Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 22 Desember 2014

Emakku Tak Pernah Tahu Hari Ibu

Beberapa hari ini saya mengalami ujian yang berkaitan dengan kesehatan. Tiba-tiba di kaki kiri kanan bermunculan semacam benjolan. Jika dilihat sekilas seperti kulit memar yang baru saja terbentur benda keras. Ukurannya tidak begitu besar. Paling besar mungkin hanya seukuran ibu jari orang dewasa, tapi muncul begitu banyak dan merata di beberapa bagian kaki saya.

Awalnya saya menganggap jika mungkin itu semacam bisul saja. Tapi, makin hari makin banyak pula muncul benjolan-benjolan di kaki saya. Ukurannya sih memang tak begitu besar. Paling besar mungkin cuma seukuran ibu jari orang dewasa, tapi efek yang ditimbulkannya begitu luar biasa. Benjolan-benjolan itu muncul di bagian urat dan persendian kaki. Menimbulkan dampak berupa rasa ngilu yang menjalar di sekujur kaki, serta meriang di seluruh badan. Terus terang saya merasa tak mampu saat itu untuk berdiri. Apalagi berjalan, sungguh benar-benar membuat saya terasa tersiksa.

Syukurlah hari ini kaki saya sudah terasa mendingan. Setelah dua hari kemarin saya putuskan untuk periksa dokter. Diagnosa dokter menyatakan jika saya hanya mengalami gangguan pada hormon saja. Alhamdulillah, jujur sebelumnya saya sudah berpikir enggak-enggak jika sesuatu telah terjadi dalam tubuh saya. Apalagi bapak telah melakukan diagnosis ngasal yang mengatakan jika saya terserang kolesterol. Ada pula tetangga yang mengatakan jika saya besar kemungkinan telah terkena asam urat. Beberapa teman blogger yang saya tanyai pun menyarankan agar saya segera ke dokter, tapi saya tetap saja membandel. Ya, saya lebih percaya ramuan klasik dari pada dokter untuk urusan pegal dan lebam, yaitu param asam garam. Maklum, namanya saja pencinta alam, jadinya obatnya ya harus dari alam.hahaha.

Kembali lagi ke soal penyakit di kaki yang saya alami. Pada malam di mana rasa sakit mengalami puncaknya, saya sempat berpikir dalam hati. Jika dalam usia yang masih muda seperti ini saya merasakan sakit yang luar biasa pada kaki dan sekujur badan, lantas bagaimana  jika nanti saya sudah beruban?. Ketika pikun, encok dan asma sudah menjadi teman setia saya? itulah yang saya pikirkan pada malam itu. Sampai pikiran saya pun melamun ke masa saat kakek dan nenek saya masih ada.

Saya teringat  bulan-bulan terakhir menjelang perpisahan dengan kakek nenek saya. Lebih lagi dengan almarhum nenek yang biasa saya panggil emak. Sebab, bisa dikatakan saya adalah pengawal pribadi emak ketika malam tiba. Ya, emak juga seorang yang bandel seperti saya. Suka nekat pergi ke kamar mandi sendiri, meski dengan kondisi jalan yang tertatih. Meski sebenarnya saya tahu jika emak bukanlah benar-benar seorang pembandel, tapi cuma bermaksud tak ingin membuat repot orang-orang yang ada di rumahnya.

Pernah di suatu malam ketika adzan Subuh mulai bergema. Tiba-tiba saya melompat dari kamar tidur sebab mendengar suara berdebum dari ruang belakang. Yah, emak nekat lagi dan kini justru melukai diri sendiri. Saya liat beliau sedang mengerang kesakitan dan nampak darah mengucur dari hidungnya. Saya tanya kenapa emak tidak memanggil saya?

"Aku arep wudu' Le," jawab Emak.

