Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 14 Februari 2014

Bencana itu Mungkin Karena Salah Saya

banjir jakarta
dokumentasi M. Mockhlisin
Banjir merendam ibukota. Sinabung masih belum sembuh dari demam. Tiba-tiba semalam, Kelud pun ikut tertular dengan melontarkan batuk dahaknya. Dikabarkan beberapa gunung api bersiap pula menyalakan sumbunya. Itulah kondisi yang terjadi di negeri kita. Bencana menjadi pertanda jika bumi ini sedang sakit dan butuh penawar berupa kasih sayang  kita.

Indonesia, bumi yang subur serta menyimpan timbunan harta karun yang tak terkira. Negeri dengan bentang alam berupa pahatan-pahatan Illahi yang begitu menawan. Namun di satu sisi negeri ini bukanlah tempat yang aman. Ada ujian berupa bencana alam yang seringkali Tuhan berikan.

Yah, bencana seakan mesra bersahabat dengan Indonesia.  Tiga lempeng utama dunia membuat kita seringkali dihadiahi gempa tektonik dan juga tsunami. Aktifitas vukanis pun terus melakukan geliatnya di perut bumi kita, sebab nusantara disebut pula Ring of Fire dengan ornamen puluhan gunung apinya. Belum lagi bencana yang terjadi karena campur tangan manusia. Kerusakan lingkungan karena tambang misalnya? Atau tanah longsor buah dari pembalakan liar yang semena-mena? Seakan menambah daftar jika bencana dan bencana menjadi agenda tahunan negeri kita.

Banyak ragam manusia dalam menyikapi bencana yang tengah melanda. Ada yang pasrah menerima dengan ikhlas hati. Sebab baginya bencana itu  ujian bagi hamba untuk naik ke kelas yang lebih tinggi. Namun, ada pula beberapa yang beranggapan jika bencana itu adalah hukuman. Menganggap jika bencana itu terjadi karena ulah teman-teman mereka sendiri. Seakan tak bisa membedakan bencana yang terjadi oleh sebab fenomena alam dan mana yang berasal dari kezaliman anak Adam.

Ketika bencana datang, rasa dan sikap simpati pun muncul bermacam-macam. Ada yang melakukannya secara diam-diam, ada pula yang mengatasnamakan bendera yang mereka genggam. Tapi sudahlah, apa pun bentuk simpati yang mereka beri, semoga itu diniati karena rasa cinta pada saudara mereka. Bukan karena syiar warna-warni bendera semata.

Sayang, di tengah bencana yang melanda ada pula yang mencoba mangurai kesalahan semata. Dengan menyerang rival politik mereka misalnya? Lihat saja saat merah yang berkuasa. Ketika banjir mulai tiba,  biru, hijau, kuning dan warna-warni lainnya bersiap pula menggelontor tahtanya. Seakan tiada sadar jika saat giliran mereka duduk di tahta belum tentu masalah banjir bisa kelar. Bahkan mungkin saja ada diantara mereka yang menjadi biang kerok bencana. Dengan membangun villa-villa pada tanah yang tidak semestinya.

Jika pejabat saling sikut-sikutan, akar rumput pun mulai ikut-ikutan. Lewat jejaring sosial mencoba mencari kesimpulan dan kadang cenderung menyalahkan. Bahkan banyak pula yang menghubungkan bencana dengan hal-hal yang di luar logika. Mengatakan bencana Kelud itu terjadi sebab perayaan yang dilakukan segelintir muda-mudi. Ah, kenapa lagi-lagi harus mencari kambing hitam? Kenapa kita selalu enggan menyalahkan diri sendiri? Salah saya, salah Anda, salah kita semua bencana itu ada.

Yah, bisa jadi bencana itu ada karena salah saya. Sebagai pencinta alam mungkin saja saya masih tak mampu menyuarakan kelestarian pada setiap orang. Sebagai blogger mungkin pula tulisan saya tak banyak mempengaruhi pembaca untuk lebih sayang pada alam raya.

Semoga saja kita bisa bijak  menyikapi semua bencana yang ada. Tanpa harus mengurai panjang lebar tentang siapa yang harus disalahkan. Bencana tak semata diturunkan untuk memberi kemelaratan. Tapi, justru itu sebagai pelajaran sekaligus bukti kebesaran Tuhan. Yah, mungkin saja debu Kelud telah mengganggu aktifitas kita hari ini. Tapi beberapa tahun nanti justru abu itu akan menjadi vitamin bergizi bagi bumi yang sudah mati rasa. Jadi apa perlunya di jejaring sosial kita memajang status negatif? Kenapa tak kita nikmati saja cara kerja Tuhan yang Maha Kreatif?

Bencana itu soal kesiapan mental kita dalam menghadapinya. Tentang bagaimana cara meminimalkan agar  tak semakin bertambah karena ulah manusia. Mungkin pula sebagai momentum bagi kita untuk bersatu. Bukan justru sebaliknya untuk saling nylathu.

Yuk, kita saling bergandeng tangan. Meringankan beban saudara kita di tengah himpitan, tanpa harus saling menyalahkan. Sebisanya dan semampunya. Namun jika saja Anda tak kuasa seperti saya. Jalan terbaik mungkin adalah berdoa saja untuk mengungkapkan segenap cinta kita. Yah, diam, berdoa sambil merenung  jika mungkin saja bencana itu terjadi karena saya.