Monggo Pinarak..!

Lozz Akbar

Blog seorang pencinta alam di sebuah kota kecil bernama Jember

Tempat Nongkrong

Kirim Email

Senin, 15 Juni 2015

Kata Pak Tino Sidin, Ya Bagus !

Timnas U23
Menang setengah hati didukung, kalah pun kadang tak menuai sanjung. Mungkin itulah kondisi yang selalu dialami timnas kita usai berlaga. Kalah harus siap jadi bahan bully massa. Sebaliknya  ketika menang jangan terlalu harap mendapat sanjungan. Pasti ada saja yang menyikapinya dengan komentar-komentar melemahkan.

Jika kita mau bersyukur, kiprah timnas di ajang Sea Games 2015 mungkin lebih mendingan di banding beberapa negara kontestan. Lebih lagi mereka berlaga di tengah kisruh yang terjadi antara Menpora dan PSSI. Timnas U-23 masih bisa melangkah ke babak semi final. Meski kemudian gagal dan harus puas menduduki peringkat empat cabang sepakbola.

Sempat terseok di laga perdana oleh Myanmar, tapi perlahan bangkit di pertandingan berikutnya. Kamboja, Filipina, bahkan timnas tuan rumah Singapura pun sanggup mereka taklukkan, sekaligus mengantar mereka di ajang semi final. Sayang, di babak semi final mereka harus mengakui superior Thailand. Lebih apes lagi di perebutan medali perunggu, timnas kita harus pula mengakui kedigdayaan Vietnam.

Di jaman internet seperti sekarang ini semua orang bisa berkomentar sebebasnya. Lebih lagi dalam hal urusan bola kadang lidah komentator seakan mengungguli laju kecepatan striker timnas kita. Komentar yang seharusnya menjadi salah satu dukungan pada timnas kita, justru kadang berubah terbalik. Menang kalah sama saja, enggak ada benarnya.

Lihat saja ketika timnas dibantai Myanmar. Seketika kotak komentar situs-situs bola dan sosial media menjadi ajang caci maki penikmat bola. Anehnya, ketika timnas U-23 menang, ada pula yang beranggapan jika timnas menang hanya sebab keberuntungan.

Jaman sekarang nyinyir dan bully sudah menjadi semacam kebutuhan. Sebaliknya nilai sebuah apresiasi menjadi sesuatu hal yang mahal untuk diberikan. Seolah semua komentator dadakan lupa jika timnas kita telah berjuang semampu mereka.

Pujian memang bukanlah sesuatu yang kita cari dari sebuah karya. Namun sebentuk apresiasi itu juga perlu bagi sebuah karya agar lebih termotivasi. Menghargai sebuah perjuangan mungkin jauh lebih bijaksana ketimbang menghujat hasil sebuah karya. Sebab, ketika kita mejadi pelaku karya belum tentu kita juga mampu berbuat seperti mereka.

Ah, jika dirasa komentar nyinyir sekarang sudah menjajah di setiap sendi dunia maya. Tak hanya urusan bola, tapi juga karya anak-anak bangsa lainnya. Dalihnya sih kritikan, tapi jelas-jelas itu hanya komentar melemahkan. Jangankan pelatih atau pemain bola. Presidennya sendiri saja dilecehkan seakan tak pernah melakukan apa-apa.

Mungkin saja kita perlu belajar lagi pada sosok Tino Sidin. Seorang anak bangsa yang tak pelit memberi pujian pada setiap karya. Tentang bagaimana menghargai arti  perjuangan dari ahli karya. Bagi dia salah atau kalah  halal hukumnya untuk seseorang yang sedang belajar berkarya. Tiada yang buruk, bego, tolol, bodoh atau bahkan goblok, Yang ada  semua karya itu.. Ya Bagus !

gambar : kepakgaruda.wordpress.com