Ah, rasanya saya merasa bersalah dengan semua kejadian yang menimpa emak malam itu. Saya merasa bersalah sebab kenapa saat itu mata saya bisa terpejam lena, padahal di hari biasanya saya adalah pengidap akut insomnia? Sejak saat itu saya pun semakin berhati-hati menjaga emak ketika malam tiba. Firasat dalam hati mengatakan jika mungkin perjumpaan saya dan emak tak akan lama lagi. Jadi saya harus lebih banyak lagi menemani dan mengabdikan diri dalam kesehariaanya.

Sejak saat itulah saya menjadi ajudan emak yang harus menjaga mata dan telinga agar tak kembali lena. Membantu segala kesulitannya saat tengah malam tiba. Menuntunnya ketika menuju kamar mandi. Menata bantal empuknya agar tetap nyaman di kepala. Kadang ketika nyeri di badan mulai terasa, saya pun menawarkan diri untuk mengurut punggung serta bahunya yang telah renta. Semua saya lakukan dengan penuh ketulusan. Bahkan panggilan emak ketika malam itulah panggilan yang saya rindukan. Yah, saya merasa bahagia sekaligus bangga sebab bisa ada di samping emak menjelang akhir hayatnya.

Saya tahu andai saja hingga detik ini  masih saja merawat emak seperti dulu, mungkin semua itu masih tak akan cukup untuk membalas semua kasih sayang yang diberikan emak. Seorang nenek sekaligus ibu yang tak pernah mau tahu aliran darah siapa yang ada dalam tubuhku. Ibu yang tak setetes pun air susunya telah membasahi tenggorokanku, tapi kasih sayangnya mengucur deras tak pernah henti hingga detik usianya telah terhenti.

Memang benar apa yang dikatakan oleh firasat, jika perpisahan itu kelak akan terjadi. Malam itu emak memanggil saya ke kamarnya. Beliau meminta saya untuk mengurut punggungnya, sambil terus bercerita layaknya obrolan ringan, tapi bagi saya sarat akan pesan. Agar saya tak pernah jauh-jauh dari rumah serta keluarga yang telah membesarkan saya. Agar saya terus menjaga Ning, anak emak yang menjadi ibu saya. Dan seperti biasa emak juga  mengingatkan saya agar senantiasa menjaga nilai-nilai kejujuran dari setiap pekerjaan yang saya lakukan. Setelah itu emak cuma mengucap dua kalimat saja.

"Wis awakmu turu'o disik le, emake mari iki yo arep turu", itu saja kata emak.

Ya, dini hari itu emak telah kembali ke pangkuan-Nya. Dua kalimat terakhirnya seakan menunjukkan betapa besar kasih sayang emak terhadap orang-orang yang dicintainya. Emak masih saja tak mau membuat repot anak-anaknya. Membiarkan seisi rumah lena di alam mimpi ketika dirinya bersiap menuju kehidupan yang hakiki. Seakan emak tak mau kepergiannya dilepas dengan isak tangis dari orang-orang yang dicintainya.

Itulah sebuah kenangan tentang emak saya. Salah satu dari tiga wanita berhati seluas samudera yang telah saya punya. Seorang wanita bernama Supatimah yang ketika saya kecil dulu terlihat ramah, tapi bisa menjadi macan manakala saya dijahili teman-teman sepermainan. Seorang ibu rumah tangga yang selalu rajin menyisihkan kepingan seratus rupiah di balik kasurnya. Yah, menyisihkan receh demi receh uang belanja, agar saat lebaran tiba saya bisa memiliki uang jajan yang sama dengan anak-anak tetangga. Perempuan yang tak pernah paham makna akan aksara, tapi prinsip "asal jadi daging"nya telah menjadi pedoman saya dalam berkarya. Dialah emakku, perempuan yang tak pernah tahu jika dalam setahun ada satu hari yang begitu spesial buat dia. Yah, emak tak pernah tahu akan Hari Ibu. Yang emak tahu mungkin cuma tahu satu hal saja, jika di 365 hari dalam setiap putaran hidupnya, di situ ada curahan kasih sayang bagi anak-anaknya di setiap harinya.


Tulisan ini untuk menyemarakkan #HariIbu Komunitas Emak Blogger dalam rangka menyambut Hari Ibu