Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 10 Oktober 2013

Tulis Saja Meski Tak Nyastra

Banyak diantara pengguna warnet menyangka jika saya fasih berbicara bahasa Inggris. Maklum di warnet mereka acapkali melihat percakapan antara saya dan majikan. Ya, kewarganegaraan bos Montaser adalah Mesir. Arab menjadi bahasa resmi ketika berbicara dengan sang istri. Inggris menjadi bahasa kedua. Sisanya dia gunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Tentunya dengan kualitas berbahasa Indonesia yang tak jauh beda dengan grammar Inggrisnya. Yah, sama-sama ngawurnya.

Inggris pasaran, itulah kualitas percakapan antara saya dan majikan. Tak begitu peduli soal grammar, yang terpenting kami sama-sama tahu maksud dari percakapan. Membuat istilah atau sebutan seenak udelnya. Misalnya "little bomb" untuk menyebut mercon. Atau "breakfast after Maghrib", yang maksudnya adalah "berbuka puasa". Kadang kami pun melakukan semacam mix pada kedua bahasa. Misalnya dalam percakapan seringkali kami menyebut "one ribu" untuk menyebut kata seribu.

Itulah  kondisi percakapan sebenarnya antara saya dan majikan. Terdengar fasih lidah Inggrisnya. Padahal sebenarnya memiliki kosakata dan grammar yang sama ngawurnya. Percakapan yang kadang turut pula mengundang keyboard Arabic dan Google translate hadir di tengah kami. Sebagai solusi manakala percakapan kami menjadi buntu karena ketidakpahaman.

Hingga hari ini saya masih saja mengajak teman-teman untuk turut berkarya di naungan blogger. Menulis untuk berbagi seperti  yang saya lakoni hingga detik ini. Ada yang tertulari, tapi banyak pula yang enggan dengan bermacam alasan. "Saya tak paham sastra", atau "Saya tak mampu merangkai kata", itulah beberapa alasan yang membuat beberapa teman masih enggan untuk menulis. Padahal sejatinya menulis itu bisa dilakukan siapa saja. Yah, tak sesulit yang dulu saya bayangkan ketika belum menjadi seorang blogger.

Menulis itu menurut saya tak harus mengejar kualitas sastra. Tak harus pula dipenuhi aneka istilah layaknya kaum intelek semata. Menulis itu hanya soal bagaimana cara kita menuangkan imajinasi dan pikiran dalam sebuah bentuk tulisan. Meski sederhana tapi mudah dipahami yang membaca, itu saja. Yah, layaknya percakapan antara saya dan majikan. Enggak peduli grammar dan segala tetek bengeknya, yang terpenting adalah sama-sama paham maksudnya.

Tidak, bukan berarti saya tak menyukai tulisan bernilai sastra tinggi. Tapi, jangan sampai sastra justru akan menjadi beban para calon dan blogger pemula. Jangan paksa tulisan kita dipermak nyastra layaknya para penulis ternama. Alih-alih pingin membuat tulisan sastra, tapi justru sebaliknya tulisan kita nampak aneh dan membuat pembaca mengernyitkan dahi karena sulit memahami tulisan kita.

Para netter yuk ramai-ramai kita menulis. Menulis dan terus saja menulis. Merangkai kata sesederhana tanpa harus terbebani soal sastra. Sambil terus belajar mengasah teknik-teknis dasar menulis. Tentang cara menempatkan huruf kapital yang benar. Memahami kosakata EYD. Juga tentang cara memainkan tanda baca titik koma. Insya Allah lama-lama  akan ketemu juga pakem sastra versi Anda.

Dulur blogger, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memahami tulisan-tulisan saya? Atau justru sebaliknya tak paham sama sekali gara-gara saya menulis sok nyastra hahaha.