Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Kamis, 18 Juni 2015

Gara-gara Pak JK Puasa Pertama Jadi Cedera

sahur puasa

Alhamdulillah sahur pertama sudah saya jalani di Ramadhan tahun ini. Dalam hati saya berharap semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik dari puasa-puasa sebelumnya. Tak hanya sukses menahan ketergiuran pada makan dan minuman, tapi bisa juga naik level.  Sukses menahan diri dari godaan-godaan yang merayu kalbu dan pikiran.

Jihad melawan diri sendiri itu enggak gampang ! Itulah pelajaran yang saya dapat dari puasa pertama ini. Menahan isi perut mungkin perkara yang mudah dilakukan hingga beberapa jam ke depan. Namun untuk urusan kalbu dan pikiran belum tentu kita bisa menaklukkan. Salah satunya adalah dari agresi penyakit hati bernama prasangka.

Ceritanya begini... malam sahur kemarin saya lalui sembari beraktifitas seperti biasa. Maklum, saya ini termasuk spesies Homo Sapiens Nocturnal yang melakukan rutinitas tak seperti manusia kebanyakan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Begitulah rutinitas harian saya.

Malam kemarin seperti biasa saya sibuk memberi pakan ternak-ternak blog saya. Sempat lupa jika malam itu adalah sahur pertama di Ramadhan ini. Saya pun tak menyadari jika ada semacam keanehan di malam tadi. Ya, seharusnya di malam sahur beberapa masjid dan langgar membunyikan speakernya sebagai tanda sahur tiba.

Di daerah saya ada semacam kebiasaan ketika Ramadhan tiba. Biasanya menjelang sahur masjid atau langgar begitu aktif membangunkan warga. Masjid dan langgar tak cuma berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi sekaligus jam beker bagi warga. Biasanya sejak jam dua dini hari speaker akan berbunyi untuk mengingatkan para warga. Kenapa jam dua? Mungkin saja untuk mengingatkan para ibu rumah tangga untuk menghangatkan hidangan sahurnya.

Peringatan di speaker itu biasanya muncul setiap setengah jam sekali. Para petugas masjid atau langgar  menghitung mundur waktu hingga imsyak tiba. Sejam sebelum imsyak tiba biasanya para petugas masjid melakukannya sembari mengaji, sambil mengingatkan waktu imsyak tiap 10-15 menitnya. Semua dilakukan dengan batas kewajaran. Dengan volume yang wajar dan berpuluh tahun lamanya dilakukan. Tiada pernah ada gesekan gegara speaker berbunyi ketika dini hari. Bahkan saudara non muslim yang rumahnya dekat dengan masjid tiada pernah mempersoalkan. Tiada merasa terganggu, kecuali jika mereka nekat tidur tepat di depan corongan.

Suasana Ramadhan seperti itulah yang dini hari kemarin tak saya rasakan. Saya baru sadar ketika Ibu Ning mengingatkan  untuk segera sahur.

Setelah sahur seperti biasanya prosesi makan saya tutup sembari menikmati asap kontroversi. Sesaat baru saja menikmati linting kenikmatan, di depan terdengar Ning berkata, "loh kok wis imsyak?". Dalam hati saya juga mbatin "iyo, kok gak seperti biasanya nih masjid?". Memang benar imsyak itu hanyalah pertanda, sebab adzan subuhlah yang biasanya menjadi tanda dimulai puasa. Tapi, di keluarga saya sudah menjadi kebiasaan jika saat imsyak tiba saat itulah dimulai puasa.

Adik perempuan saya pun ikut berkomentar "emboh iki kok moro-moro imsyak". Lalu saya pun menjawab, "gara-gara Yusuf Kalla iki masjid wedi muni!".  Nah loh, baru saja perang dimulai ternyata saya telah kalah. Meski untuk urusan menahan lapar serta dahaga sukses saya lewati hari ini. Namun saya merasa jika puasa pertama menjadi cedera gara-gara sebuah prasangka. Sebuah prasangka jika corongan masjid enggan bersuara gara-gara RI-2.

Dulur blogger, terlepas dari salah atau benar tidaknya isi pernyataan RI-2. Bagi saya pro kontra itu tidak akan pernah terjadi manakala pernyataan itu tidak dilontarkan. Berpuluh tahun lamanya kearifan lokal di saat Ramadhan itu dilakukan. Tiada pernah ada gesekan, kecuali dari segelintir umat saja yang masih awam soal pluralisme dan terlalu fanatik dengan agama yang dianutnya.

Sungguh sayang rasanya jika Ramadhan yang seharusnya diisi dengan kekhusyukan harus dicederai dengan sebuah perdebatan gara-gara corongan. Pak JK saya rasa tidak peka membaca iklim politik masyarakat Indonesia. Tidak sadar jika sedikit saja lisan penguasa melakukan blunder akan dijadikan bulan-bulanan para hater. Sebaliknya, para mantan pendukung nomer dua pun akan mati-matian membela. Termasuk diri saya yang sebab prasangka pada RI-2 membuat puasa cedera.

Mungkin saja pak JK perlu mengetahui sebuah cerita tentang saudara saya bernama Nurkalim. Yah, seorang pengurus langgar kampung yang ditegur oleh tetangganya. Alasannya sederhana, tetangga Nurkalim yang beragama Nasrani tak bisa bagun pagi gara-gara adzan Subuh di langgar kampung tak terdengar beberapa hari. Jadi apa yang harus dibahas soal toleransi?

Tapi sudahlah, yang jelas saya sudah plong mengutarakan uneg-uneg ini. Yah, daripada puasa saya akan cedera lagi untuk kedua kali. Mending saya lampiaskan lewat tulisan ini. Setidaknya dari sahur semalam saya bisa memetik sebuah hikmah, jika puasa batin itu tak gampang untuk dilakukan.

Semoga saja di puasa ke dua dan seterusnya saya bisa mengendalikan setiap gejolak batin saya sebab prasangka. Sambil berharap semoga pula puasa pertama saya mendapat diskon dari Sang Maha Pengganjar dengan nilai sempurna. Yah, hanya kepada Sang Maha Penggajar saja, bukan pada RI-2. Sebab saya yakin JK tak akan mau mengganti pahala puasa pertama saya yang telah cedera di menit-menit pertama.

Selamat berpuasa pak JK..