Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Jumat, 28 Maret 2014

Sang Patriot Itu Adalah Kita

sang patriot

Dua hari yang lalu saya menonton sebuah film kolosal berjudul "Sang Kiai". Film ini berkisah tentang perjuangan sang patriot bernama KH. Hasyim Asyari. Ulama karismatik sekaligus pendiri ormas Islam, Nahdatul Ulama. Mengikuti kisah perjuangan beliau dan santri-santrinya pada masa pendudukan Jepang. Tentang keteguhan untuk menolak tradisi "saikerei" yang membuat beliau dijebloskan penjara oleh tentara Nippon. Juga cerita tentang Bung Tomo yang melakukan sowan berkaitan dengan resolusi untuk berjihad melawan penjajah yang ingin kembali menduduki Surabaya.

Sebab penasaran, esok hari ganti saya menonton film "Soerabaia 45". Menghubungkan penggalan kisah Bung Tomo di film "Sang Kiai" dengan kisah heroik di film tersebut. Tidak puas sampai di situ, saya pun mencoba menggali lebih jauh akan perang Surabaya. Mulai dari aksi patriotik di Hotel Yamato, peristiwa terbunuhnya jenderal Mallaby, hingga rekaman pidato Bung Tomo yang di hari itu terus dan terus saya putar tanpa jemu. Literatur yang saya tuntaskan dengan satu kesimpulan, jika untuk harga sebuah kemerdekaan, semua itu harus ditebus lewat perjuangan yang tak gampang. Yah, itu hanya sisi cerita perjuangan dari satu kota bernama Surabaya. Lantas bagaimana halnya jika saya telusuri kisah-kisah sang patriot yang ada di bumi nusantara lainnya?

Kini, apa yang diidamkan para pejuang telah ada dalam genggaman. Perjuangan yang dulu pahit dirasa, sekarang berganti legit yang kita reguk bersama. Meski ada pula beberapa di antaranya yang berkata, "Indonesia itu belum benar-benar merdeka kawan!"

Ya, ya memang benar ada imperialisme gaya baru di tengah-tengah kita. Tapi, semoga nurani  tak pernah berhenti mensyukuri nikmat udara bebas yang kita hirup hingga detik ini. Sebab, seremuk apapun kondisi negeri kita hari ini, itu lebih baik dibanding saat Indonesia dijadikan negara koloni. Yah, setidaknya bukan karung goni yang menjadi pembalut kulit ini. Bukan pula gaplek yang menjadi makanan utama bangsa Indonesia. Kita pun masih bebas untuk nyetatus, ngetweet, bahkan berselfie ria. Juga yang lebih penting lagi, bisa puas membebaskan hasrat yang membelenggu di perut ini, tanpa harus was-was ada mortir yang nyasar di genteng WC kita. Bukankah itu salah satu nikmat menjadi orang merdeka?

Dulur blogger, mungkin saja kisah patriotik pendahulu kita telah menjadi sejarah. Tapi, bukan berarti perjuangan itu harus terhenti hingga disini. Perjuangan itu ibarat membangun sebuah rumah bernama Indonesia. Para patriot terdahulu mungkin sudah melaksanakan tugasnya, dengan menancapkan tiang serta pondasinya. Sekarang tinggal tugas kita untuk meneruskannya. Membangunnya dengan tembok bernama persatuan. Memayunginya dengan atap keimanan. Menghiasnya dengan taman-taman keadilan. Menanami pekarangannya dengan pohon-pohon kemakmuran. Serta mengisinya dengan pernik perabot karya di dalamnya.

Itulah yang menjadi tugas kita selanjutnya. Berjuang tanpa mesti dengan berperang. Enggak harus pula mengadu otot untuk menjadi seorang patriot. Tapi, cukup dengan menegakkan panji-panji amanah di setiap pekerjaan kita. Sebaik dan semampunya, itu saja tugas kita.

Menjadi seorang pejabat? Patriot itu ada jika benar-benar mengabdi untuk rakyat. Menjadi seorang dokter? Patriot itu ada saat melayani pasien tanpa harus membebani dengan birokrasi yang muter-muter. Menjadi seorang polisi? Patriot itu ada ketika dia mengharamkan apapun segala bentuk pungli. Patriot mungkin juga ada pada direktur yang menjalankan perusahaannya dengan cara yang jujur.

Lantas, apakah patriot itu juga ada pada masyarakat akar rumput seperti saya? Yah, kenapa tidak? Jiwa patriot seorang bawahan mungkin dengan jalan setia pada amanah sang majikan. Sebab, patriot itu soal kecintaan pada setiap apa yang dilakukannya. Tentang kesetiaan untuk pantang menurunkan bendera kepercayaan dari  majikan. Ketika saya menjadi penjaga warnet misalnya, mungkin patriot itu ada ketika saya berjuang untuk tak terbujuk hati mengurangi sekian rupiah hasil warnet di setiap hari. Itulah sang patriot menurut saya. Sederhana dan bisa dilakukan siapa saja. Ya, patriot itu ada di mana-mana. Pada saya, Anda, mereka, pada kita semua patriot itu ada.

Semoga saja kita bisa menjadi sang patriot di masing-masing bidang kita. Sebab, seremeh apapun pekerjaannya, itulah medan pertempuran kita dan Anda sang patriotnya. Merdekaaaa !



Note : Mau novel "Sang Patriot" gratis? atau  hadiah gadget yang nilainya jutaan?

Yuk ikuti Giveaway Syukuran di Bulan Maret : Mengenang Sang Patriot di Kehidupan Kami. Dapatkan 30 Novel "Sang Patriot" gratis dan peluang mendapatkan Tablet Asus, HP Samsung serta ratusan ribu hadiah menarik lainnya. Buruaaaan. DL sampai tanggal 31 Maret loh.