Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Sabtu, 28 Desember 2013

From Blitar to Pakong

Seperti halnya Asean Blogger, di gelaran Blogger Nusantara saya kembali menjadi satu dari sekian orang yang masih tercecer pasca acara. Wajar, lagi maruk dolan nih ceritanya. Apalagi status saya sekarang bukan lagi seorang satpam dunia maya. Senyampang  ada waktu luang jadi saya manfaatkan untuk sedikit berpetualang. Melakukan perjalanan seperti bulan Mei kemarin, wisata kopdar ala Lozz Akbar.

Jika di wisata kopdar jilid pertama saya mengunjungi kota-kota besar macam Bandung, Bogor dan Jakarta. Wisata kopdar kedua ini cuma di sekitaran Jawa Timur saja. Maklum, kali ini tak ada fasilitas tranportasi gratis seperti Asean Blogger kemarin hahaha. Jadi saya pun harus mengkondisikan arah tujuan perjalanan dengan nominal receh yang ada di tangan. Dan  fokus perjalanan kali ini adalah mengunjungi dulur-dulur blogger yang belum pernah sekalipun saya temui. Menuju Srengat Blitar ke rumah Kang Pakies. Juga dolan ke Kang Citro di Pakong, Pamekasan.

Blitar

Cerita kedatangan saya di Blitar biarlah artikel berjudul "Silaturahim dua blogger ke Blitar" ini saja yang mewakilinya. Kali ini saya akan bercerita saja pengalaman ketika diajak kang Pakies mengunjungi obyek wisata yang ada di kabupaten Blitar dan Kediri.

Museum Makam Bung Karno

Makam Bung Karno
Museum Makam Bung Karno

Selain berziarah ke makam proklamator, saya juga diajak oleh kang Pakies berkunjung ke museum perpustakaan Bung Karno. Mengamati barang-barang peninggalan dari sang proklamator. Dari lukisan, buku-buku peninggalan hingga foto-foto masa lampau yang bercerita betapa besar karisma Sukarno saat itu. Yah, meski Indonesia tak bisa disebut sebagai negara adidaya, tapi ternyata memiliki seorang anak bangsa yang punya pengaruh begitu besar bagi dunia.

Candi Penataran

Candi Penataran
Candi Penataran


Dari Makam Bung Karno sedianya kami melanjutkan ke wisata alam Gunung Kelud. Namun di tengah perjalanan kang Pakies mengajak mampir dulu ke obyek wisata Candi Penataran. Mengamati kejayaaan masa silam bangsa ini. Lewat pahatan-pahatan mahakarya tak ternilai harganya. Membuat hati saya bertanya, apa benar jika negeri ini identik sebagai sarangnya tukang impor? Padahal jauh sebelum peradaban modern digulirkan, kita pernah berjaya menjadi bangsa dengan karya-karya besarnya.

Gunung Kelud

Gunung Kelud
Gunung Kelud


Dari Blitar kami segera bergerak menuju Kediri. Berkunjung ke sebuah obyek wisata yang sejak lama ingin sekali saya kunjungi yaitu gunung Kelud. Takjub sekaligus ngeri, itulah perasaan yang kami rasa di sepanjang perjalanan. Ngeri sebab harus melewati jurang-jurang yang menganga di sepanjang perjalanan kami. Tapi semua itu rasanya terbayar impas dengan eksotika pemandangan yang bisa ditatap dengan puas. Belum lagi ditambah sensasi ketika melewati "jalan misteri". Sebuah jalan ke arah wisata Kelud yang melegenda. Jalan yang oleh sebagian orang disebut-sebut memiliki keanehan. Ya, secara visual jalan ini nampak menanjak naik, tapi sanggup membuat benda semacam mobil bergerak dengan sendirinya. Meski adapula penilitian yang mengatakan jika fenomena itu hanya ilusi saja. Tapi masa bodoh dengan pro kontra itu semua hahaha. Yang penting saya bisa keturutan dolan ke tempat idaman. Gunung Kelud !

