi hilang. makanya lain kali kalau naruh mobil mesti hati-hati."

"Perumahan kita ini masih baru. Apalagi rumah kita letaknya paling jauh dari tetangga lainnya.

"Bapak sih kenapa dulu pilih rumah di pojok sendiri." gerutu bu Dargombez makin menjadi.

"Sudahlah bu, aku kan sukanya suasana tenang. Lagian aku tak terlalu suka kumpul dengan orang-orang kebanyakan."

"Yang penting aku gak ngurusi urusan mereka, gampang toh?"

"Lah terus kalau ada apa-apa, siapa yang akan bantu kita pak?" bu Dargombez menjawab.

"Wis tah bu, yang penting mobil kita sudah kembali."

"Bukan hanya itu saja. Lihat ini, maling itu memberi kita hadiah. Wah benar-benar maling budiman dia." jawab Dargombez sembari memamerkan empat buah tiket dari balik sakunya.

"Pokoknya sampean tenang saja. Nanti malam waktunya kita senang-senang."

"Kita nonton bioskop di kota rame-rame bu. Hmm, jadi enggak sabar aku bune ngeliat akting artis idolaku, si Julia Remez."


Malam harinya Dargombez nampak bersiap menuju kota. Ditemani istri dan dua putera kembarnya, si Mono dan Stereo. Mobil bermerk Dainapsu Cobra itupun meluncur ke pusat kota. Menuju gedung bioskop dengan segala suka cita para penumpangnya. Dan tentu saja Dargombez yang nampak paling antusias. Sebab, dia sudah tak sabar lagi menonton film terbaru artis kesayangannya, Pocong Minta Khitan.

Tiga jam berlalu Dargombez sekeluarga nampak pulang dari pusat kota. Sepanjang jalan mulut Dargombez tak pernah berhenti memuji akting dari artis pujaannya. Pun demikian dengan bu Dargombez, nampak mengamini semua komentar suaminya. Kecuali dua putera kembar mereka yang terlihat tak meminati percakapan orang tuanya. Ya, si Mono dan Stereo tak menikmati film yang ditontonnya tadi. Mereka lebih banyak menutup mata dengan kedua tangannya. Mereka kecewa, Sponge Bob sebenarnya yang mereka mau, bukan sekawanan hantu.

Ketika mobil itu berhenti di depan rumah yang mereka tempati. Tiba-tiba saja keceriaan berubah sirna oleh kejanggalan yang saat itu mereka saksikan. Nampak di depan rumah mereka dipenuhi para warga perumahan.

"Ada apa ini pak RT?" tanya Dargombez keheranan.

"Syukurlah sampean datang pak. Rumah anda baru saja kemalingan."

"Bapak tunggu di sini dulu, sebab di dalam polisi sedang melakukan olah TKP" jawab pak Blonthang Brotowali, ketua RT perumahan mencoba menenangkan.

"Hah kok bisa? Apa enggak ada satu pun warga yang memergoki?" tanya Dargombez seolah tak percaya.

Pak Blontang lalu menjawab, "Sebenarnya ada beberapa warga yang melihat sebuah truk di depan rumah anda pak, tapi mereka cuma diam."

"Mereka menyangka itu tamu sampean. Lagi pula mereka segan sebab mereka tahu pak Dargombez adalah orang yang tak suka diriwuki orang lain."

"Lalu apa saja yang diambil pak?" tanya Dargombez sedih.

"Nyaris tak bersisa pak, semua isi rumah Anda diambil mereka"

"Pot bunga sampai kucing angora sampean mereka bawa. Semua kosong melompong ketika saya masuk tadi. Cuma ini saja yang saya temukan." jawab pak Blonthang sambil memberikan sebuah kertas pada Dargombez.


Dargombez mengambil kertas tersebut. Bentuknya menyerupai surat undangan seperti yang dia temukan tadi pagi. Kecuali warna saja yang membedakannya. Bukan lagi merah jambu, tapi ungu.

Dargombez lalu membuka kertas berwarna ungu itu.

Lima belas menit kemudian.....

Ambulan datang