Seperti biasa ada dua hal yang biasanya saya amati ketika masuk ke kawasan wisata yaitu sampah dan coretan pengunjungnya. Yah, meski Kelud bisa dikatakan lumayan bersih dari sampah pengunjungnya, tapi masih saja banyak coretan vandalisme yang menghiasi keindahannya. Terlepas dari semua itu, Kelud menurut saya begitu cantik dan layak menjadi kebanggaan Indonesia. Lagi-lagi dalam hati saya berpikir, satu tempat seperti Kelud saja sudah membuat saya takjub dan bangga. Lantas bagaimana halnya jika saya bisa mengunjungi Rinjani, Raja Ampat, Bunaken atau tempat-tempat indah di Indonesia lainnya? Ah rasanya tak kurang-kurang negeri ini memiliki wisata indah. Tempat-tempat menawan tanpa harus kita hiasi dengan sampah dan coretan sebagai kenangan.

Pakong, Pamekasan

Pakong, Pamekasan
Pakong, Pamekasan


Setelah dua hari parkir di kota pahlawan Surabaya, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Madura. Kendati warga Jawa Timur, tapi menjejakkan kaki di pulau Madura adalah pengalaman pertama bagi saya. Kira-kira jam 8 malam saya bertolak menuju Madura dari terminal Purabaya. Meski lelah, tapi sengaja saya menjaga geliat mata agar terus terjaga. Alasannya sederhana, hanya ingin melihat keindahan jembatan Suramadu dengan warna warni lampunya.

Ada semacam euforia luar biasa ketika memasuki ujung pulau garam yaitu Bangkalan. Betapa tidak, di sepanjang jalur yang saya lewati merah putih nampak berkibar di depan rumah warga. Seakan turut mengucapkan selamat datang atas kedatangan saya. Padahal sejatinya sambutan itu bukan ditujukan kepada Lozz Akbar, presiden Warung Blogger. Tapi buat Susilo Bambang Yudhoyono, presiden sebenarnya. hahaha.

Turun di terminal Pamekasan, kang Citro lalu menjemput saya. Kami pun bergerak menuju Pakong, sebuah kecamatan di daerah perbukitan Pamekasan. Malam itu waktu lebih banyak kami habiskan dengan ngobrol seputar ngeblog. Dan tentu saja sambil ditemani secangkir kopi hangat ala Pakong Raya.

Esok hari barulah kang Citro mengajak saya berkeliling desanya. Ada satu hal yang saat itu saya suka dari suasana Pakong. Banyaknya burung-burung liar yang bebas berkicau sesukanya. Bagi saya kondisi itu semacam indikator jika masyarakat di sana masih peduli dengan kelestarian satwa-satwa endemiknya. Namun sayang, ketika pulang justru saya temukan kondisi yang mencemaskan. Yah, di saat burung-burung Pakong bebas berkelakar, ada pula sebuah bahaya mengintai bernama penambangan liar.

Pakong, Pamekasan
BERBAHAYA !


Dulur blogger, itulah sedikit cerita saya tentang wisata kopdar jilid kedua. Perjalanan mengesankan sekaligus memberi saya semacam oleh-oleh renungan untuk dibawa pulang. Yah, saya bangga hidup di negeri ini. Indonesia yang memiliki begitu banyak keindahan dan sumber daya alam tak terkira. Saya bangga berdiri di bawah satu bendera bersama Sukarno yang telah mengharumkan nama bangsa. Saya bahagia telah menjadi bagian dari bangsa yang sejak jaman silam mampu menciptakan mahakarya bagi dunia.

Namun saya juga nelangsa membayangkan jika dibalik keindahan ada pula tangan-tangan jahil yang mencoba mengusik dengan coretan dan aksi vandalis tak beraturan. Prihatin rasanya di saat sebagian nampak damai dengan kalimat kelestarian, tapi di sisi lain justru menciptakan bahaya tanpa disadarinya. Periculum in mora !

Tulisan turut menyemarakkan GiveAway "My Itchy Feet...Perjalananku yang tak terlupakan"